Suamiku Seorang Presdir

Suamiku Seorang Presdir
Part 55


__ADS_3

Part 55


Sesampainya di kamar , Nerin merebahkan tubuhnya di sofa . tubuh gadis itu saat ini memang tak berdaya , lemas lah yang ia rasakan saat ini


Sedangkan Ana Maid itu menyiapkan air mandi untuk sang Nona


Dering telfon memaksakan tubuh gadis itu untuk bergerak , dia meraih tas yang di letakan di samping . kemudian dia membenarkan tubuhnya duduk dengan baik


Gadis itu mengulum senyum , melihat siapa yang menghubungi dirinya .


Dengan cepat ia menggeser ikon berwana hijau .


" hello assalamu'alaikum " sapa Nerin di balik layar ponselnya mengulum senyum cerah , setelah melihat wajah suaminya yang terlihat khusut namun tetap saja sangat tampan


" waaikumsalam sayang " Erlangga menjawab dengan cepat dia juga tersenyum saat layar ponselnya itu menampakan Wajah yang begitu lelah .


Semburat ke bagian di wajah tampannya itu , setelah melihat wajah cantik sang istri


" maaf ya sayang , aku pergi gak sempet pamit kamu terlebih dahulu " Erlangga menarik nafas sejenak lalu berkata lagi " Aku terlalu panik saat itu " ucapan Erlangga terdengar sangat lembut . Erlangga membenarkan posisi duduknya di sofa kamar sang Deddy degan tubuh yang di senderkan


Pria itu menemani sang Deddy yang belum juga sadar dari pingsannya .


Amarah yang sempi di ubun ubun tadi , berangsur angsur mulai berkurang . Entah mengapa saat melihat wajah sang istri itu selalu menjadi obat penenang untuknya


" aku kira , ada yang terjadi dengan mu " ucap Nerin sejenak kemudian melanjutkan lagi


" Kenapa wajah kamu seperti itu Ar , apa ada masalah yang serius . aku sangat panik saat itu , untung saja sekertaris Al ... " terpotong sebab Ana menyela obrolan dirinya dengan sang suami


" maaf nona , air mandinya sudah siap " ujar Ana setelah berdiri di samping sofa


Nerin mengangguk lalu menjawab " iya terima kasih Ana " Nerin menjawab dengan mengulum senyum


Ana mengangguk kecil dan berkata" kalo gitu saya permisi , Nona " pamit Ana dengan sopan

__ADS_1


Nerin mengangguk lagi . setelah Ana keluar Nerin pun melanjutkan obrolan sebentar dengan sang suami


" oh ya aku mau mandi dulu Ar , seluruh tubuh ku terasa lengket "


" Iya , sayang "


" bay Ar , assalamu'alaikum "


sebelum telfon itu terputus Erlangga berkata " nanti lanjut lagi ya sayang , mungkin aku tak bisa tidur jika tak mendengar suara mu . ya sudah waaikumsalam "


Senyum cerah di sudut bibir pria itu . lega rasanya setelah mendengar suara sang istri yang selalu membuatnya lebih tenang . Sekarang dia harus memutar otaknya berfikir , bagaimana caranya . Agar permasalahan yang akan di hadapi cepat selesai


Telfon terputus perasaan keduanya lega


Erlangga pria itu memilih untuk membersihkan tubuhnya , seteh itu dia bersiap untuk melanjutkan pekerjaan yang di kirimkan oleh sekertaris Aldi .


Sementara Deni pria itu masih mencoba melacak Nomor telfon yang berada di ponsel Tuan Besar Ari Gunadarma


Draneasenya Lawrence kakek buyut dari Erlangga . Beliau sudah tidak ada bersamaan dengan sang Nenek yang menyusul sekitar 2 tahun , setelah sang kakek wafat 3 tahun lebih . kira kira jika di bandingkan dengan sang mommy dan sang adik itu berurutan


Keluarga yang tadinya penuh canda dan tawa kini sepi , seperti tak ada lagi kehidupan di dalamnya . walaupun Mansion itu terlihat sangat mewah dan sangat besar serta para maid begitu banyak sekitar 100 orang lebih . Tapi tetap saja begitu berbeda


.


.


Setelah makan malam tadi , gadis itu pun langsung kembali ke kamar . Dia mengosok gigi sebentar dan mencuci kakinya


Nerin keluar dari kamar mandi menuju ranjang , dia merebahkan tubuhnya dengan perlahan , membenarkan selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya .


Nerin memiringkan tubuhnya agar bisa meraih ponselnya , yang berada di nakas


lalu menghubungi Sang suami dengan sambungan Vc

__ADS_1


Tak lama kemudian sambungan itu pun terhubung , menampilkan wajah segar nan tampan . Nerin selalu tersenyum cerah


Nerin terdiam , tak mengeluarkan ucapan apa pun . sedangkan Erlangga pria itu sedang meneliti beberapa berkas . terlihat sangat fokus


" Ar , apa aku mengganggu mu " Nerin mengucapkan dengan sangat hati-hati setelah terdiam beberapa detik


" tentu tidak sayang . aku seneng jika kamu yang mengganggu ku " goda Erlangga tersenyum usil dia melirik sekilas ke layar letop yang menghubungkan sambungan Vc itu


Dia juga terlihat sangat fokus meneliti lembar tulisan itu , sesekali dia mengeyit .


Erlangga berucap lagi sebelum sang istri mengucapkan kata kata


" temani suami mu ini bekerja , dan ceritakan bagaimana kegiatan mu hari ini apa kah menyenangkan .


" baik lah " Nerin mulai bercerita hingga dia menguap berapa kali . pada akhirnya Nerin pun tak bisa mengendalikan kantuknya itu , terlelap begitu saja


Erlangga menyunggingkan bibirnya , melihat sang istri tidur pulas


Dia tak mematikan sambungan Vc itu hinga pagi hari


.


.


Nerin sedikit meringis saat perut bawahnya itu terasa sakit , dia mencoba untuk beranjak .


Tapi tak bisa dia meringkuk , Nerin meremas bawah perutnya yang terasa sakit , rasa nyeri begitu kuat . dia meremas seprai dengan kuat kuat


" esss ,, a... " jerit Nerin tak terkendali keringat mulai membasahi tubuhnya . Rasanya begitu sakit


Pekikan serta jeritan itu mengusik , tidur lelap Erlangga


" eh " Erlangga memaksakan membuka kedua bola matanya

__ADS_1


__ADS_2