
"Waw, Sepertinya kamu bukan pria yang gampang ditaklukkan rupanya."
Aura terlihat semakin tertarik dengan pria yang ada di hadapannya saat ini, mendengar ucapan Chiko dia jadi semakin merasa tertantang, Aura beranjak dari duduknya, wanita itu berjalan gemulai menghampiri Chiko yang sedang duduk santai sambil menyilangkan kakinya.
Tangannya menyentuh bahu Chiko, lalu dia berputar perlahan dengan tangan yang membelai serta langkah manja mengelilingi Chiko. Pria itu membiarkan wanita tersebut menyentuhnya, saat berada di belakang Chiko, Aura menyelipkan tangannya diantara kedalam kemeja Chiko bagian depan.
Hingga dada bidang pria itu tersentuh, Aura sedikit menunduk untuk mendekatkan bibirnya ke telinga Chiko, lalu dia berbisik, "Kamu yakin dengan tawaran kamu!"
Terlihat senyuman tipis di ujung bibir Chiko, "Sangat yakin, jika aku merasa puas maka akan aku tambah jumlahnya dari uang yang kamu minta," ucap Chiko.
Wanita itu melepaskan sentuhannya, lalu duduk dengan menyilangkan kakinya di meja tepat di sisi Chiko duduk. "Apa aku terlihat seperti wanita yang butuh uang yah!" Ucapnya dengan wajah yang dibuat sedikit mendongak.
Tak lama dia melihat ke arah Chiko dan mengangkat satu alis yang sudah dipercantik bentuknya, "Apa aku terlihat seperti itu!" Kembali dia bertanya.
"Kalau aku lihat iya," sahut Chiko membuat Aura terbahak.
"Dari mana kamu bisa melihat aku seperti itu, apa kamu tidak lihat dari penampilan serta yang ada di diri aku saat ini?"
"Apa yang dilihat mata belum tentu benar, semua yang kamu kenakan memang tidak murah, cara bicara serta gerakmu juga terlihat memang bukan wanita sembarangan," ungkap Chiko yang membuat wanita itu tersenyum bangga.
"Tapi sayang sekali aku sudah banyak kenal wanita seperti kamu, jadi gak perlu basa-basi denganku, berapa harga yang kami tawarkan untuk tubuh itu," tukas Chiko, kali ini dia bersandar di kursi dan bersedekap sambil melihat ke arah Aura.
Aura tersenyum tipis dan melihat Chiko dengan sedikit mata memicing, "Sepertinya aku salah tebak kali ini," ucapnya seraya berdiri dan menghela nafas kasar, "Baiklah. Aku mau dia puluh juta untuk satu malam!" Tandas Aura dengan langkahnya yang sedikit menjauh, lalu dia balikkan tubuhnya kembali dan berkata, "Apa kamu sanggup?"
Chiko tersenyum dan beranjak dari duduknya, pria itu menghampiri Aura sampai langkah dia tersisa lima jengkal. "Apa kamu tidak mencerna ucapanku tadi hai Nona cantik," tukas Chiko membuat nyali wanita itu sedikit ciut melihat tatapan Chiko.
__ADS_1
Sekilas ucapan Chiko kembali diputarnya, saat itu dia baru memahami apa yang dimaksud Chiko. "Oke deal, jika aku tidak bisa memuaskan kamu, makan kamu akan mengurangi dari harga yang aku beri dan sebaliknya, jika aku bisa membuat kamu puas maka kamu akan memberikanku lebih, like that!"
Chiko tersenyum, "Good girl!" Ucap Chiko memuji wanita itu, yang walau telat mencerna ucapan Chiko namun dia masih bisa langsung mencernanya saat berada dalam tekanan Chiko.
Chiko kemudian mempersilahkan wanita itu duduk, untuk membicarakan kesepakatan yang sudah dia bicarakan tadi. Chiko dan Aura sedikit membicarakan lagi tempat, waktu dan bagaimana mereka setelah akhirnya melakukan itu.
Setelah kesepakatan itu akhirnya mereka pergi dari tempat tersebut, Aura yang memang tidak memiliki kendaraan pergi bersama dengan Chiko menuju tempat untuk mereka bermalam malam ini.
