SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
AWAL PERANG


__ADS_3

Raya tersenyum tipis mendengar jawaban wanita itu, dia membalas dengan senyuman manisnya. Raya melangkah mendekat, "Oke, tapi pastinya kamu tau dong kenapa dan untuk apa aku melakukan itu!" Ucap Raya.



"Tahu sih, tapi maaf aku mau berlaga tidak tahu, aku harus pergi dan aku harap tidak akan bertemu lagi dengan kamu lain waktu," balas Wanita itu yang membuat Raya tidak percaya, dia tidak percaya jika dirinya akan diperlakukan seperti itu oleh seorang wanita.



Wanita itu balik badan dan pergi menjauh dari Raya, "Sombong atau jual mahal, apa sedang bermain tarik ulur denganku." Ucap Raya sambil terus melihat wanita itu menjauh. Raya melangkah kembali hendak menyusul si Wanita, namun seketika niatnya berubah saat dia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.



Raya menghentikan langkahnya, lalu dia memperhatikan apa benar penglihatannya itu. "Iya dia, apa dia sendiri?" Tanya Raya pada dirinya, matanya berputar mencari sosok lain yang biasa pergi bersama orang tersebut, namun Raya tidak melihat keberadaannya disana. Wanita itu keluar dari dalam rumah makan dan langsung menuju toko sebelahnya, sebuah toko cemilan yang cukup terkenal.



Raya mengikuti langkah wanita tersebut, saat sang Wanita sedang asyik memilih Raya menengurnya dengan nada yang manis. "Halo, sudah kama kita tidak bertemu," tutur Raya, yang membuat Wanita itu langsung menoleh saat mendengar suara yang sangat tidak asing baginya.



"Kamu!" Seru Wanita itu dengan sedikit terkejut. Pria tampan baru saja keluar dari dalam toilet, dia mengambil benda pipih dalam sakunya untuk melihat siapa yang menghubungi dirinya tadi saat dia sedang berada dalam toilet. "April ternyata." Ucapnya, lalu dia melihat pesan singkat yang di kirim oleh Wanitanya itu.



Ponsel dimasukkan kembali kedalam saku celana, kemudian Chiko melangkah ringan dengan kedua tangan yang dimasukkan kesaku celananya. Sambil melihat keadaan sekitar dan mencari April, Chiko terlihat menjadi sedikit pusat perhatian karena ketampanannya. Langkahnya terhenti saat melihat April sedang menjauh dari seorang pria, senyum tipis terlihat saat dengan jelas Wanitanya menolak dekat dan bicara dengan pria itu yang tak lain adalah Raya.



Melihat hal itu Chiko menghubungi Santi yang juga sedang berada lingkungan yang sama, Chiko mengatakan juga memberikan sedikit video Suaminya yang memaksa April meladeninya. Setelah mendapat telepon serta video dari Chiko, Santi menutup sambungan telepon dan minta pada penjaga arena bermain untuk menjaga anaknya. "Mba aku titip anakku yah, ini nomorku kalau dia mau keluar tolong hubungi saja aku."



Santi merasa geram melihat apa yang dilakukan Suaminya itu, seolah tidak pernah kapok dengan apa yang dilakukannya. "Apa dia gak mikir kalau April itu teman aku, juga Chiko yang mengenal dekat keluargaku, ampun kamu itu Mas, Mas," gerutu serta keluh Santi terhadap kelakuan Raya Suami tersayangnya.


__ADS_1


Langkah kaki cepat dilakukan Santi, dia tidak ingin membuat April dalam keadaan seperti itu, karena Chiko tadi bilang jika dia tidak akan menghentikan perbuatan Raya. Chiko ingin terus melihat sampai dimana Raya menggoda April dan sampai dimana April bisa bertahan.



Chiko bisa melakukan itu tapi Santi tidak bisa, dia melangkah cepat untuk melihat bagaimana reaksi Raya jika dia mengetahui perbuatannya itu. Santi menghela nafas kasar, matanya melihat tajam dengan gigi yang di beradukan. Perasaannya kesal melihat tingkah genit Raya yang tidak pernah hilang, Chiko menghampiri dan mengingatkan agar Santi tidak memnuat keributan.



