Suamiku Seorang Presdir

Suamiku Seorang Presdir
part 57 tahap review


__ADS_3

Hari ini hari kepulangan Erlangga ke Indonesia , bersama dengan


Tuan besar Ary Gunadarma Lawrence yang tak lain Deddy Erlangga .


Pria paruh baya itu bersih keras ingin melihat langsung Nerin menantunya


Dia sangat penasaran penampilan seperti apa , dari cerita sang putra yang mengatakan sikapnya yang persis seperti mendiang sang istri . itu membuat pria paruh baya itu sangat bersemangat , ingin segera bertemu .


" Deddy , yakin " tanya Erlangga panik , takut kondisinya akan memburuk


Sudah berapa kali pria itu menasehati , sang Deddy. Namun ucapannya seakan Hanya angin lalu


Perasannya was was , tentu saja karena jarak tempuh yang cukup lumayan lama . Takut kondisinya akan memburuk, apa lagi kondisi tubuhnya itu belum setabil sepenuhnya . Tapi pria paruh baya itu tak menghiraukan ucapanya .


Jelas saja Erlangga dibuat jengkel , atas sikap sang Deddy . namun dia hanya bisa menghela nafas .


Erlangga Hanya geleng kepala , dengan tingkah laku sang ayah . semangat nya persis seperti saat masih bersama dengan keluarga yang utuh waktu itu .


" hufff" lagi lagi Erlangga hanya menghela nafas saja . Frustrasi itu lah yang sedang di alami sekarang ini . Entah bagaimana cara nya membujuknya


" tenang saja " ucap sang Deddy enteng


Pria paruh baya itu tak perduli , dengan perasaan sang putra yang mengkhawatirkan dirinya

__ADS_1


Erlangga mendengkus , tapi ia tak bisa berbuat apa apa. selain menuruti ucapan sang Deddy.


semoga tak terjadi sesuatu pikir nya .


" baik lah " Erlangga menghembuskan nafas pasrah


Erlangga mendorong kursi Roda , sang Deddy menuju Jet pribadi nya yang berada di pekarangan belakang .


Di ikuti beberapa orang yang selalu mengikuti Tuan besar dan Tuan muda itu tak lupa juga Dokter , ikut takut terjadi sesuatu perjalanan .


" Deni bangunkan aku jika , sudah sampai " printah Erlangga Erlangga memejamkan kedua bola matanya .


Setelah tadi ia membantu sang Deddy merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang berada di sana . pria itu ke luar dan menuju kamar sebelah


Setelah itu Deni duduk di sofa dekat jendela , dia menikmati kelonggaran pekerjaan


Deni tak banyak bicara seperti Erlangga sang Tuan muda , dia hanya diam tak banyak bertanya atau pun berbicara dengan orang sekitarnya


.


.


Di sisi lain

__ADS_1


Nerin yang baru keluar dari ruang tempat penyimpanan kebersihan itu tak sengaja menangkap bayangan , sosok yang sangat familiar .


Dia terlihat sangat kelelahan " eh Kin , kamu masih ada disini . kirain udah nangkring di kantin " Nerin berucap dengan sangat riang dia juga menupuk pundak Kinan yang sedang duduk bersender sembari memejamkan bola matanya itu


" ah , iya aku capek banget . Rehat bentar . juga nunggu kamu " jawab Kinan dengan mengulum senyum


" o... ya sudah . ayo " ajak Nerin gadis itu mendahului Kinan


" kalian mau kantin ya " Tisa berucap saat melihat Nerin dan Kinan sudah mulai melangkahkan kakinya


" eh ,, iya ni " jawabnya berbarengan , Nerin mengulum senyum ketika jawaban bersamaan dengan Kinan begitu pun dengan Kinan dia juga senyum


Ketiga gadis itu pun berjalan beriringan menuju kantin


Suasana di kantin terlihat sangat ramai , nampaknya kursi penuh sehingga ketiga gadis itu bingung mau duduk dimana


" gimana kin , kita makan di sebrang sana aja yuk " ajak Nerin


Kinan menjawab gelengan kepala juga dia berucap dengan Nanda khawatir" gak , mending bungkus . Nanti kita makan di belakang "


" emang kenapa ? tanya Nerin bingung


" aku , gak mau terjadi sesuatu lagi dengan mu " ujar Kinan

__ADS_1


Seketika Kinan merinding


__ADS_2