
tuan hendri memberikan kotak berwarna merah kepada keenan
keenan tersenyum ketika melihat kotak itu dia lega akhirnya cincin yang kiara inginkan selesai sebelum acara pernikahannya
setelah menyelesaikan sisa pembayarannya keenan dan kiara bergegas pergi meninggalkan toko perhiasan tersebut karena waktu sudah menunjukan pukul 9 malam dan mall pun akan segera tutup
kiara hanya menatap keenan heran
kiara sama sekali tidak berpikir bahwa kotak berwarna merah itu adalah cincin pernikahannya untuk mereka
mereka masuk ke dalam mobil mewah milik keenan
keenan pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi
keenan tidak tega melihat kiara yang sudah kelelahan seharian ini
"mas sebenarnya itu kotak isinya apa dan untuk siapa?" tanya kiara penasaran
"nanti juga kamu akan tahu sayang" jawab keenan lembut
kiara hanya mendengus mendengar jawaban keenan
kiara mulai mengerucutkan bibirnya karena merasa ada yang di sembunyikan oleh keenan darinya
"baru juga mau menikah sudah main rahasia-rahasiaan" batin kiara
keenan dan kiara pun sampai di halaman rumah keluarga kiara
saat kiara hendak membuka pintu keenan menahan tangan kiara agar tidak keluar dari mobil miliknya
"ada apa?" tanya kiara ketus
"surprise" keenan memperlihatkan kotak berisi cincin pernikahannya dengan kiara
kiara membulatkan matanya kaget ketika melihat cincin pernikahan yang dia impikan ada tepat di depan matanya saat ini
"kok bisa?" tanya kiara dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca karena terharu
"apa sih yang gak bisa di lakukan oleh seorang keenan" sahut keenan menyombongkan dirinya
"sombongnya kumat, emangnya kamu tau ukuran cincin buat aku mas?" kiara kembali bertanya
"sudah mas katakan semua yang berhubungan tentang kamu mas tau sayang" jawab keenan tersenyum nakal
"iiiiiissssshhhhhh" kiara berdesis sembari memukul lengan keenan
keenan tak memperdulikan pukulan dari calon istrinya
keenan senang sudah membuat kiara bahagia mulai dari hal yang paling kecil
keenan tak berhenti memandangi wajah kiara dengan senyumanya
"kamu suka sayang? sini mas bantu pakaikan" keenan menyematkan cincin berlian itu di jari manis milik kiara
"cantik sekali, makasi ya mas aku suka sekali" kiara memeluk keenan erat dengan sedikit menitikan airmata harunya
tok...
tok...
tok...
keenan dan kiara kaget tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobil keenan
keenan kaget saat melihat papi krisna yang sedang memperhatikan mereka yang masih berada di dalam mobil sambil berpelukan
"keluar kalian dan masuk ke dalam rumah" titah papi krisna tegas
__ADS_1
keenan dan kiara pun turun dari mobil dengan perasaan takut dan malu
mereka berdua memasuki rumah mewah kiara dan sudah melihat tatapan tajam papi krisna yang sudah duduk di sofa ruang tamu
"duduk jangan berdiri saja" ucap papi krisna dengan sedikit membentak
keenan dan kiara duduk berdampingan di hadapan papi krisna yang seakan ingin mengintrogasi mereka
"kalian ngapain peluk-pelukan di dalam mobil" tanya papi krisna dengan matanya yang melotot ke arah keenan
"iii...ttuuu om" keenan menghentikan ucapannya karena papi krisna memukul meja di hadapannya begitu kencang
"jangan panggil saya om panggil saya papi" ucap papi krisna tersenyum licik
keenan dan kiara menghela nafas panjang mereka pikir akan mendapatkan amukan dari papi krisna
tapi ternyata dugaan mereka salah papi krisna tidak seburuk itu
"mulai besok kalian akan di pingit jangan bertemu sampai acara pernikahan kalian berlangsung, dan mulai besok juga kalian tidak boleh pergi kemana-mana diam di rumah" ucap papi krisna tegas
"kok ada acara di pingit segala pi" sahut kiara cemberut
" tidak ada tawar menawar atau kalian mau kalau kalian tidak jadi menikah" ucap papi krisna
"setuju pi kami setuju dari pada tidak jadi menikah" sahut keenan cepat
