
kiara meyakinkan viola bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan sahabatnya itu
kiara akan selalu ada ketika kedua sahabatnya sedang membutuhkan dirinya
meskipun kiara sudah berstatus seorang istri
"jangan pernah berpikir gue bakalan ninggalin elu dan denis, sampai kapanpun kita bakalan terus sama-sama, ya meskipun nanti gue gak bakalan sebebas sekarang" ucap kiara kepada viola yang tak berhenti menangis
"gue sayang banget sama elu dan denis, gue gak bisa ngebayangin kalau suatu hari nanti keenan bawa lu pergi ke negara lain" sahut viola terisak
"mikir lu jauh bener dah, gak akan keenan bawa gue jauh dari sini orang keluarganya tinggal disini semua" ucap kiara menenangkan viola
"mending sekarang kita makan aja yuk, gue belum sempet sarapan tadi. biar lu gak mewek mulu" ajak kiara menarik tangan viola keluar dari kamarnya
mereka berdua berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan di rumah kiara
mereka menyantap hidangan yang sudah di siapkan oleh bi tuti
"ki bokap nyokap lu pada kemana kok sepi?" tanya viola
"lagi pacaran kali gue juga belum ketemu sama mami papi semenjak bangun tidur" kiara terkekeh
setelah menyelesaikan makan kiara dan viola duduk di gazebo taman belakang rumah kiara
mereka membahas tentang undangan pernikahan yang akan di berikan kepada teman kampus kiara
ada sedikit keraguan di hati kiara karena dia takut terjadi masalah kalau tami mengetahui pernikahannya dengan keenan karena tami merupakan adik sepupu nindi
nindi yang sampai saat ini masih menganggu keenan
"vi menurut lu harus gak sih ngundang temen kampus kita? gue takut tami bikin kekacauan di acara pernikahan gue" tanya kiara
"tami kan gak ada hubungannya sama pernikahan lu sama keenan ngapain mesti takut" jawab viola
"tami itu ade sepupunya mantan pacar keenan, dan sampai detik ini tuh cewek masih gangguin calon suami gue, karena setau gue si nindi itu lumayan nekad orangnya, ngeri gue kalau ngebayangin dia ngamuk di acara pernikahan gue " sahut kiara bergidik
"mending lu omongin dulu sama keenan masalah ini, gue juga ikutam ngeri kalau tau kenyataannya begitu" ucap viola
kiara memutuskan untuk segera menelfon keenan
namun sayangnya keenan tak menjawab telfon dari kiara sekalipun
kiara mendengus kesal karena sejak semalam keenan tak memberi kabar padanya
dan sekarang pun kiara beberapa kali menelfon dirinya sama sekali tak di jawab oleh keenan
__ADS_1
kiara melemparkan ponselnya ke sembarang arah dan kembali mengobrol dengan viola di taman belakang rumahnya
kiara memperlihatkan wajah masamnya di hadapan viola yang sedang asik berbincang dengan bagas lewat panggilan telfon
sejenak kiara berpikir bagas bisa menelfon kiara di saat jam kerja tapi keenan sama sekali tak merespon panggilan darinya
sontak saja hal itu sangat membuat kiara semakin tersulut amarah dan berpikiran yang tidak-tidak kepada calon suaminya
tiba-tiba kiara merebut ponsel milik viola yang sedari tadi melakukan panggilan telfon dengan bagas
"bagas laki gue dimana? gue telfon gak di jawab-jawab dari tadi, kalian lagi gak sibuk kan" tanya kiara ketus di balik teluk
"kiara" bagas kaget ketika yang berbicara dengannya saat ini adalah calon istri bosnya
"bos keenan lagi meeting ki, dia di temenin sabrina sekretarisnya" sahut bagas
"kenapa gak di temenin sama elu, kenapa harus sabrina" ucap kiara yang semakin tersulut emosi
"ii.. ttuu ki, tadi bos yang meminta karena akan ada tamu datang ke kantor jadi gue yang di suruh standby di kantor" sahut bagas gugup
"awas kalau lu bohong, gue gak restuin hubungan lu sama viola" kiara mengembalikan lagi ponselnya pada viola
viola yang melihat kiara sedang tidak baik-baik saja memutuskan untuk menyudahi perbincangannya dengan bagas
viola mencoba akan menghibur suasana hati kiara yang sedang berantakan
"baiklah, nanti malam jangan lupa ya aku jemput jam 7" bagas mematikan sambungan telfonnya dengan viola
viola menghampiri kiara yang sedang bersender di tiang gazebo dengan wajah yang sedikit memucat
"ki, are you oke? muka lu kok pucet banget" tanya viola sembari menekan kening kiara dengan telapak tangannya
"ya Tuhan kiara lu demam, badan lu panas banget, masuk ke dalam yuk lu harus istirahat" viola memapah tubuh kiara ke dalam rumahnya dan memasuki kamar kiara
"kia kenapa vi?" tanya mami linda yang baru masuk dari pintu ruang tamu
"badan kiara demam tante, aku mau bawa kia ke kamarnya" jawab viola yang terus berjalan menuju kamar kiara
"bi tolong bawa air kompresan ke kamar kiara" teriak mami linda kepada bi tuti
viola merebahkan tubuh kiara di atas ranjang
tubuh kiara begitu lemas dan wajahnya terlihat sangat pucat
mami linda dan viola khawatir melihat kondisi kiara sekarang
__ADS_1
mami linda mengompres kening kiara dengan air hangat yang telah di bawa oleh bi tuti
*
*
*
*
*
sementara keenan yang baru saja menyelesaikan meetingnya melihat ke layar ponselnya banyak sekali panggilan masuk dari kiara dan ada satu panggilan dari bagas
bagas berniat untuk memberi tau keenan kalau kiara marah-marah kepada bagas karena keenan tak menjawab panggilan telfon dari kiara
keenan memutuskan untuk menelfon kiara terlebih dahulu namun sayangnya panggilannya tidak di jawab oleh kiara
"****... kiara pasti marah sama gue" batin keenan meracau
"sayang maaf mas baru selesai meeting ponselnya mas silence, kamu jangan marah ya"
setengah jam sudah keenan menunggu, kiara belum juga membalas pesan dari keenan
keenan semakin khawatir kalau kiara benar-benar marah padanya
apalagi sekarang keadaannya keenan dan kiara sedang di pingit, keenan tidak bisa menemui keenan hanya sekedar untuk minta maaf
keenan memutuskan untuk kembali ke kantornya karena akan ada tamu penting yang akan datang
meskipun sudah ada bagas yang handle tetap saja tamunya itu ingin berjumpa dengan pemilik perusahaannya sendiri
keenan sampai di kantor dan ingin memasuki ruangannya dan terlihat bagas sudah menyambutnya di depan lift
"lu ngapain tadi nelfon gue? klien kita belum datang kan?" tanya keenan tegas
"bukan masalah klien bos tadi kiara marah-marah sama gue, dia kesal karena elu gak menjawab telfon dari dia" jawab bagas berbisik kepada keenan
"kiara kesini?" tanya keenan menyidik
"engga lah, dia bicara lewat panggilan telfon" sahut bagas
ting...
pintu lift pun terbuka
__ADS_1
keenan dan bagas berjalan menuju ruangan meeting di kantornya untuk mempersiapkan pertemuannya dengan klien dari luar negri itu