
"Kamu mau jadi simpananku?"
Raya bergerak maju mendekati April hingga jarak mereka hanya tinggal dua jengkal, dia memegang tubuh April sambil menatapnya dan berkata, "Aku rela, Aku rela jadi simpananmu, jadi yang kedua dan apapun itu, yang terpenting bagiku aku masih bisa bertemu denganmu," ucap Raya yang malah membuat hati April merasa sangat senang.
Namun semua rasa senang itu disembunyikan dengan sangat baik, "Apa kamu yakin dengan ucapanmu?" Tanya April mencoba untuk memperjelas juga memastikan
"Sangat yakin, yang penting aku bisa tetap bertemu dengan kamu," kembali ucapnya, lalu Raya ingin memberikan sesuatu di bibir April, namun dia menghindar, menolak apa yang ingin diberikan Raya, membuat raut wajah Raya berubah.
"Kenapa, aku kecewa loh,"
"Kamu juga sering membuat aku kecewa," balas April lalu menepis tangan Raya perlahan, kemudian dia pergi meninggalkan Raya. Raya langsung mengejarnya, tapi tiba-tiba muncul seseorang dari arah yang berlawanan dan langsung memeluk April dan ternyata April menyambut pelukan itu.
Raya menghentikan larinya, melihat April berada dalam pelukan pria lain membuat darahnya mendidih. Raya hanya bisa diam mematung, dirinya seperti dihentikan oleh waktu. Jelas sekali dia melihat pria itu menoleh sambil tersenyum puas melihat dirinya yang hanya bisa diam saat April dibawa olehnya.
April memeluk pria itu seraya berkata, "Thanks yah Chik."
"Iya, sama-sama. Sudah kelar dengannya kan, lalu kapan kita akan membuat kesepakatan!"
"Kapan-kapan, saat ini aku merasa tubuh dan otakku lelah, aku ingin segera sampai rumah dan beristirahat."
Chiko meluncur cepat bersama April, dia membawa wanita itu ke tempat yang diinginkannya. Sementara itu Raya melangkah dengan pikiran yang bercabang, dia memikirkan apa yang dilakukan April dengan pria itu.
Kembali ke Raya yang saat ini masih terbaring tidak berdaya, setelah membersihkan dirinya Santi menghubungi sekretaris Raya dikantor, dia memberi kabar jika hari ini Raya tidak bisa masuk karena sakit.
"Baik Bu, saya akan cancel semua pertemuan hari ini, semoga Bapak cepat sembuh yah Bu," doa sang sekretaris untuk Raya.
Setelah itu Santi pergi ke dapur untuk membuat sarapan, semua pekerjaan rumah sudah ada yang handle, tapi kalau urusan masak Santi harus memegangnya sendiri.
__ADS_1
Pukul tujuh pagi alarm di ponsel April berbunyi, dia bangun dan mematikannya. Perlahan matanya dibuka, matahari pagi sudah masuk kedalam kamar itu melalui celah gorden yang sedikit terbuka.
"Chiko bangun, aku mandi duluan yah," ujarnya lalu beranjak dari tempat tidur itu. April pergi membersihkan diri, Chiko berusaha keras membuka kedua matanya. Perlahan tubuhnya dipaksa bergerak, dia melihat jam yang menempel di dinding kamar.
"Ya ampun Pril, baru jam segini," keluhnya, kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya juga memejamkan kedua matanya yang memang masih sangat mengantuk.
April gelengkan kepala saat dia melihat ternyata Chiko masih tidur saat dia selesai dengan mandinya. April segera merapikan diri lalu pergi kedapur untuk melihat ada apa di lemari pendingin Raya, apa ada yang bisa digunakannya untuk sarapan pagi ini bersama Chiko.
Wanita itu membiarkan Chiko tetap terlelap sebentar lagi, senyum terlihat saat dia melihat isi dari lemari pendingin yang dibukanya. April mengambil roti dan selai coklat juga stroberi, dia mengolesnya lalu dipanggang sebentar.
Setelah selesai doa kembali ke kamar untuk bangunkan Chiko. Bersyukur Chiko tidak sulit dibangunkan, dia langsung masuk kamar mandi setelah selesai merapikan diri mereka langsung sarapan seadanya.
