
“Lalu saat ini dimana wanita yang bersamanya, saya ingin melihat siapa tau saya mengenalnya karena saya teman baik Raya,” ucap Chiko sementara April langsung mendekati Sinta dan memeluknya untuk memberikan dia dukungan penuh.
Chiko pergi dengan petugas kepolisian sementara itu April berusaha untuk menenangkan Sinta, April minta pada kedua orang tua Sinta untuk pulang dan biarkan dia dengan Sinta yang menunggu Raya karena kasihan Arya sendiri dirumah.
Papa memilih pulang karena dia harus menghandle perusahaan karena Raya dan Sinta tidak bisa saat ini. Mamah pulang karena permintaan langsung dari Sinta, dia ingin mamanya mengurus Arya selama dia berada di rumah sakit.
April ajak Sinta untuk duduk di ruang tunggu, dia terus menemani Sinta sampai tangisnya mereda. Sinta mengatakan jika semalam dia terus memikirkan Raya, mengenai kata-katanya juga keputusan yang sudah bulat akan diambilnya.
“Semalam aku tidak bisa tidur Pril, perasaanku tidak tenang dan otakku terus saja berputar. Aku sudah mengambil keputusan dan kamu tau itu kalau keputusanku sudah sangat bulat, aku juga sudah bisa menebak bahwa Mas Raya akan pergi mencari wanita jika dia dalam keadaan kalut seperti semalam, tapi jujur tidak ada sama sekali aku berkata buruk agar sesuatu terjadi padanya,” tutur Sinta.
“Hei, kenapa kamu yang merasa bersalah seperti itu, kecelakaan itu tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kamu Sin,” sahut April.
“Aku takut salah ucap saat aku marah pada Mas Raya semalam.”
“Kamu menyalahkan diri sendiri, apa kamu tidak berpikir jika kecelakaan itu bisa jadi sentilan dari Tuhan untuk Raya. Agar dia memperbaiki dirinya, memperbaiki sikap juga hatinya, apa kamu tidak berpikir jika itu adalah karma untuknya karena sudah mempermainkan hati wanita,” tukas April yang membuat Sinta diam dan memikirkan perkataannya.
“Sudah lah Sin, aku tidak suka kamu menyalahkan diri kamu dengan apa yang terjadi pada Raya, itu murni hukuman dari Tuhan untuknya,” kembali April berkata.
Chiko masuk ke bilik di mana wanita yang bersama Raya di rawat, dia sangat yakin jika wanita itu adalah Intan. Wanita yang selama ini diketahui Chiko sebagai wanita simpanannya untuk saat ini. Senyum tipis terlihat di wajah Chiko ketika dia melihat wajah dari wanita yang sedang terbaring tidak berdaya.
Pak Polisi bertanya apa Chiko mengenalnya dan Chiko menjawab jika dia memang pernah melihat Raya beberapa kali jalan dengan wanita tersebut namun dia mengatakan jika tidak mengetahui jelas siapa wanita itu juga namanya. Setelah mendengar penjelasan Chiko maka pak polisi itu kembali membawa Chiko keluar dari tempat Intan di rawat.
Chiko kembali pada April juga Sinta yang saat ini ada di kursi ruang tunggu, melihat Chiko kembali April langsung menanyakan padanya siapa wanita itu. Sinta sudah sangat yakin jika itu adalah intan jadi saat Chiko mengatakan nama wanita itu Sinta tidak terkejut mendengarnya.
__ADS_1
Sampai pagi kembali keesokan harinya Raya masih belum juga sadarkan diri sedangkan Intan sudah sadar sejak malam tadi. Intan akan langsung dapat beberapa pertanyaan dari pak polisi mengenai kecelakaan yang sudah menimpa dirinya juga Raya.
Dokter yang menangani Raya keluar dari ruangan dimana Raya di rawat, beliau langsung menghampiri Sinta saat Sinta juga datang mendekatinya untuk menanyakan keadaan. Masih belum ada perubahan, saat jam makan siang tiba April dan Sinta memilih pergi keluar rumah sakit untuk mencari makanan juga agar bisa menikmati secangkir kopi hangat.
