Suamiku Seorang Presdir

Suamiku Seorang Presdir
part 73


__ADS_3

Karyawan wanita masih saja bingung apa yang telah terjadi


Namun Kebingungan semua karyawan melihat bagaimana reaksi serta ucapan yang terlontar dari bibir Nerin , terjawab sudah setelah Aldi sang sekretaris telah menjelaskan semuanya


Semuanya terkejut , yang lebih terkejut ialah karyawan wanita yang sangat mengidolakan Tuan Presdir mereka


Deni langsung ngacir menuju lobby dimana Tuannya berada , setelah mendapat perintah dari Nonanya


Setelah sampai lobby , melihat Aldi yang sedang memberi peringatan tegas para karyawan pun bergegas menghampirinya dia pun bertanya apa yang telah terjadi


" Al apa yang telah terjadi , dimana Tuan "tanya Deni ia mencari sosok Erlangga yang tak nampak


Kedua bola matanya menelisik semua arah , namun tak terlihat


" Tuan berada di dalam ruang tunggu" kata Aldi menujuk arah pintu yang tertutup


keduanya pun masuk untuk memastikan sang Tuan muda baik baik saja atau tidak


"apa yang telah terjadi Nona , kenapa bisa Tuan seperti ini ? tanya Deni tanpa basa-basi setelah ia mendekati Tubuh tuannya yang berada di sofa , sedang Nerin di bibir Sofa


Deni langsung panik saat itu , ia tak tau apa yang telah terjadi setelah berpisah dengan Erlangga di kantin , ia pergi ke ruang kerjanya


" aku tidak tau Deni , tiba tiba saja pingsan "


Deni tidak tau lagi harus mengatakan apa , Deni menghembuskan napasnya kasar pria itu mengusap wajahnya kasar sedikit emosi , namun ia tahan


Sungguh perasaan Deni sangat dongkol , kenapa bisa seperti ini yang di dalam otaknya ia bisa menebak jika Tuannya itu pasti kelaparan


" pasti karena tuan telat makan nona , dan obat pun belum ia minum , kalo begitu aku pergi dulu Nona untuk membeli makanan " kata Deni ia pun bergegas keluar sebelum itu ia mengatakan kepada sesuatu ke Aldi


Nerin hanya mengangguk lemah * kasian sekali kamu Ar " batin Nerin mengelus rambut Suaminya dengan sayang


Deni keluar dari ruang tunggu itu , menuju lestoran yang berada di sebrang . Rasa kesalnya pun masih saja di dalam hatinya , pria itu tak menghiraukan sapaan dari para karyawan


*kasian Tuan " batin Deni dengan wajah Datar


Nerin berusaha membangunkan Erlangga dari pingsannya itu " bangun mas " bisik Nerin di telinga Erlangga yang masih betah memejamkan matan


Nerin merasa bersalah , gadis itu terisak di samping Erlangga yang terbaring di atas sofa


Dia mengelus pipi suaminya dengan sayang

__ADS_1


Rasa bersalah masuk kedalam dirinyanya menyesal tentu sangat sangat menyesal


Tau kondisi sang suami yang belum setabil dengan egonya mengabaikan, dan bersikap berlebihan mengakibatkan sang suami bertambah sakit


Walaupun sudah di baluri dengan minyak kayu putih hidung serta perutnya , namun nampaknya pria itu tak kunjung siuman


Nerin semakin panik gelisah tak henti hentinya ia mengguncang kedua pipi Erlangga , mengelus menepuk tubuhnya dengan pelan Namun rasanya sia sia


Aldi langsung menghubungi Revan


Beberapa saat kemudina Revan pun datang bersamaan dengan Deni yang kembali membawa bungkusan makan untuk tuanya


Revan langsung menuju Erlangga yang terbaring , Nerin mempersilahkan Revan untuk memeriksa Suaminya


Dia sedikit menjauh , buliran bening yang keluar dari ke dua bola matanya pun tak henti hentinya


" Den bagaimana ini , aku tidak mau Ar kenapa Napa " ucap Nerin terbata bata dan terdengar sangat lemah akibat menahan tangis


Gadis itu mondar mandir ia menggigit jari telunjuknya , untuk menghilangkan rasa gelisahnya


