
April tidak bisa menjauhkan tubuh Chiko darinya, lelaki itu terus membuat tubuh April menggeliat. “Chiko please. aku harus berangkat sekarang kasian Santi nanti kalau lama menunggu,” rengek manja April.
“Sebentar saja sayang, yuk,” sahut Chiko yang terus memberikan kecupan-kecupan singkatnya di leher serta bagian dada atas April.
“Ah nggak mau ah, sudah dong Chik,” keluh April dengan terus meronta pelan, dia tidak membalas semua sentuhan Chiko.
“Come on Pril, aku janji hanya lima menit, oke. Udah naik banget nih soalnya, pasti cepat kan kalau sudah begini, ayok!”
“Nggak!” Seru April sambil mendorong tubuh Chiko dan membuat dia frustasi.
April dapat melihat wajah kesal itu dan April tidak bisa melihat wajah Chiko seperti itu, yang ada nanti semua urusannya bisa amburadul. April menghela nafas kasar, dia mendekati Chiko dan merayu agar pria itu tidak marah padanya dengan menjanjikan jika malam nanti saat Chiko kembali dari kantor April akan langsung bersiap menyambut kedatangannya.
Mata Chiko memicing penuh ragu, April menyakinkan dirinya jika jajinya tidak akan dia ingkar. April merengek agar Chiko cepat meredakan amarahnya sebab waktu terus berjalan dan dia harus segera menyusul Sinta ke rumah sakit. Masih dengan wajah kesalnya Chiko mengangguk dan minta agar April cepat pergi karena jika tidak maka dia akan menerkamnya dan tidak akan dilepaskan sampai apa yang di mau terwujud.
April memberikan kecupan singkat di bibir Chiko yang sama sekali tidak dibalas pria itu, “Dadah sayangku yang baik yang ganteng yang semuanya pokoknya semua emua ...,” cerocos April dan berhasil membuat Chiko tersenyum setelah dia pergi.
Chiko segera merapikan diri, dia lupa jika dia ada meeting penting pagi ini dengan pengusaha besar dan jangan sampai dia telat. Mengingat hal itu Chiko langsung bergegas pergi bahkan dia tidak sarapan lebih dulu karena takut lupa waktu, Chiko memilih sarapan di tempat meeting jika waktunya cukup.
Intan bersiap untuk keluar dari rumah sakit, semua urusan administrasi selesai dan perawat juga sudah memperbolehkan dia untuk langsung pulang. Hanya ponsel yang dibawanya saat ini, itu juga dia masih sangat bersyukur ponselnya masih bisa ada di tangannya saat ini.
__ADS_1
Malam itu memang Intan tidak membawa dompet atau barang pribadi lainnya karena dia tidak perlu membawa itu semua jika pergi bersama Raya, Intan tinggal duduk manis dan minta apapun yang diinginkan. Mengingat Raya sedikit rasa iba muncul di benak Intan sesaat namun dia berpikir kembali tentang keadaan Raya saat ini yang lumpuh.
"Saat ini Raya sudah lumpuh, aku tidak mungkin bisa hidup dengan pria yang sudah tidak berdaya seperti itu, aku tidak akan sanggup dan aku juga tidak mau, walau aku akui memang menyukainya," tutur Intan sambil merapikan diri.
Tangannya masih di perban tetapi bisa ditutupi dengan baju lengan panjang yang ia kenakan saat ini, luka di kepala hanya sedikit memar bisa ditutupi dengan rambut. Hal yang tidak bisa ditutupi adalah kakinya yang masih sakit dan membuat dia berjalan sedikit pincang.
Rasa sakit di kaki juga seluruh tubuhnya masih sangat terasa namun Intan ingin segera keluar dari rumah sakit itu. Alasannya yang pertama sudah tentu dia tidak ingin jika nanti bertemu dengan Raya atau bisa jadi Raya akan mencarinya.