"ya sudah kalian lanjutkan ngobrolnya awas jangan ada peluk-pelukan lagi" ucap papi krisna
calon mertua keenan pun masuk ke dalam kamarnya menyusul mami linda yang sudah sejak tadi terlelap tidur
terlihat kiara dengan wajahnya yang begitu masam dan sama sekali tidak enak di pandang
"sudah jangan cemberut begitu, nurut aja apa kata papi cuman 2 hari kan di pingitnya habis itu kita kan bisa ketemu setiap hari" ucap keenan menatap kiara lembut
kiara mengangguk
saat keenan ingin keluar rumah kiara memanggilnya
"mas tunggu, ini cincinnya masa aku yang pegang" kiara memberikan cincin pernikahannya kepada keenan karena memang seharusnya cincin itu ada pada keenan
kiara mengantar keenan sampai depan rumahnya
kiara masuk kembali ke dalam rumahnya ketika mobil keenan tidak terlihat oleh pandangannya
kiara segera memasuki kamarnya karena ingin segera beristirahat hari ini benar-benar hari yang paling melelahkan bagi kiara
tak butuh waktu lama kiara oun terlelap dan terbang ke dalam mimpinya
*
*
*
*
*
*
*
*
07:30
dddrrrtttttt.... dddrrrtttttt... ddrrrtttttt
__ADS_1
"hhmm" kiara mengangkat panggilan telfonnya dengan mata yang masih tertutup
"com hari ini lu gak kemana-mana kan? gue ke rumah lu yak" sahut viola dengan suara lentangnya di balik telfonnya
"berisik banget lu cumi, kesini aja hari ini gue di pingit gak boleh kemana-mana" ucap viola yang masih tertidur di atas ranjangnya
setelah mematikan panggilan telfon dengan sahabatnya itu kiara bergegas masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya
kiara mengguyur tubuhnya di bawah percikan air shower
setengah jam berlalu kiara keluar dari kamar mandinya dan memakai pakaian santai yang bisa dia gunakan di rumahnya
kiara mengeringkan rambutnya dengan hairdrayer
tok
tok
tok
"masuk" teriak kiara kepada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya
viola langsung masuk ke kamar kiara dengan senyuman mengembang di bibirnya
"lu kenapa senyum-senyum sendiri, stress lu" tanya kiara heran kepada viola
"kalau gue cerita lu janji yak gak bakalan ngeledekin gue" sahut viola
"tergantung" jawab kiara tersenyum licik
" ya udah gue gak jadi cerita" ucap viola
kiara menatap tajam ke arah viola seakan-akan dia akan menerkam sahabatnya itu hidup-hidup
"buruan cerita jangan bikin gue mati penasaran" umpat kiara
"gue sama bagas mulai deket sekarang" ucap viola tersenyum
"lu serius? ternyata si bagas yang dinginnya melebihi batu es itu bisa mencair juga" kiara tertawa
viola dan kiara melanjutkan pembicaraan mereka yang isinya hanya tentang bagas saja
telinga kiara merasa begitu panas mendengar viola yang terus-menerus menyebut nama bagas
"tapi lu yakin bagas belum ada pacar" tanya kiara
"dia bilang sih belum, soalnya selama ini dia sibuk kerja gak ada waktu buat nyari cewek" jawab viola
"ya syukurlah kalau dia belom ada pacar, gue gak mau lu kecewa" sahut kiara
"gue pasti cari tau lagi, gue juga gak mau mudah percaya sama bagas" ucap viola
kiara dan viola kembali membahas rencana pernikhan kiara yang akan di selenggarakan 2 hari lagi
viola masih belum percaya kalau sahabat seperjuangannya akan segera menikah
tiba-tiba airmata viola tak bisa di bendung lagi karena mengingat dia akan di tinggal menikah oleh sahabat tersayangnya
"lu nangis, kenapa?" tanya kiara heran
"ki janji yak setelah nikah lu gak bakalan ngelupain gue sama denis. gue gak bisa kalau harus jauh dari lu" viola memeluk kiara erat sembari terus beruraian airmata
kiara pun tak bisa menahan rasa sedihnya melihat sahabat yang dia sayangi menangis karena merasa akan dia tinggalkan
kiara, viola dan denis bukan sekedar sahabat mereka bertiga sudah seperti keluarga, selalu ada dalam keadaan apapun, tak pernah saling meninggalkan dalam situasi apapun
wajar saja jika viola takut untuk berada jauh dari sahabat tersayangnya itu
__ADS_1