Jari Erlangga yang akan di pegang Revan , mendadak bergerak . Dengan perlahan kedua bola mata Erlangga terbuka , mendengar suara iksak tangis membuat Erlangga mengendarakan pandangannya mencari sosok itu , sosok yang sangat di kenal


Revan mengembangkan senyum saat Erlangga mulai siuman " Syukur lah Tuan sadar " Kata Revan


Dan ia pun menyambar tisu yang berada di meja dengan sangat tergesa gesa , kemudian ia menyeka bekas Air mata itu agar tak terlihat oleh suaminya jika ia menangis


Namun seseguan Nerin masih terdengar jelas oleh Erlangga , dia menatap wajah sang istri yang masih sembab


" kemarilah , kenapa me..." terpotong sebab Nerin membawa Erlangga ke dalam pelukannya tanpa menghiraukan ada beberapa orang disana


semua orang tersenyum kecut dan membuang muka


" sudah sayang aku tidak pa pa "


" diam dan jangan katakan lagi " kata Nerin setelah melepas pelukannya itu " mengelus pipi Erlangga dengan sayang , wajah yang masih terlihat pucat " maaf ya mas , sekarang kamu makan setelah ini minum obat . lebih baik pulang saja ya bisa istirahat dengan nyaman " kata Nerin berurutan


Revan serta Deni saling melirik dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal


Sungguh pemandangan yang sangat sangat ia tak ingin di lihat


Erlangga mengganguk lemah , perhatian sang istri membuatnya sangat berbunga bunga , namun pikirkannya hanya tertuju kenapa sang istri sangat marah

__ADS_1


Dering telepon dari saku jasnya Erlangga menghentikan aktivitas Nerin yang sedang menyuapi Erlangga


Erlangga merogoh saku jasnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya


" assalamualaikum Deddy "


" apa keadaan mu sudah membaik " kata tuan Lawrence


" iya Ded "


" ah ya syukur lah "


Setelah sambungan telepon terputus Erlangga meletakkan ponselnya di atas nakas


Nerin memperhatikan setiap bergerakan suaminya dan ucapan nada khawatir dari mertuanya membuatnya sedikit bersalah


Lagi lagi ia memeluk Erlangga dengan sangat erat , air matanya kini tak bisa ia tahan lagi


" maafkan aku Ar , aku membuat mu sakit "


" tidak masalah sayang , jika aku sakit kamu akan mendekat , dan bisa di manja oleh mu . bisa peluk kami dengan sangat puas " Erlangga mengbangkan senyum cerah


" huh dasar "pipi Nerin bersemu merah , mendengar ucapan suaminya itu


Sementara ketiga pria lajang itu saling melirik satu sama lain , dan tersenyum geli dengan tingkah Tuanya itu


* oh tuhan , aku mimpi apa semalam . bisa melihat adegan seperti ini " batin ketiganya


Ketiga pria itu bisa di bilang jomblo akut , Karena hanya di otaknya pekerjaan


Tiba tiba Nerin berkata yang tak pernah Erlangga bayangkan Trimakasih kasih telah memilih aku , kamu bahkan tidak malu saat berjalan dengan ku . saat di kantin kau medekati ku dengan sangat berani , dan tak malu sedik pun "


Erlangga hanya diam mendengarkan ucapan sang istri ia membalas pelukannya , sebelum akhirnya ia pun berkata " kenapa meski malu sayang , aku yang memilih mu , hatiku yang telah memilih mu . aku bersyukur bisa bertemu dengan kamu "


" ah kenapa jadi Melau begini sih , ayo cepat habiskan makannan mu " kata Nerin melerai pelukannya


Nerin tepuk jidat saat menyadari ,bukan hanya ada dirinya dan sang suami


" eh maaf semuanya ..Kata Nerin terpotong


" Den pekerjaan ku kau yang urus , aku akan pulang . jika ada sesuatu kau kabari saja " kata Erlangga dan di anggugi Deni dan jawaban " baik " setelah itu Deni pun kembali menuju ruang kerjanya sungguh ia tak tahan berdiri lama lama melihat adegan itu

__ADS_1


"aku pamit Tuan , banyak banyak lah istilah Tuan . kondisi tuan saat ini benar-benar lemah . dan satu lagi tuan ada yang tidak beres di sekitar kantor . berhati hatilah Tuan . aku sempat melihat nya tadi " pamit Revan


__ADS_2