
Perpisahan yang menyakitkan
Nerin tersenyum ketika sang suami memanggilnya dengan sebutan sayang tanpa rasa canggung sedikit pun . hanya saja reaksinya terlihat sangat terkejut
" Mas ," kata Nerin Lirih ia mengusap tengkuknya , sembari nyengir .
Masker yang sedang di pakai , langsung saja Ia lepas . Menghindar pun sudah tidak bisa lagi .
" Apa yang sedang kamu lakukan di sini mas ? tanya Nerin
" Aku menjenguk dia sebentar sayang ," Jawab Erlangga tulus , walau pun dalam hati tidak karuan dag dig dug tentu saja , takut jika sang istri akan marah .
" Oh , Jadi ini mantan pacar kamu mas ? kenapa gak bilang sama aku jika kamu mau kesini ? " Nerin menatap manik mata Sang suami manik matanya mulai berkaca kaca .
" Maaf sayang , aku tidak mau kamu salah faham . Kamu tau dari mana dia mantan pacar mas ? "
" emm, Itu tidak penting . Hanya saja . ." Kata Nerin , merogoh tas kecilnya mengelurkan ponselnya . Lalu membuka hasil tangkapan layar beberapa waktu lalu sebelum pesan wa itu telah di hapus oleh sang pemilik nomor .
" Lihat lah mas , Hubungi juga nomor itu ." Nerin menyodorkan ponselnya , Erlangga menerima ponsel sang istri dengan ragu ragu .
Ada kepanikan tergambar jelas dari wajah wanita yang sedang mengusui bayinya . Namun ia , yakin jika rencananya akan berjalan dengan lancar .
" Ini semua , tidak benar sayang . Aku bisa jelaskan semua ." kata Erlangga membela dirinya
" bagaimana ya mas , aku sedang tidak baik baik saja saat ini . " Kata Nerin menghembuskan nafas panjang .
Nerin melirik sekilas , Wanita itu sedang tersenyum penuh kemenangan .
" sayang percayalah ." Cegah Erlangga menghentikan laju langkah Istrinya
Nerin beci dengan situasi saat ini , penuh drama menurutnya . Dia merasa sangat muak . Nerin melepas paksa , lengan tangannya yang di pegang erat suaminya .
Erlangga tidak tinggal diam , setelah mengirimkan pesan singkat ke Asisten Aldi .
Setelah itu , ia berlari mulai mencari istrinya , wajah paniknya tergambar jelas dari wajah tampanya .
Sesaat kemudian , ia tersenyum cerah dari wajah dingin pria tampan tersebut , ketika melihat tubuh sang istri sedang menatap bunga bunga di taman rumah sakit .
" Jika bayi itu , adalah anak kamu . Aku rela melepaskan mu . Walaupun aku tidak mampu ." ucap Nerin tiba tiba saat tubuhnya di dekap erat oleh seseorang dengan tiba tiba .
__ADS_1
Nerin jelas tahu betul siapa yang berani meneluk dirinya , apa lagi bau pramfumnya itu sangat tidak asing . Tubuh yang selalu di rindukan setiap waktu .
" Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita sayang . Bayi itu bukan darah daging ku . Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku . Kamu tau sayang , banyaknya orang ingin memisahkan kita . Jadi hadapi dengan hati tenang . " Bisik Erlangga tepat di telingga istrinya .
Tubuh sang istri sedikit bergetar , dalam hatinya sudah pasti ia sedang tertekan .
Otak kecilnya tidak bisa berfikir dengan benar , mempercayai ucapan sang suami . Atau mempercayai semua bukti yang terlihat
Erlangga memutar tubuh sang istri , Lalu berkata " malam nanti , kita akan terbang ke singapura . " Erlangga mengalihkan topik pembicaraan .
