SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
TRAGEDI MALAM


__ADS_3

“Nggak, aku ‘kan sudah bilang kalau aku ingin bersama kamu, aku sedang ingin menghabiskan waktu bersama kamu saat ini,” ungkap Raya, “selain itu aku juga ingin dapat pelajaran baru lagi dari kamu Tan,” timpal Raya dengan senyum genitnya.



Intan tertawa merespon sikap genitnya Raya, dalam hatinya sedikit demi sedikit dia memang mengakui jika Raya sudah sedikit membuatnya tertarik. Raya sangat perhatian juga selalu memberikan apa yang dia mau, Raya selalu memberi kejutan kecil yang membuat dia senang.



"Kalau itu memang mau kamu oke, aku punya tempat yang pas untuk kita menghabiskan waktu malam ini bahkan sampai pagi," ucap Intan dengan raut wajah sumringah.



"Siap, kita langsung meluncur kesana," jawab Raya.



"Biar aku yang nyetir Ray, agar bisa dengan cepat kita sampai kesana," ucap Intan.



"Apa kamu yakin gak masalah?"



"Yup, gak ada masalah sama sekali."



Intan yang ambil kemudi saat ini, karena dia tahu jalannya dan agar cepat sampai juga karena hari sudah cukup malam. Sementara itu Chiko terus memberikan pengertian juga merayu April sampai marahnya mereda.



Sinta terlihat sangat menikmati tempat itu, wajahnya kali ini terlihat lebih gembira dibandingkan tadi saat pertama kali Chiko melihatnya. Tubuhnya bahkan terlihat sedikit di goyangkan mengikuti alunan musik yang menghentak, sesekali dia tersenyum melihat Chiko dan April.



Chiko ajak kedua wanita itu ke lantai dansa dan melepaskan semua penat mereka, “Bebaskan Sin, malam ini jadikan milik lo,” teriak Chiko pada Sinta.



Sinta hanya tertawa mendengar hal itu, April bergerak tubuh yang terus berada dalam lingkaran tangan Chiko. Malam ini Chiko ingin membuat Sinta melupakan sejenak Raya dari kepalanya, melepaskan sedikit beban pikirannya agar besok dia bisa kembali merefresh otaknya.


__ADS_1


Sinta berusaha melupakan semua masalahnya dengan Raya, juga masalah dirinya dengan hal lain. Wanita itu ingin mengikuti saran dari Chiko agar dia bisa bersikap dan berpikir lebih baik untuk esok harinya. Sinta ingin besok dia bisa mengambil keputusan untuk membuat Raya merasa jera, dan dia tidak ingin hatinya terus merasa kasihan dan tidak tega untuk melepaskan Raya dari kehidupannya.



Sinta tidak ingin dia goyah hati kembali dalam mengambil keputusan itu, beberapa lagu mereka habiskan untuk menggerakkan tubuhnya dengan bebas dan memang benar apa kata Chiko, Sinta merasa lebih baik saat dia mulai melepaskan semua pikirannya juga perasaan sakit hatinya pada sang suami.



“Chik, aku lelah, aku istirahat dulu yah?” teriak Sinta yang sudah merasa suhu tubuhnya meningkat panas, karena gerakan yang dilakukan juga karena atmosfer disana semakin membuat nafas Sinta merasa sesak.



Semakin malam tempat itu semakin ramai, karena itu Sinta meninggalkan lantai dansa karena tempat itu semakin dipenuhi oleh orang-orang yang ingin bersenang-senang. Juga mulai tercium bau tidak sedap yang muncul di antara mereka, dan Sinta tidak menyukainya.



Sinta meneguk beberapa kali minuman segar yang ada di atas meja, menghela nafas lega setelah dia merasa sedikit lelah bergerak. “Ah sudah lama sekali aku tidak merasakan euforia seperti ini,” ucapnya pelan dengan senyum yang kali ni terus terlihat di wajah cantiknya.