Intan sangat yakin jika Raya akan mencarinya ketika keadaan emosinya sudah stabil, tidak jauh dari dirinya yang menanyakan kondisi Raya karena mereka memang bersama saat itu.
Perawat datang dengan membawakan sarapan untuknya, Intan masih harus tinggal beberapa saat lagi karena ternyata masih ada satu dokumen yang harus ditandatanganinya. Selain itu Intan juga memang diminta untuk mengisi perutnya dulu sebelum dia keluar dari rumah sakit.
Di ruangan yang cukup sejuk Raya sudah membuka matanya, dia menatap ke arah luar jendela melihat pemandangan pagi yang cerah namun tidak dengan wajah juga perasaannya saat ini.
Raya sedang meratapi nasibnya, dia masih mencoba untuk berdamai dan menerima kenyataan namun belum bisa sampai detik ini. Raya masih sangat kalut, dia takut kehilangan semuanya yang sedang dimiliki saat ini termasuk Sinta dan Arya.
"Aku tidak tahu bagaimana hidupku nanti jika tanpa Sinta, kenapa ini harus terjadi ya Tuhan, apa ini karma atas perbuatanku! Kalau iya kenapa aku harus membuat aku selalu terjerumus dalam lubang yang sama," keluhnya dengan meratap sedih.
__ADS_1
"Intan! Yah dia, kami sudah sangat dekat dan dia juga bilang kalau dia menyukaiku, aku yakin setelah malam itu Sinta tidak akan mau menerimaku lagi apalagi dengan keadaanku saat ini, hanya Intan yang aku harapkan," ucapnya dengan wajah yang sedikit sumringah ketika teringat dengan wanita itu.
Raya clingak-clinguk seperti mencari sesuatu, laci yang ada di meja kecil samping tempat tidurnya di obrak abrik namun tetap dia tidak menemukan yang dicari. Pintu kamar terbuka, Raya berpaling melihat siapa yang datang dan ternyata perawat membawakan makanan pagi rutin untuknya.
Dia bertanya apa rumah sakit itu menemukan ponselnya saat kecelakaan dan perawat mengatakan iya namun dalam keadaan rusak, jadi ponsel itu diambil Sinta untuk diperbaiki.
"Ah sial! Kalau seperti ini bagaimana caranya agar aku bisa menghubungi Intan," geram Raya setelah suster itu pergi.
Raya mencoba tenang, dia kan memikirkan caranya setelah dia makan nanti karena saat ini perutnya memang terasa lapar dan orang lapar tidak akan bisa berpikir dengan baik, pikirnya.
Sinta sudah berada di parkiran, dia tidak langsung turun. Wanita itu lebih dulu menghubungi April dan menanyakan keberadaan temannya itu dan ternyata April sudah berada di area rumah sakit, Santi mengatakan jika dia menunggu April diperkirakan.
Beberapa saat kemudian mereka bertemu, Santi menawari April untuk sarapan lebih dulu dan kebetulan dia memang belum sarapan tadi karena diganggu Chiko. Mereka sarapan sebentar sambil ngobrol ringan, secangkir kopi panas diminta April sebagai tambahan.
April bertanya apa Sinta masih dengan keputusannya, apa keputusannya itu tidak akan goyang dengan kondisi Raya saat ini. Semua surat sudah selesai ditandatangani, sarapan tinggal sedikit lagi setelah itu Intan sudah pergi dari rumah sakit itu dan meninggalkan Raya.
Sampai detik ini Sinta mengatakan jika hatinya masih teguh dengan pendiriannya, mungkin karena dia sudah merasa capek dengan sikap Raya yang sampai saat ini tidak mau berubah. Kedua orang tuanya menyetujui keputusan itu dengan tidak menampik rasa iba mereka pada Raya.
__ADS_1
April dan Sinta berjalan sambil berbincang, sementara itu dengan jalan tertatih dan sedikit ketakutan lalu BRAK.