
Part 54
Murka itu lah yang sedang Erlangga rasakan , pria itu bener bener bener emosi . bahkan naik level tertinggi . suhu di ruangan itu tiba-tiba menjadi dingin
ke lima orang di sana merasa Merinding , tiba tiba terasa seperti di kutub Utara , bulu kuduk seakan berdiri .
Tak ada satu orang pun yang bergerak atau pun bersuara . lidahnya kelu untuk membuka mulutnya itu , seperti ada lakban di bibirnya
Tubuh semua orang di ruang itu gemetar . Rasa taku kian menjadi ,orang orang di sekitarnya mendadak bergedik , seperti ada mahluk halus yang mengintai . jiwa iblis seakan akan mulai muncul .
Erlangga menahan dirinya untuk tetap tenang , seketika Erlangga berdiri tegak . Dia menyerahkan ponsel sang Deddy ke Deni sang Asisten sekaligus sekertarisnya dia berkata dengan sang tegas penuh tekanan
" lacak nomor itu! serahkan setelah kau mengetahuinya . aku tunggu 10 menit ! " ucapan Erlangga sangat tajam
Kilauan mata tajamnya semakin mengkilat , itu tandanya pria itu tidak bisa merendam emosinya
Deni langsung menjalankan perintah sang Tuan mudanya tanpa membantah
Walau dalam hati mengerutu serta mencaci maki sang Bosnya . Dia nampak sangat lelah , akibat harus mengurus semua pekerjaan yang kian bertambah . untuk saja ia sempat melahap makanan , jika tidak mungkin sudah tumbang .
Tetap saja ia tak bisa menolak karena memang itu lah pekerjaannya
" paman aku akan ke kamar , beritahu aku jika Deddy sudah sadar "
Erlangga berucap tanpa melihat orang itu , dia berjalan keluar menuju kamar miliknya
__ADS_1
Tampa mendengar jawaban dari asisten Sang Deddy
Semua orang bernafas lega setelah Erlangga keluar dari ruangan sang Deddy
Perut yang sedari tadi siang belum di isi mengabitkan cacing yang berada di dalamnya berdemo
" ah sialll " Erlangga kesal memaki dirinya
Tiba tiba ia teringat akan kabar sang istri , dia sama sekali tak mengingatnya
* kenapa aku sebodoh ini " Erlangga kesal
Dengan cepat dia merogoh ponsel yang berada di saku celana mengeluarkan benda itu .
Kemudian ia memencet Nomor yang tertera Istri kecil ku
Pria itu menggrutu kesel , kenapa setiap dia menghubungi sang istri slalu tak di jawab
Erlangga melanjutkan langkahnya lagi dia melihat maid yang sedang mengepel lantai
" kau ! kemari !Erlangga menujuk maid yang tak jauh darinya
Maid itu pun mendekat degan tubuh yang bergetar serta rasa takut sudah mulai menghampirinya . Dia merasa takut jika dirinya menjadi pelampiasan amarahnya
" i.iya Tuan muda " maid itu menjawab dengan terbata bata serta menunduk
__ADS_1
" printahkan kepala pelayan untuk menghidangkan makanan untuk ku " ucapan Erlangga sangat tegas nan dingin
Setelah mengatakan itu Erlangga bergegas menuju kamar miliknya , tanpa menunggu jawaban dari maid itu
.
.
Di mansion milik Erlangga
gadis yang baru pulang dari perusahaan itu pun langsung saja melemparkan tubuhnya itu di kursi yang begitu empuk di ruang utama sembari memejamkan matanya
Rasanya lelah begitu menyebar pada tubuhnya
" Nona biar saya bantu " ucapan itu sontak membuat Nerin membuka kedua bola matanya dengan perlahan
Nerin mengangguk setuju , tenaganya saat ini terkuras abis . untuk berdiri saja seakan tak mampu
Ana selaku maid disana membatu memapah Nerin menuju kamar utama
namun saat ia memencet lift tersebut Ia mengurungkan niatnya . untuk ikut masuk
" nona , biar saya naik tangga " Ana berucap dengan sangat pelan
" ayo masuk , antarkan aku kekamar " ucap Nerin dengan suara lemah
__ADS_1
belum lagi pikirnya saat itu tertuju ke pada sang suami yang belum memberi kabar