"Gak apa kamu kesana, tapi ingat tahan emosi kamu." Ucap Chiko. Santi hanya melirik mendengar ucapan Chiko, dia kesal juga dengan Pria itu kenapa mau membiarkan Wanitanya digoda orang, Pria aneh pikir Santi. Wanita itu menghembuskan nafas panjang, sebelum akhirnya dia menghampiri Suaminya yang sedang bergenit ria.



"Bakal seru gak nih." Ucap Chiko sambil tersenyum tipis.



"Menjauhlah sekarang," tolak April dengan mendorong tubuh Raya, dan itu sudah ketiga kalinya April lakukan.



"Kamu yakin akan mengakhiri hubungan ini, seenak itu kamu melakukannya padaku Pril,"




"Aku tidak akan membiarkannya, aku tidak mau kamu menjauh dariku,"



"Ingat anak dan Istri kamu Mas, kenapa kamu tega menyakiti Santi yang sudah sangat baik terhadapmu, apa kamu tega menyakiti Arya anak kamu, sudah lah sadar Mas,"



"Aku bisa saja meninggalkan semua wanita yang aku kenal, tapi aku tidak mau meninggalkan kamu, dan aku tidak mau kamu menjauh dariku," ucap Raya yang membuat April sedikit menggidik mendengarnya.

__ADS_1



"Apa kamu juga akan menginggalkan aku Mas," tutur suara lembut yang membuat mereka berdua menoleh dan langsung terkejut.



April dan Raya berbarengan mengucap nama Santi saat melihat wanita itu yang berkata, Raya menjauh sedikit dari April begitu juga dengan April. Dia segera menjauh dari Raya dan mendekati Santi.



"Kamu sejak kapan ada disini?" Tanya Raya.



"Itu bukan jawaban atas pertanyaan aku tadi Mas, apa perlu aku ulangi pertanyaan ku," tukas Santi dengan melihat tajam kearah Raya. April memegang tangan Santi dan berkata jika dia akan menjelaskan semuanya, tapi Santi malah minta April pergi dan temui Chiko yang saat ini berada di luar toko.



"Tapi San, aku benar ingin menjelaskannya sama kamu," seru April dengan kecemasannya, Santi tersenyum dan memegang wajah April dengan telapak tangannya. "Iya, tapi nanti saja yah, kamu pergilah dengan Chiko, kita akan bicara nanti." Balas Santi.



April menghela nafas, dia terlihat merasa sangat bersalah dengan situasi itu. Tapi Santi mengatakan agar April tidak perlu khawatir, Santi berkata jika nanti dia akan bicara padanya setelah selesai dengan Raya. April pun menjauh dari pasangan tersebut, dia keluar dengan perasaan khawatir dan takut.



Santi kembali membuat dirinya dan Raya saling berhadapan, dia diam dengan terus melihat Raya dengan tatapan nanar. Raya bingung mau berkata apa, apalagi Santi mendengar ucapan yang akan membuat dirinya akan hancur. "Kita bicarakan ini dirumah." Tukas Raya yang langsung nyelengos pergi.



Santi terlihat geram dengan sikap Raya, dia mengikuti langkan Pria itu menuju arena bermain untuk menemui Arya anaknya. Disana Raya minta agar Arya keluar dari arena itu dan pulang, tanpa membantah Arya keluar dan ikut kedua orang tuanya pulang saat itu juga.



April menghampiri Chiko dengan rasa takut, namun dia berusaha bersikap tenang. Kakinya berhenti melangkah saat dirinya dan Chiko saling berhadapan dengan jarak sekitar tiga langakh. "Maaf." Ucap April pelan dengan menundukkan pandangannya. Chiko selangkah maju dan menjawab, "Maaf untuk apa!" "Aku yakin kamu sudah melihatnya tadi, jadi sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya," jawab April.

__ADS_1



Chiko tersenyum, dia maju lagi selangkah dan dengan cepat meraih pinggang April hingga membuat wanita itu terkejut. Saat wajah April sedikit mengangkat dengan cepat Chiko mendaratkan kecupan di bibir manis April.


__ADS_2