
“Mau telepon aku yah?” April tersenyum dan menjawab, “Iya,” “Ya sudah yu kita pulang sekarang.
Pasangan serasi itu membuat mata yang melihatnya merasa sangat iri, saat Chiko dan April berjalan mereka menjadi pusat perhatian. Yang satu tampan juga pemimpin perusahaan, sang wanita cantik dan dikenal sangat baik juga digadang-gadang sebagai pasangan paling cocok untuk mendampingi Chiko.
Sebelum pulang April minta pada Chiko untuk mencari tempat makan terlebih dahulu, dia sangat lapar karena tadi saat jam istirahat siang April hanya makan sedikit dan tidak ada cemilan di meja kerjanya. Chiko langsung menceramahi wanita itu juga memberikan ancamannya, jika lain kali April melakukan hal itu Chiko tidak akan mengurusnya jika dia sakit nanti.
Kali ini April minta dimana mereka akan makan, Chiko menuruti semua keinginan wanitanya. Sebuah rumah makan yang ditempuh dengan jarak sekitar satu jam di jalani mereka, April mengatakan jika dia mengetahui tempat itu melalui media sosial. Sampai disana April yang memesan semua makanan, Chiko menyerahkan semuanya pada April karena dia tidak tahu makanan apa yang enak di sana.
“Gimana makanannya Chik, enak-enak kan?” Tanya April yang terlihat sangat menyukai rasa masakan di tempat itu, “Emm, lumayan lah Pril daripada tempat terakhir yang kita datangi kemarin,” jawab Chiko membuat hati April merasa senang mendengarnya, “Iya, aku suka juga sama tempatnya Chik selain makanannya, kalau tempatnya bagaimana menurut kamu,” “Sama lumayan juga,” sahutnya santai tanpa melihat wajah April yang sedikit dibuat cemburu.
Makanan di atas meja sudah habis semua mereka lahap, mereka berbincang sejenak setelah makan. “Chiko!” tutur seseorang sedikit terkejut saat melihat Chiko berada ditempat itu. Chiko menoleh, baru setengah kepalanya berputar wanita itu sudah memeluk dirinya seraya berkata, “Ah seneng banget aku bisa ketemu kamu disini sekarang.”
Mata Chiko melirik ke arah April, dia melihat raut wajah wanitanya dengan jelas. Chiko segera membuat wanita itu melepaskan pelukannya dan berkata, “Maaf, siapa yah?” Tanya Chiko. ’Bukannya dijauhi malah ditanya.’batin April dengan tatapan sedikit tidak suka akan sikap Chiko yang mencoba ramah dengan wanita itu.
“Kamu lupa sama aku! Yah wajar juga sih karena sudah dua tahun kita gak ketemu,” jawab Wanita itu yang menyebutkan namanya Dina. Seperti biasa Chiko merasa tidak mengenal wanita itu, tapi dengan jelas dan gamblang wanita itu menceritakan pertemuannya dengan Chiko bahkan dia ingat semua tempat serta tanggalnya.
__ADS_1
Chiko menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, dia melihat lagi ke arah April yang sudah berwajah muram. “Oh iya, kenalin ini April dan dia tunanganku,” ungkap Chiko, dia antisipasi agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.
“Ow, kamu sudah mau menikah! Yah sayang banget sih Chik, padahal aku kesini sengaja mencari kamu loh,”
“Untuk apa?”
“Aku mau melanjutkan kisah kita yang dulu sempat tertunda,” ucapnya tanpa ragu atau merasa tidak enak pada April, April langsung malas berada disana, apalagi wanita itu terang-terangan menggoda Chiko di depannya yang sudah jelas adalah tunangannya Chiko. Wanita itu seperti sengaja membuat panas April, bukan masalah wanita itu juga yang membuat April kesal.
April merasa kesal karena Chiko terus melayaninya. ‘Chiko benar-benar.’ gerutu April dalam hatinya yang sudah sangat tidak betah berada diantara mereka. Ponselnya berbunyi, April menghela nafas lega karena dia ada alasan untuk pergi sebentar dari meja itu. April menjawab teleponnya dengan sedikit menjauh dari Chiko, April terlihat asik bercanda dengan sosok yang ada di ujung telepon itu.
Lengan April diraih lalu ditarik seenaknya, April berteriak dan minta agar Chiko menghentikan perbuatannya itu. “Tutup teleponnya,” titah Chiko dengan tatapan tajam. APril membalas tatapan tajam Chiko dengan menatapnya tajam juga seraya berkata, “Kamu tau sopan santun kan, aku sedang bicara saat ini,” tukas April.
Chiko semakin geram dengan sikap keras kepalanya April yang keluar saat ini, dia merampas ponsel yang masih menyala ditangan April lalu mematikannya dan dimasukkan kedalam saku celana Chiko. “Chik apa-apaan sih!” seru April, “Kembalikan hp ku!” timpal April yang mencoba mengambil ponselnya dari dalam saku celana Chiko.
Chiko menghindari tubuhnya dari jangkauan April, membuat wanita itu semakin kesal. “Chiko kembalikan!” sentaknya yang tidak direspon sama sekali oleh Chiko, Pria itu hanya melihatnya saja. “Kalau kamu tidak mengembalikannya aku akan sangat marah Chik,” ancam April.
__ADS_1
“Siapa yang barusan menghubungimu?” Tanya Chiko dengan suara beratnya.
“Bukan urusan kamu, kembalikan!”
“Kalau kamu tidak jawab aku akan melakukan sesuatu<” ancamnya.
“Aku gak peduli, kembalikan!” kembali April meminta. Chiko meraih pinggang April, lalu dengan cepat mendaratkan kecupan di bibir wanita itu dan membuatnya tidak bisa bergerak menolak. April memukul tubuh Chiko yang bisa dijangkau, agar Chiko melepaskannya dan mengingatkan jika disana adalah tempat umum.
“Mhh,” terdengar suara April saat Chiko melepaskan bibirnya, APril kembali memukul dada bidang Chiko seraya berkata, “Kamu itu yah, ini tempat umum Chik kamu sadar gak sih, jangan gak tau malu seperti itu, aku tidak suka kamu melakukan hal itu sama aku, jangan pernah lakukan itu lagi karena jujur aku sangat tidak menyukainya,” cerocos April saat bibirnya terbebas.
“Kalau kamu nyerocos terus aku akan melakukannya lagi,” ancam Chiko, April menghembuskan nafas kasar karena kesal dengan sikap Chiko, dia balik badan dan berlalu meninggalkan Pria itu. Chiko tertawa, lalu dia mengikuti April dari jarak yang dekat. Mereka keluar dari rumah makan itu, ternyata ada lagi kejadian yang membuat April jadi sangat marah kali ini dan pergi meninggalkan Chiko.
Saat mereka baru saja keluar dari dalam rumah makan itu ada yang memanggil Chiko, seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi dan berpakaian seksi. Kejadiannya memang sangat cepat, saat wanita itu memanggil dia sudah berada disisi Chiko. Wanita itu langsung memeluk dan memberikan kecupan di bibirnya, sontak hal itu membuat darah April mendidih. Giginya dibuat saling beradu, matanya menatap nanar kedua manusia yang menurutnya tidak tahu malu itu.
April langsung balik badan dan pergi saat Chiko masih terpaku dengan mendaratnya bibir lembut di bibirnya, sampai dia tidak ingat jika ada April yang mendidih darahnya melihat kejadian itu. Saat sadar Chiko langsung menjauhkan wanita itu darinya, lalu dia menoleh mencari keberadaan April. ‘Kemana dia, gawat nih.’ batinnya.
__ADS_1