
Wajah keriput dari wanita paruh baya itu tersenyum puas . Ketika mendengar kabar jika seseorang yang telah ia perintahkan untuk mencelai seorang pemuda berhasil . Hingga kondisinya koma
Walaupun penjagaan ketat , tetapi cukup cerdik untuk mengetahui kondisi pemuda itu .
" Apa rencana selanjutnya Nyonya ? " tanya asisten putranya dia juga nampak sangat gembira setelah menceritakan apa yang telah terjadi dengan Tuan mudanya
" kau akan mengetahuinya nanti . Oh iya kau sudah mengetahui dimana Putraku di sembunyikan ? tanya nyonya Winda
" Belum nyonya ."asisten Itu menggeleng lalu ia melanjutkan ucapannya. " saya masih berusaha keras . sampai Tuan di temukan ." asisten itu berkata sangat yakin
" hufff ." nyonya Winda menghembuskan nafas kasar . " kau keluar lah !" kata Nyonya Winda
" Baik nyonya ! saya permisi ." asisten itu keluar dari ruang kerja nyonya Winda
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nerin duduk meringkuk di sofa dekat dengan ranjang Rian kedua manik matanya ia tahan agar tak mengantuk tetapi tetap saja ia tak mampu menahannya hingga tak terasa Manik matanya tertutup dengan sempurna .
Erlangga masuk kedalam ruang Rawat Rian , melihat istrinya yang tidur di posisi duduk pun segera menghampirinya .
" Jam segini dia sudah tidur ." Erlangga berbicara sendiri serta geleng gepala . padahal di sana juga ada sofa panjang , kenapa memilih sofa yang kecil .
Posisi itu terlihat sangat tidak nyaman . Jika di biarkan tubuhnya pasti akan sakit .
__ADS_1
Tubuh istrinya ia angkat , keluar dari Ruang rawat Rian menuju besmen rumah sakit .
Tak lupa ia memerintah beberapa bodyguard untuk berjaga di luar ruangan atau pun di dalam ruangan
lima orang di dalam ruang dan Lima orang lagi di luar ruangan .
Erlangga menepatkan 20 orang bodyguard untuk berjaga 10 orang istirahat beberapa jam saja , dan 10 lagi berjaga . Jika tidak seperti itu , para bodyguard pasti akan kelelahan.
Beberapa orang mengikutinya dari belakang untuk penjagan dirinya .
Setelah posisi istrinya terlihat nyaman ia menutup pintunya , kemudian ia menuju jok kemudi .
Mobil Erlangga melaju dengan kecepatan sedang , menuju Mansion .
Setelah mematikan mesin mobilnya , Erlangga segera membuka pintu mobil . Namun pesan masuk dari ponselnya membuat ia mengurungkan niatnya . Beralih melihat ponselnya terlebih dahulu .
Erlangga membalas pesan itu dengan berkata " biarkan dia hidup ,aku akan menuminya besok ." dan di balas singkat dari seorang yang berada di sana . " baik Tuan , laksanakan ! . jawab tegas dari si pengirim pesan
" bagus ." kata Erlangga lagi ia pun segera memasukkan ponselnya kedalam saku celana dan kelur dari mobilnya menuju arah dimana istrinya yang masih tertidur pulas disana .
Nerin sama sekali tak terusik ketika tubuhnya di angkat oleh suaminya , ia mempererat pegangannya di tubuh suaminya dan memeluk mencari kenyamanan di dada bidang suaminya .
Erlangga benar benar di buat geli , dengan tingkah laku istrinya . Tetapi ia senang sepertinya istrinya itu sangat nyaman jika bersamanya
__ADS_1
Sampai di Kamar utama , Erlangga merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan mbuka hijabnya dan membuka sepatu juga membuka blaser yang di kenakan istrinya .
" Huff ." Erlangga mengembuskan napas panjang . " Sama sekali tak terusik , heh gemesin banget sih kamu sayang ." Erlangga meninggalkan jejak sayang di bagian kedua pipi dan kening istrinya .
Dia pun beranjak menuju kamar mandi membawa pakaian istrinya dan menaruhnya di keranjang tempat kotor . Ia pun segera membuka pakaian meliknya yang melekat pada tubuhnya .
Guyuran air hangat yang keluar dari shower membuat tubuhnya terasa segar kembali .
15 melit kemudian Erlangga keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang ia lihat kan di perutnya .
Erlangga segera masuk ke ruang ganti , mengambil satu stel baju tidur warna coklat polos
Melihat istrinya masih saja terpejam dia pun mengambil handuk kecil lalu ia basahi , untuk menyeka bagian yang terlihat saja . Dari wajah punggung tangan dan juga telapak kaki .
Tak lupa ia Menganti pakaian istrinya agar tidurnya lebih nyaman .
" apakah senyaman itu , kenapa tak terusik sedikit pun . " Erlangga berkata sendiri Mengamati wajah istrinya sangat imut dan cantik tanpa riasan .
Erlangga beranjak menuju kamar mandi meletakkan handuk kecil itu ketempat semula , setelah mencucinya .
Erlangga tak langsung tidur dia mengambil ponsel dan juga leptopnya , ia membuka beberapa email yang di kirimkan oleh dua sekertaris di dalam leptopnya .
Mengirim pesan ke Bima untuk membuatkan satu cangkir kopi . Padahal sudah larut malam , jam menujukan 22.45 malam . Tetapi rasa ngantuk seakan tak menghampirinya.
__ADS_1
Terimakasih yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak , agar Author semangat update nya
Bersambung