Menuju tempat itu Aura banyak sekali bertanya, namun banyak pertanyaan yang diabaikan oleh Chiko, apalagi jika pertanyaan itu mengenai masalah pribadi serta tentangnya.
Aura banyak bicara dan itu malah membuat Chiko merasa sedikit tidak nyaman dengannya, saat Aura menyadari jika Chiko tidak begitu meresponnya, wanita itu cepat tanggap, dia tidak lagi terlalu banyak bicara.
Setengah perjalanan itu hanya digunakan Aura untuk menikmati pemandangan diluar jendela, Chiko tersenyum saat melihat ternyata Aura paham kenapa dia tidak terlalu memberi tanggapan atas semua pertanyaan serta ocehannya.
Sampai di lobby Chiko langsung minta Aura untuk turun, "Jangan jauh dariku," ucap Chiko membuat Aura segera mendekat dan tidak berani lebih jauh lima langkah dari Chiko.
Aura tetap di belakang Chiko saat pria itu sedang booking kamar, dia menjadi sedikit pusat perhatian dari tamu yang berkunjung, karena Aura memang wanita cantik dan seksi, apalagi dengan pakaian yang dikenakannya saat ini.
"Ra, yuk!" Ajak Chiko yang langsung melangkah tanpa menunggu Aura menghampiri, 'Nih orang kok kaya gak nafsu sih sama gua, cuek gitu aja kaya gua pembantu yang harus ngikutin dia terus dibelakang gitu.' Gerutu Aura yang kesal dengan sikap Chiko.
Saat memasuki kamar itu Aura kembali dibuat terpana dengan isi dari kamar tersebut, kamar yang besar dan kemewahan langsung terlihat saat mereka baru memasuki ruangan itu.
"Beristirahatlah dulu, atau kamu mau membersihkan tubuh kamu dan menyegarkannya silahkan," seru Aura, lalu dia meninggalkan wanita itu di dalam kamar sedangkan dirinya berjalan menuju balkon.
Chiko mengambil benda pipihnya dari dalam saku celana, lalu dia mencari kontak yang ingin dia hubungi, setelah ketemu Chiko langsung menghubungi orang tersebut.
__ADS_1
"Hai Chik, dimana sekarang?" Tanya seseorang saat telepon itu terhubung.
"Aku sudah pulang dan saat ini sudah berada di hotel, Kamu masih dijalan yah?"
"Iya, arah pulang,"
"Bagaimana di sana tadi?"
April lalu menceritakan sedikit bagaimana pertemuan dia dengan keluarga Santi disana, juga saat Raya datang dan sangat terkejut saat melihat dirinya.
"Bisa aku bayangkan sih reaksinya," ujar Chiko. Kemudian April kembali menceritakan bagaimana baiknya keluarga Santi, dan harmonis nya keluarga Santi bersama Raya.
Chiko tidak percaya mendengar cerita April, dan pendapat mereka sama, jika Chiko disambut baik dengan keluarga Santi, lalu keadaan keluarga kecilnya juga baik-baik saja, Kenapa saat itu Chiko malah mencari wanita lain, bahkan dia mau menikahi April kala itu.
"Aku juga gak tahu Chik, itu yang buat aku juga merasa heran, kenapa kira-kira?"
Mereka diam sejenak sampai beberapa saat, kemudian Chiko berkata, "Apa dia tidak puas dengan Santi?"
Percakapan itu melebar sampai akhirnya April tidak ingin membahas itu lagi dan memutuskan sambungan telepon, karena saat ini dia sudah sampai di gerbang rumahnya.
Chiko masukkan kembali ponselnya, dia melihat kedalam mencari Aura, "Kemana dia, apa dia masih mandi?" Tanya Chiko pada dirinya sendiri, lalu dia melangkah kedalam dan mencari keberadaan wanita itu.
Beberapa kali Chiko memanggil Aura, namun tidak ada jawaban, dia mendekati pintu kamar mandi kemudian mengetuk serta memanggil Aura.
Aura membuka pintu, saat ini dia hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya yang sudah terlihat polos.
__ADS_1