Suamiku Seorang Presdir

Suamiku Seorang Presdir
Part 54


__ADS_3

Part 54


Murka itu lah yang sedang Erlangga rasakan , pria itu bener bener bener emosi . bahkan naik level tertinggi . suhu di ruangan itu tiba-tiba menjadi dingin


ke lima orang di sana merasa Merinding , tiba tiba terasa seperti di kutub Utara , bulu kuduk seakan berdiri .


Tak ada satu orang pun yang bergerak atau pun bersuara . lidahnya kelu untuk membuka mulutnya itu , seperti ada lakban di bibirnya


Tubuh semua orang di ruang itu gemetar . Rasa taku kian menjadi ,orang orang di sekitarnya mendadak bergedik , seperti ada mahluk halus yang mengintai . jiwa iblis seakan akan mulai muncul .


Erlangga menahan dirinya untuk tetap tenang , seketika Erlangga berdiri tegak . Dia menyerahkan ponsel sang Deddy ke Deni sang Asisten sekaligus sekertarisnya dia berkata dengan sang tegas penuh tekanan


" lacak nomor itu! serahkan setelah kau mengetahuinya . aku tunggu 10 menit ! " ucapan Erlangga sangat tajam


Kilauan mata tajamnya semakin mengkilat , itu tandanya pria itu tidak bisa merendam emosinya


Deni langsung menjalankan perintah sang Tuan mudanya tanpa membantah


Walau dalam hati mengerutu serta mencaci maki sang Bosnya . Dia nampak sangat lelah , akibat harus mengurus semua pekerjaan yang kian bertambah . untuk saja ia sempat melahap makanan , jika tidak mungkin sudah tumbang .


Tetap saja ia tak bisa menolak karena memang itu lah pekerjaannya


" paman aku akan ke kamar , beritahu aku jika Deddy sudah sadar "


Erlangga berucap tanpa melihat orang itu , dia berjalan keluar menuju kamar miliknya

__ADS_1


Tampa mendengar jawaban dari asisten Sang Deddy


Semua orang bernafas lega setelah Erlangga keluar dari ruangan sang Deddy


Perut yang sedari tadi siang belum di isi mengabitkan cacing yang berada di dalamnya berdemo


" ah sialll " Erlangga kesal memaki dirinya


Tiba tiba ia teringat akan kabar sang istri , dia sama sekali tak mengingatnya


* kenapa aku sebodoh ini " Erlangga kesal


Dengan cepat dia merogoh ponsel yang berada di saku celana mengeluarkan benda itu .


Kemudian ia memencet Nomor yang tertera Istri kecil ku


Pria itu menggrutu kesel , kenapa setiap dia menghubungi sang istri slalu tak di jawab


Erlangga melanjutkan langkahnya lagi dia melihat maid yang sedang mengepel lantai


" kau ! kemari !Erlangga menujuk maid yang tak jauh darinya


Maid itu pun mendekat degan tubuh yang bergetar serta rasa takut sudah mulai menghampirinya . Dia merasa takut jika dirinya menjadi pelampiasan amarahnya


" i.iya Tuan muda " maid itu menjawab dengan terbata bata serta menunduk

__ADS_1


" printahkan kepala pelayan untuk menghidangkan makanan untuk ku " ucapan Erlangga sangat tegas nan dingin


Setelah mengatakan itu Erlangga bergegas menuju kamar miliknya , tanpa menunggu jawaban dari maid itu


.


.


Di mansion milik Erlangga


gadis yang baru pulang dari perusahaan itu pun langsung saja melemparkan tubuhnya itu di kursi yang begitu empuk di ruang utama sembari memejamkan matanya


Rasanya lelah begitu menyebar pada tubuhnya


" Nona biar saya bantu " ucapan itu sontak membuat Nerin membuka kedua bola matanya dengan perlahan


Nerin mengangguk setuju , tenaganya saat ini terkuras abis . untuk berdiri saja seakan tak mampu


Ana selaku maid disana membatu memapah Nerin menuju kamar utama


namun saat ia memencet lift tersebut Ia mengurungkan niatnya . untuk ikut masuk


" nona , biar saya naik tangga " Ana berucap dengan sangat pelan


" ayo masuk , antarkan aku kekamar " ucap Nerin dengan suara lemah

__ADS_1


belum lagi pikirnya saat itu tertuju ke pada sang suami yang belum memberi kabar


__ADS_2