
"Wah aku disambut," seru April, lalu dia masuk dalam dekapan Chiko, "So sweet, makasih yah," timpalnya setelah berada dalam dekapan hangat Chiko.
"Sama-sama sayang," bisik Chiko lalu mendaratkan kecupan singkat di pipinya, Chiko melepaskan pelukannya, lalu mengajak April untuk makan malam.
Chiko menggandeng wanita itu, mereka masuk berdua seperti pasangan pengantin baru. Perlakuan manis Chiko membuat April merasa senang, karena baru kali ini dia melihat Chiko seperti itu.
"Mau kemana?" Tanya Chiko saat mereka berlawanan arah melangkah.
"Aku mau kekamar lah Chik,"
"Kita makan dulu yah, nanti keburu dingin, setelah makan baru masuk kamar bersihkan diri dan tidur," uhar Chiko menyebutkan urutan yang seharusnya dilakukan April.
April menaikkan satu alisnya seraya berkata, "Tapi gak enak nih aku," rengeknya.
"Hanya sebentar, lebih baik makan dulu Pril, dari pada mandi baru makan, ayo ah," ajaknya sambil menggiring tubuh April ke dapur.
Dari kejauhan sudah sedikit terlihat jika dimeja itu sudah tertata berbagai macam makanan, saat mereka mendekat wajah April terlihat sangat sumringah, matanya berbinar, wajah tidak percayanya terlihat jelas oleh Chiko.
Pria itu tersenyum bahagia melihat reaksi April, dia langsung menggeser kursi dan mempersilahkan April untuk duduk. "Ini semua kamu yang masak Chik?" Tanya April seperti ingin memastikan.
"Iya, kamu gak percaya gitu sih kalau aku bisa masak, ayo di cicipi," ucap Chiko yang terlihat tidak sabar masakannya di cicipi April.
April menatap gemes semua masakan yang ada diatas meja, balado kentang dan ati, ada cumi asin pedas, perkedel, bakwan jagung, sayur lodeh dan juga puding yang cantik serta sedikit buah, minumannya terlihat sangat segar, air putih dingin serta ada minuman jeruk dingin juga.
Sambil bergerak duduk April kembali bertanya, sejak pukul berapa Chiko menyiapkan ini semua. Pria itu pun menceritakan dari awal dia bangun tidur, sampai selesai mengerjakan semuanya.
__ADS_1
Saat april mulai mencicipi satu per satu masakan Chiko, dia semakin tidak menyangka kalau itu memasakan pria yang ada di depannya, karena rasanya enak dan bukan rasa dari seseorang yang baru saja belajar memasak.
Semua makanan di cicipi oleh April, selama mereka makan April terus saja memuji setiap makanan yang masuk ke mulutnya, sampai akhirnya dia merasa kekenyangan. Chiko sudah memperingatkan April agar dia tidak makan seperti orang kesurupan, namun April merasa sayang jika makanan itu tidak dihabiskan, karena rasanya enak.
April sampai malas ke kamar, dia bahkan sampai di bantu Chiko untuk ke kamar, sampai dikamar bukannya membersihkan diri April malah tertidur saat Chiko kembali setelah merapikan bekas makanannya.
Chiko melihat dengan senyum manisnya, melihat April yang sudah tidak sadarkan diri dengan masih mengenakan pakaian kerjanya, satu persatu semua benda yang menempel di tubuh April dilepaskan, hingga hanya tinggal disisakan kain penutup gunung besarnya juga kain segitiga penutup lembah basah wanita itu.
Chiko menutupi tubuh polos itu dengan selimut tebal, setelah itu dia meraih ponselnya menghubungi Dito.
"Gimana To?" Tanya Chiko saat sudah tersambung tanpa basa-basi.
"Woy, kok lo gak hubungi gua sih kalau udah balik!" Seru Dito sedikit kecewa, karena tahu-tahu Chiko memberikannya tugas setelah jam makan siang.
"Nanti aja kita bahas itu, ini gimana sekarang, apa sudah beres semua, persiapannya bagaimana!"
