
Saat wajah April sedikit mengangkat dengan cepat Chiko mendaratkan kecupan di bibir manis April.
April mendorong tubuh kekar itu seraya berbisik, "Chik, ini tempat umum!" Chiko tertawa tipis, lalu dia malah mendekatkan kembali wajahnya dan hendak memberi kecupan lagi namun April segera menjauh dan berlalu meninggalkan Chiko dengan wajah kesalnya.
"Hei tunggu Pril," seru Chiko sambil berjalan cepat mencoba susul langkah April yang bergegas. "April, kamu marah apa hanya kesal!" Ucap Chiko, namun tidak digubris oleh Wanita itu. Seperti nya April benar-benar kesal dibuat Chiko, dia tidak bicara sampai masuk ke mobil.
April masih terus melanjutkan aksi bisunya sampai dia sampai kerumah, "Pril kamu benar marah sama aku!" Tanya Chiko lagi dan kali ini dia menahan April dan menyudutkannya di depan pintu masuk, April malas melihat wajah Chiko.
"Kamu marah hanya karena aku bergurau seperti itu, kenapa, apa karena dia mood kamu langsung berubah," tukas Chiko yang akhirnya membuat April menatapnya.
"Bukan sama sekali, aku marah juga bukan karena gurauan kamu tadi, aku marah karena kamu membiarkan aku dan Raya, sepertinya kamu menikmati pertunjukkan itu," ungkap April dengan raut wajah emosi.
"Tidak seperti itu,"
"Tidak bagaimana, kamu jelas melihatnya dan aku tahu itu, tapi kamu membiarkan dan tidak menolongku atau membuat dia jauh dari ku, maksud kamu apa!" Sentak April pada kalimat terakhir, "Kalau kamu sudah tidak ingin berhubungan denganku tidak masalah, tapi jangan seperti ini caranya," timpalnya lalu dia membuka pintu.
Chiko berusaha menahan tubuh April tapi ternyata dia tepis dengan sangat keras dan menutup pintu itu, Chiko berusaha memanggil nya kembali untuk menjelaskan kenapa dia melakukan itu, namun ternyata April tidak menghiraukannya. Hembusan nafas panjang di ambil Chiko, dengan langkah berat dia balik badan dan pergi dari rumah April.
Wanita itu sedikit mengintip dari sela gorden yang terbuka, melihat wajah lesu dan sedih Chiko dia jadi merasa sangat bersalah. Tetapi saat April mengingat kembali bagaimana Chiko membiarkannya dengan Raya, perasaan kesalnya mengalahkan empati dirinya pada Chiko.
__ADS_1
April matikan seluruh lampu dalam rumah, dia menuju kamar untuk beristirahat. Tubuh lemasnya dilempar perlahan di atas kasur, April teringat kembali dengan semua kejadian serta ucapan Raya pada dirinya tadi. "Raya gila, kenapa dia seperti itu, apa benar ucapan Chiko jika dia seperti itu karena aku." Pikirnya.
April balik badan daan meraih guling besarnya lalu dipeluk, "Bagaimana keadaan Santi saat ini, apa yang terjadi dengan mereka setelah aku pergi, ya ampun San, maafkan aku." Sesal April lalu menutup wajahnya dengan guling.
Chiko pergi dari rumah itu dengan sedikit rasa menyesal, dia berpikir wajar jika April berpikiran seperti itu. Pasti saat April tadi tersudut Wanita itu berpikir bahwa Lelakinya akan menyelamatkan, tapi apa yang dilakukan Chiko, dia malah membiarkannya walaupun ada maksud dibalik itu semua.
"Untuk sementara mungkin menjauh dulu, sampai nanti dia sudah sedikit mereda marahnya. Aku akan langsung menjelaskan nanti." Ucap Chiko. Sampai dirumah Chiko langsung mencoba untuk beristirahat. Dia akan kembali mencoba menjelaskannya pada April besok, malam ini Chiko agak sedikit tidak bisa memejamkan matanya, sampai pukul dua dini hari barulah dia bisa terpejam untuk beristirahat.