Matanya terus berputar melihat semua manusia yang seolah tidak punya masalah dalam hidup mereka, energi itu membuat Sinta ingin selalu bersikap seperti mereka yang bisa santai menjalani hidupnya. “Aku yakin mereka mempunyai masalah yang lebih besar dari aku, tapi aku salut karena mereka bisa menutupi semua itu,” ucap Sinta sambil melihat April dan Chiko.



Chiko membuat April semakin menempel pada dirinya, lalu dia mendaratkan kecupan singkat di pipi wanita itu yang langsung direspon senyuman manis oleh April. “Chik, aku kembali kemeja yah, kasihan Sinta sendiri aja,” kata April dengan suara yang sedikit lebih keras.




“Iya gak apa-apa, ya sudah aku kesana yah,” jawab April yang lalu memberikan kecupan singkat pada Chiko sebelum dia meninggalkan Chiko sendiri.



April kembali ke mejanya menemani Sinta, mereka bertukar cerita juga sedikit bersikap liar dengan menceritakan semua keburukan juga pandangan jahat mereka pada para pengunjung yang terlihat tidak banget untuk mereka. Mereka bisa terbahak disana, dua wanita yang bertemu dalam keadaan yang tersembunyi kini menjalin ikatan dengan sangat baik.



“Kita kesana lagi yuk,” ajak April.



“Emm, boleh … ayo,” jawab Sinta.

__ADS_1



Dua wanita cantik itu kembali ke lantai dansa dan langsung menghampiri Chiko, dua wanita itu seperti dayang yang mengelilingi rajanya. April dan Sinta kompak membuat Chiko seperti seorang bos besar yang didampingi dua selir cantik. Mereka menikmati malam itu, dan mereka memperlambat gerakannya saat musik di tempat itu berganti menjadi lagu yang galau.



Lagu yang digunakan untuk dansa romantis, satu persatu meninggalkan area itu, hanya meninggalkan beberapa pasangan yang memang menantikan momen dansa romance seperti Chiko dan April. Sinta berdiri mematung saat dia melihat pasangan romantis yang ada beberapa langkah darinya, pasangan yang terlihat sedang dimabuk asmara.



Semua perasaan Sinta kembali berubah, matanya perlahan menatap nanar dua sejoli yang membuat dirinya sangat muak, dia melihat Raya memberikan kecupan yang sangat berhasrat pada wanita yang saat ini berada dalam rangkulannya. Tubuh Sinta seketika lemas sampai dia tidak bisa menopang tubuhnya dan melangkah mundur hingga terbentur tubuh April juga Chiko.



“Hei Sin, kamu kenapa!” tegur Chiko yang berhasil menahan tubuh Sinta.



“Sinta kamu kenapa?” ucap April.



Sinta terlihat sedikit merasa kesulitan bernafas, melihat kondisi Sinta yang Shock, Chiko mengikuti kemana arah pandangan Sinta saat ini. Mata Chiko membulat sempurna saat dia menyadari kenapa Sinta bisa seperti itu, Chiko langsung memberikan kode pada April.



April sama marahnya saat dia melihat Raya dengan wanita yang mungkin saat itu juga dilihat dirinya, “Kamu temani SInta disini,” titah Chiko pada April, karena dia ingin menghampiri Raya dan memberikan sedikit pelajaran pada pria itu. Tetapi tangannya ditahan oleh Sinta, “Jangan Chik, biar aku saja,” ucapnya.



“Apa lo yakin?”



“Iya, tapi aku mau kalian mendampingiku, aku mau kalian ikut di belakangku,” pinta Sinta.



“Kami akan dampingi kamu Sin, itu kalau kamu kuat,” ucap April.



“Iya aku bisa kok, tenang aja,” jawab Santi. Dia kalau menarik nafas panjang, Sinta mempersiapkan diri agar bisa menegur suaminya yang sedang bermain gila. Sekali lagi dia menghela nafas kasar, lalu melangkah perlahan menghampiri Raya dan Intan yang masih belum menyadari keberadaan tiga orang itu.

__ADS_1



Raya tidak menyadari kehadiran mereka karena matanya terus melihat ke arah Intan yang sudah membuatnya gila, “Halo Mas,” tegur Sinta dengan tatapan tajam.


__ADS_2