"Oke bagus, kita ketemu disana satu jam dari sekarang, ingat gua gak mau kalau sampai lo telat, share tempatnya sekarang," titah Chiko.
"Siap Bos, apa lo yakin dengan ini?"
"Of course, sangat yakin," tukas Chiko dengan sangat percaya diri. Setelah selesai dengan Dito, Chiko pergi meninggalkan April yang sudah sangat terlelap, dimatikan lampu kamar sebelum dia keluar, semua lampu yang ada di rumah itu dimatikan, rumah itu pun dikunci rapat.
Chiko meluncur cepat menuju tempat yang sudah di-share oleh Dito, tempatnya cukup jauh dan memakan waktu sekitar satu jam untuk sampai di sana. Dito juga meluncur setelah Chiko tidak lama pergi dan mereka akan bertemu di tempat yang sama pada jam yang sudah ditentukan.
Sementara itu Raya selesai dengan tugas kantornya pada pukul sembilan malam dan dia langsung pergi bersama Papa Santi untuk melakukan meeting penting mereka malam ini. Sampai disebuah resto yang sudah tampak kemewahannya dilihat dari depan, mereka langsung masuk dan menjadi tempat yang akan dijadikan ruang meeting untuk mereka.
__ADS_1
Sampai di tempat itu ternyata Raya dikejutkan dengan sosok yang beberapa hari ini sudah membuat dirinya kesal, sosok itu tersenyum menyeringai saat melihat kedatangan Raya beserta Papa mertua.
Sambil terus melangkah, Raya menyembunyikan rasa keterkejutannya itu, karena kehadiran sosok yang saat ini sudah duduk manis, 'Kenapa ada dia di meeting kali ini!' Batin Raya.
Sosok iti berdiri menyambut kedatangan Raya dan Papa mertua, "Halo Om, apa kabar," tutur santunnya sambil mengulurkan tangan.
"Halo anak muda, Om baik saja, kamu semakin dewasa saja Chiko dan kamu semakin hebar," puji Papa mertua Raya, lalu tertawa akrab. Raya kembali terkejut, jarena ternyata Papa kenal dengan chiko.
"Bagaimana kabar Papa kamu?"
"Papa baik Om,"
"Iya, saya ketemu Papa kamu itu terakhir kalau tidak salah satu bulan yang lalu, masih selalu tampak hebat dia," puji Papa mertua Raya kembali pada keluarga Chiko, membuat Raya terlihat malas mendengar.
Setelah berteguran dengan Papa mertua Raya, Chiko juga menyapa Raya, "Halo Ray, ketemu lagi kita," tutur Chiko dengan senyuman yang dibuat manis.
"Hai, iya nih, gak nyangka bisa bertemu disini," jawab Raya malas.
"Wah, ternyata kalian saling kenal rupanya, baguslah," ujar Papa.
Saling tegur sapa itu mereka akhiri, karena waktu semakin malam jadi mereka harus segera memulai meeting tersebut, selain Raya dan Chiko masih ada beberapa rekan yang lain yang sudah berada di tempat itu, mereka semua masing-masing membawa ajudan dan asistennya karena meeting ini sangat penting, semua alat yang terpasang sudah tertata dengan rapi.
Sedikit perselisihan terjadi, perdebatan mulai membuat suasana meeting itu sedikit memanas, Chiko terlihat bersikap sangat tegas, dia memang seorang dewa perang dalam dunia bisnis, tidak ada yang mampu menyaingi nya selama lima tahun ini.
Beberapa perusahaan bahkan tunduk jika langsung berhadapan dengan Chiko, apalagi jika ada anak perusahaannya yang berbuat curang, maka sudah barang tentu sikap tegas Chiko akan langsung membabat habis semuanya.
__ADS_1
"Saya yang akan ambil alih semuanya, kalau ada yang tidak setuju silahkan pergi dari ruang meeting ini, dan saya hanya memberikan waktu dua puluh menit untuk berdiskusi, silakan!" Tandas Chiko tanpa ingin ada yang membantahnya.