
Acara tahlilan , di gelar rumah sederhana pak Hadi paman Nerin . Alhamdulillah berjalan dengan lancar.
Semua orang kini sudah mulai meninggalkan kediaman keluarga Hadi .
Kini tinggal beberapa orang saja . Yang memang tinggal di sana .
" Alhamdulillah akhirnya berjalan dengan lancar ." Nerin menghembuskan nafas lega .
Nerin duduk di atas kasur empuk , dengan selonjoran. Rasanya begitu lelah , usai membantu sang bibi dan keponakannya beberes.
Tetapi ia harus menganti pakaiannya, tidak mungkin tidur memakai pakean sedikit tebal .
Hijab yang ia kenakan sudah ia lepas , begitu pun gamis yang ia kenakan . Berganti piama legan pendek serta celana panjang.
Usai mengati pekannya , ia pun duduk kembali di atas kasur dengan menyenderkan punggungnya sembari bermain ponsel.
Namun rasa kantuk menghampirinya, jadi ia pun Mulai membaringkan tubuhnya dengan perlahan
Tidak menunggu sang Suami Nerin mulai mengarungi alam mimpi . Niat hati menunggu sang suami tetapi ia tidak bisa menahan kantuk .
...****************...
" Trimakasih nak , sudah menjaga keponakan paman dengan baik . Paman rasa sudah tidak mengkhawatirkannya . Jangan sakiti hatinya , jika sudah tidak menyukainya , tolong antarkan dengan cara baik baik . " Ucap Paman Hadi
Kedua pria itu duduk di depan teras , sembari menikmati Kopi hitam kapal api buatan Nerin.
__ADS_1
" sudah tugas ku paman menjaga Nerin dengan baik . " Jawab Erlangga mantap.
keduanya pun mengobrol selama Satu jam , hingga paman Hadi lah yang menghentikan obrolan tersebut . Karena sudah tidak tahan , menahan kantuk.
Deni pria itu sudah masuk kedalam kamar tamu bersama Hasan . Deni dia belum tidur saat ini dia sedang bekerja , dan mengobrol dengan Aldi .
Sedangkan Hasan dia sudah memejamkan matanya sedari setelah jam yang lalu .
"Kau beri peringatan apa kepada si Tua Rano itu ? tanya Deni , saat sambungan telefon sudah terhubung dengan Aldi
" untuk mengembalikan uang yang dia ambil saja . Dengan jangka waktu singkat . Besok siang . " Kata Aldi di ujung sambungan telefon dengan nada santai .
Nampaknya Aldi pun sedang bekerja , di temani Kopi hitam buatan sang adik .
Sedangkan neneknya masih di rumah sakit . Aldi sendiri tidak merasa menghawatirkan sang Nenek , karena Ruangan itu sudah di pasang cctv dan juga alat pelacak di bagian tubuh sang nenek .
" Hem , kenapa kau beri ruang bernafas. " Kata Deni , ia menarik ujung bibirnya menjadi sebuah lengkungan.
" hanya 24 jam saja Den !" Aldi menekan kata katanya
" jika Tuan tau , tidak ada ruang bernafas bagi orang seperti Si Tua Rano ." kata Deni , kembali menarik bibinya tipis
" hemm, kau juga Seperti itu ." kata Aldi enteng
" ya ya . sudah lah aku tutup . " kata Deni mengakhiri obrolan
__ADS_1
" hemm." jawab Aldi
Sambungan telefon itu terputus , kini keheningan kembali melanda . Hanya suara jarum jam yang berdetak .
Sementara itu
Usai mengobrol sebentar bersama Paman Hadi , Erlangga tidak langsung masuk ke dalam kamar . Dia masuk ke kamar mandi mengosok gigi , mencuci tangan dan kakinya .
Caca yang akan masuk kedalam kamar mandi terperanjat , Namun Erlangga menanggapi dengan tersenyum tipis dan sedikit menundukkan badannya .
Tak mengeluarkan satu kata pun dari bibirnya .
Caca mematung , melihat senyum itu . Ingin sekali membelai wajah yang begitu tampan , tanpa cacat sedikit pun .
" ohh , ya ampun . Tampan sekali ." batin Caca kagum akan sosok Erlangga yang seperti pangeran.
...****************...
Setelah masuk kedalam kamar Erlangga mengembangkan senyum lebar , melihat tingkah laku istrinya yang sudah tidur . Bak kucing kecil yang terlihat sangat imut .
Erlangga menganti pakeanya dengan kaos oblong dan Juga memakai celana pendek . Yang sudah di siapkan oleh Nerin sebelum dia tidur.
Barulah ia , naik ke atas kasur . merengkuh tubuh istrinya agar memeluk dirinya . Namun , manik matanya tak bisa terpejam . Jadi ia pun mengambil ponselnya membuka email Mulai bekerja.
Hingga pukul 23.10 menit Erlangga masih terjaga .
__ADS_1
Namun , detik berikutnya dia tersenyum tipis . Biarkan saja , toh selama ini Aldi bisa menanganinya dengan baik .