Raya dan Santi tidak berbicara selama perjalanan pulang, interaksi mereka hanya pada Arya. Sampai dirumah Santi menemani Arya sampai dia tertidur, setelah itu baru dia kembali ke kamarnya dan berpikir akan melanjutkan percakapan yang tadi sempat tertunda. Raya mengatakan juga tadi jika hal itu akan dibahas saat mereka berada di rumah, masuk ke kamar Santi sudah melihat Raya duduk santai sambil bersandar di dinding pojok kasur sambil memainkan ponselnya.
Tanpa merasa ada apa-apa dia tetap berusaha menyibukkan diri, Santi langsung berganti pakaian. Langkahnya ringan untuk duduk di atas kasur dan kembali bertanya persoalan yang tadi. “Bagaimana Mas, apa bisa kita mulai sekarang juga penjelasan kamu atas kejadian yang tadi.”
Raya lalu menjawab pertanyaan Santi, dia mengatakan jika dulu mereka sempat berhubungan tapi sekarang tidak. “Lalu kalau sekarang sudah tidak berhubungan kenapa kamu berkata seperti itu tadi. Mas, apa kamu belum mau juga merubah sikap kamu yang seperti itu,” ucap Santi mengeluh dengan apa yang dilakukan Raya.”Aku bukannya tidak mau San, tapi selama ini aku sudah berusaha,” “Dan hasilnya! Nihil.”
“Tidak, aku sudah tidak terlalu seperti dulu, aku begitu hanya pada April,”
“Apa kamu yakin akan hal itu? Kalau aku mencari semua bukti mengenai hubungan kamu dan April bagaimana?”
“Bukti apalagi San, aku sudah menceritakannya tadi dan kamu tidak percaya!”
__ADS_1
“Yups, aku tidak mempercayai sama sekali ucapan kamu,”
“Kamu baru saja kenal dengan April San, tapi kamu sudah begitu mempercayainya dibandingkan Suamimu sendiri,”
“Iya betul, karena Suamiku ini memang bukan orang yang bisa dipercaya, maaf Mas tapi aku bicara fakta kalau kamu memang seperti itu.”
Obrolan berlanjut, walau Raya sudah minta agar tidak dilanjutkan tapi Santi ingin terus membahasnya sampai dia merasa tenang. Santi terus memojokkan raya masalah ucapan Raya tadi yang bilang jika dia akan meninggalkan semua wanita demi April, Raya pusing dan jadi emosi mendapati dirinya terus terpojok.
Raya tidak bisa mengelak karena Santi mendengar semuanya, Pria itu heran melihat Istrinya yang mulai berani bersikap seperti itu kali ini. Santi benar-benar membuat Raya emosi kali ini, Raya berdiri dengan wajah marahnya seraya berteriak, "Aku sudah minta maaf dan aku sudah mengakui kesalahanku, kenapa kamu masih terus saja memojokkan aku."
"Aku muak dengan semua kelakuan kamu selama ini, kamu tidak bisa berubah atau memang kamu tidak ingin Mas, kamu selalu bilang ini yang terakhir, tapi mana buktinya!" Sentak Santi yang juga sudah sangat kesal dengan kelakuan Raya.
"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sama April San, kamu sudah lama tidak berhubungan!"
"Lalu kenapa kamu tadi menahan dirinya dan bilang seperti itu, kamu masih mengharapkan dia kembali, dia sudah punya Chiko Ray, dan kamu juga harus sadar diri kalau kamu sudah punya keluarga,"
"Iya, iya,"
"Ini peringatan aku yang terakhir Mas, aku akan mengumpulkan semua bukti, mungkin jika kamu yang mulai aku bisa terima jika itu yang dulu, tapi bila dari saat ini kamu menemui serta mengganggunya lagi, aku pastikan aku akan gugat cerai kamu dan kamu akan kembali seperti dulu, tidak akan ada satu barang pun yang bisa kamu bawa saat keluar dari rumah ini!" Ancam Santi dengan wajah datarnya.
__ADS_1