“Aku jadi bingung untuk mengajukan gugatan cerai kalau keadaannya seperti ini Pril,” keluh Sinta.
“Tahan saja dulu sampai keadaannya memungkinkan,” jawab bijak April.
“Iya, tapi aku sudah dapat banyak bukti dari anak buahku yang mengikutinya dan aku rasa itu semua sudah cukup,” kembali Sinta berkata, “yah itu mungkin jalan yang terbaik untuk aku dan Mas Raya,” timpalnya.
“Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu,” balas April.
Sinta dan April merasa lega mendengar hal itu namun selain kabar baik ternyata perawat itu juga membawa kabar yang membuat mereka iba. Raya dinyatakan lumpuh karena tidak bisa digerakkan setelah Raya sadar lebih dari setengah jam, Raya tidak merasakan apapun di bagian kakinya.
Saat mereka masih mendengar penjelasan perawat itu Sinta dan April mendengar teriakan histerisnya Raya, perawat itu berkata jika Raya masih belum terima keadaannya saat ini bahkan dokter sampai memberinya obat penenang.
“Biak Suster, terima kasih atas semua informasinya, lalu apa kami bisa menjenguknya sekarang?”
“Iya Bu sudah bisa, silahkan.”
April dan Sinta masuk dan melihat Raya dengan tatapan menusuknya saat melihat kedatangan mereka, mata memicingnya dengan smirk terlihat penuh dendam pada dua wanita yang sedang mendekatinya saat ini.
__ADS_1
Mata Raya tidak berhenti melihat dengan sorot tajam ketika dua wanita itu menghentikan langkahnya sekitar tiga langkah di depan Raya.
“Hi Mas, bagaimana keadaanmu sekarang, aku senang kamu sudah sadar dari koma,” ucap Sinta.
“Senang! Aku juga yakin kamu sangat senang dengan keadaanku yang lumpuh saat ini, KALIAN SENANG KAN!” Sentak Raya yang membuat mata Sinta berkaca-kaca namu April geram.
“Hei! Jaga ucapan kamu yah, jangan pernah membentak atau berkata kasar pada Sinta,” ancam April yang tidak suka dengan sikap Raya.
“KAMU! SEMUA KARENA KAMU PRIL!” teriaknya, teriakan Raya mengundang beberapa perawat juga dokter berlari kecil menuju ruangan Raya.
Beberapa perawat minta agar Sinta dan April keluar agar Raya tenang dan beberapa perawat yang lain berusaha untuk menenangkan Raya. Raya mengamuk karena sepertinya dia tidak terima, Raya terus berontak dan berteriak, dia terlihat semakin histeris setelah kedatangan dua wanita itu.
“Kalian! Kalian senangkan dengan apa yang terjadi sama aku saat ini, ini pasti karena sumpah dari kalian!” Kembali terdengar kata-kata dari Raya dengan sedikit nada tinggi.
“ARGH!” Teriaknya terlihat sangat frustasi.
Sinta dan April keluar dari ruangan itu, mereka langsung duduk di ruang tunggu menunggu kabar sampai Raya membaik. Sinta sedikit cemas dengan keadaan Raya saat ini dimana dia menyalahkan Sinta dan April karena kondisinya saat ini.
“Hei, jangan mulai deh, pasti kamu terpancing dengan kata-kata Raya tadi, ingat Sinta kalau itu bukan salah kamu,” tukas April.
“Iya, tapi jujur aku merasa kasihan melihat Mas Raya seperti itu,” ucap Sinta.
__ADS_1
Di dalam Raya diberikan obat penenang, nafasnya memburu. Raya terus meracau bahwa dia tidak mau kakinya lumpuh, dia tidak terima dengan hukuman yang diberikan Tuhan padanya saat ini. “Aku tidak terima ini Tuhan,” ucap Raya pelan sebelum matanya tertutup karena obat penenang.