Nerin mengelengkan kepalanya , " Aku tidak ingin ikut kamu . Mengenai Rian . Tolong beritau dia ..." Nerin tidak bisa melanjutkan ucapanya . Dia berjongkok menutupi wajah ayunya yang telah berlinang air mata .
Melihat sang istri menangis , sungguh hatinya begitu sakit ." sayang , jangan seperti ini . "
Nerin tidak merespon , setelah menghapus air matanya dengan kedua pungung tanganya . Dia pun berlari meninggalkan sang suami yang berdiri bak seperti patung .
Nerin masuk ke dalam mobil yang di kendarai Hasan . Kembali ke Mansion .
Sampai di Mansion Nerin bergegas masuk ke dalam , menuju Kamar .
Tanpa menyapa para pelayan di sana , Begitu pula dengan paman Bima sebagai kepala pelayan .
Dering telfon dari saku celana Bima , membuatnya segera mengeluarkannya .
" Asalamua'alaikum Bim , apa istriku sudah di rumah ? " Tanya Erlangga , nada bicaranya terdengar sangat panik .
" Baru saja Nona kembali . Tetapi sikap Nona sedikit aneh Tuan , biasanya Nona menyapa kami . " kata Bima apa adanya .
Erlangga menghembuskan nafas panjang , itu terdengar oleh Bima .
" Jaga Istriku dengan baik . Oh iya , hidangkan makan siang untuknya . " Kata Erlangga mengahiri obrolan sambungan telfonya
Sepasang mata melihat semua kejaadian dari awal tersenyum licik .
" Ini saatnya ." Batinnya Tersenyum .
Setelah itu pun dia pun pergi membawa senyum cerah di wajahnya .
Di dalam kamar
__ADS_1
Nerin menangis sejadi jadinya di dalam kamar mandi .
" Dua kali aku tersakiti , Tapi mengapa ini yang lebih menyakitkan . Mas aku benci kamu . Apakah aku harus pergi seperi dulu , agar aku bisa melupakan semuanya . Tapi rian bagaimana . " Saat ini Nerin begitu bimbang , ingin pergi tapi Sang Adik sedang sakit .
Sedangkan ia tidak mempunyai uang untuk membiayai semua pengobatannya . Apakah harus bertahan demi sang Adik , Mengorbankan hatinya , mengorbankan perasaanya juga dirinya .
Setelah merasa tenang , Nerin pun mengguyur tubuhnya mengunakan air hangat .
tok tok tok
Nerin yang baru saja kelur dari kamar mandi langsung menghampiri pintu .
" Iya paman ,Ada apa ? tanya Nerin ramah , sembari mengembangkan senyum kecil .
" Nona , hidangan makan siang sudah siap . " kata Bima
" oh , Aku turun nanti . Kirim juga makan siang untuk suamiku paman . " ucap Nerin
" Baik Nona ." Jawab Bima
Untung saja sempat membawa pakean ganti .
...****************...
Tepat pukul 17 .10 Erlangga sampai di Mansion .
Bima langsung menyambut tuan mudanya , dan mengatakan jika Nona muda berada di taman belakang .
Setelah mengetahui sang istri berada di mana , Erlangga bergegas ke taman belakang .
" Jika benar bayi itu bayi kamu . Aku ingin kita pisah mas . Aku tidak ingin di duakan ." kata Nerin saat sang suami berada di depannya
Erlangga mendengar ucapan sang istri mengeleng cepat ," siapa yang akan menduakan kamu sayang . kamu satu satunya istriku , tidak akan tergantikan .Aku tidak perduli jika itu bayi ku . " ucap Erlangga tegas , kali ini ucapanya sangat berbeda tidak seperti sebelumnya .
" kamu kejam mas , jika itu di posisi ku . Apakah mas akan mencampakan aku dan bayiku . "
" bukan itu maksudku . Sayang . Dengarkan aku . Aku cukup memberikan dia uang . "
Tetap saja Nerin mengeleng , " sudah cukup . " dalam hati .
__ADS_1
Bersambung