"Pril, aku lupa hidupkan ponsel kamu," ujar Chiko.
"Apa kamu tidak takut kalau ada hal penting tentang pekerjaan nanti,"
"Ah, semua kan masuknya ke ponsel kamu, kecuali ponsel kamu tidak aktif barulah masuk ke punyaku," ujarnya membuat Chiko tertawa tipis.
Sarapan selesai mereka bersama merapikan kamar, itu Chiko sendiri yang minta. Selesai mereka langsung meluncur ke kantor, datang tepat setengah jam sebelum jam meeting dimulai.
Semua mata memandang dua sejoli itu setiap mereka datang bersama, best couple itu selalu menarik perhatian semua yang melihatnya. Mereka berjalan beriringan dengan aura yang berada dalam diri mereka masing-masing, aura yang sangat memikat.
Masuk ke aula meeting masih tampak sepi, karena memang masih beberapa menit lagi dimulai. April langsung menyiapkan semuanya dengan baik, saat April sedang sibuk merapikan alat kerja, tiba-tiba seorang wanita masuk tanpa sapa dan salam.
__ADS_1
April menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, namun tidak dengan Chiko, dirinya terlalu fokus hingga tidak sadar jika ada seorang wanita cantik di sampingnya saat ini. April terus melihatnya yang berjalan mendekati Chiko, 'Siapa wanita itu." Batin April.
Wanita itu terus mendekat, saat dia sudah berada disamping Chiko, dengan santai dia merangkul pria yang ada di depannya itu. Chiko terkejut, karena dia merasa tidak mungkin April melakukan itu, Chiko menoleh cepat, saat melihat siapa yang berada disampingnya Chiko langsung melepaskan tangannya perlahan.
"Apa-apaan kamu?" Tukasnya sambil melepaskan tangan wanita itu.
Dengan manja dia merengek, "Aku kangen dengan kamu Chik, kamu gak kangen memangnya,"
Chiko tidak menjawab, dia malah kembali mengajukan pertanyaan, "Kenapa kamu bisa masuk kesini, tanpa permisi lagi," ketusnya
Wajah wanita itu dibuat muram, dia kesal dengan perlakuan Chiko yang dingin terhadapnya, "Kamu kenapa sih, apa karena ada perempuan itu jadi kamu mengacuhkan aku," ucapnya sambil menunjuk ke arah April yang sedang melihat jijik tingkah manja wanita itu.
"Turunkan tanganmu, apa selama ini aku bersikap baik sama kamu! Sudahlah Dwi pergi dari sini, sebentar lagi mau ada meeting penting," ucap Chiko menyakiti hati perempuan itu, lalu dia kembali melihat layar laptopnya.
Wanita yang dipanggil Dwi itu tidak segera pergi, dia menatap nanar Chiko yang mengacuhkannya. Dirinya tidak terima karena pria itu terus saja melakukan itu, sebenarnya dia sangat berharap jika Chiko akan merubah sikapnya yang dingin itu, karena mereka sudah lama tidak bertemu.
Namun ternyata apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan apa yang saat ini terjadi, Chiko tetap saja mengacuhkan dirinya, dari apa yang dia dengar memang Chiko sudah mempunyai calon Istri.
Tapi dia masih belum tahu siapa calon Istrinya itu dan yang mana, karena itu dia cuek saja saat melihat April ditempat itu. Dwi mengira jika April itu pegawai biasa yang saat ini sedang membantu Chiko.
Melihat Dwi masih berdiri di sampingnya dalam diam, Chiko kembali meminta dirinya untuk segera pergi dari ruangan itu. Namun lahi-lagi Dwi diam, dia terus memperhatikan Chiko yang terlihat sibuk dengan alat kerjanya.
Dwi menghela nafas kasar, lalu dia sedikit meraih wajah Chiko dengan mengapitnya dengan dua tangan, kemudian dia langsung memberikan kecupan di bibir Chiki yang membuat mata Chiko terbuka sedikit lebar.
__ADS_1
"What the …." Seru April saat melihat adegan itu di depan matanya.