
"Boleh sekali lagi?" Tanya Chiko yang membuat pipi April memerah.
Baru kali ini April merasakan dirinya malu dihadapan pria, Chiko berhasil membuat sedikit demi sedikit hatinya luluh, rasa sakit karena dibohongi membuat dia tidak ingin memberikan rasa cintanya pada pria lagi.
Namun dengan sabar Chiko terus mendampingi dirinya, Chiko terus memberi cinta dan kebebasan memilih untuk dirinya. Chiko tidak pernah menuntut apapun, walau awalnya hubungan mereka hanya didasari oleh kesepakatan hitam di atas putih.
Namun lambat laun perlakuan Chiko bisa membuat hatinya sembuh bahkan mengenbangkan sayap cintanya kembali. Chiko kembali menepis jarak yang ada, pria itu kembali \*\*\*\*\*\*\* bibir lembut April.
Tangan April mencengkram kerah baju Chiko, terdengar sedikit gumaman dari bibir April. "Mmpp." Rasa tidak ingin mengakhiri apa yang mereka lakukan, merasa tidak ada yang melihat kelakuan mereka, mereka terus melakukan itu.
"Mmhh, Chik, sudah yah, sudah malam," ucap April saat dia melepaskan tautannya, dia merasa tidak akan bisa menahan hasratnya jika terus melakukan itu bersama Chiko.
"Aku rasa bukan itu alasan kamu melepaskan rasa, apa kamu takut!" Ucap Chiko sambil menatap April menyidik.
"Apa sih, benar karena itu, sudah malam juga kan, besok kita masih harus kerja," sahutnya dengan mengalihkan pandangan ke arah lain, April tidak mengerti kenapa dirinya bisa menjadi salah tingkah di depan Chiko, apa ini salah satu daya tariknya, hingga dia gampang membuat wanita bertekuk lutut.
April mengakui jika Chiko sangat menarik, jadi wajar jika dengan ketampanan, harta juga daya tariknya, dia busa dengan sangat mudah mendapatkan wanita manapun yang dia mau.
Chiko mendekatkan wajahnya ke telinga April dan berbisik, "Bukannya kamu takut gak bisa menahan hasrat kamu yah," goda Chiko yang berhasil membuat wajah April seperti udang rebus.
April beranjak dari duduknya, setelah dia berdiri dia membersihkan celananya yang sedikit kotor karena duduk diatas rumput. April minta Chiko untuk cepat berdiri, lalu kembali kedalam mobil dan pulang.
Melihat April salah tingkah pria itu hanya tertawa tipis, April tidak bisa menyembunyikan apa yang saat ini dirasakannya, Chiko bukan pria yang baru kenal satu wanita, dia tahu jika April berusaha untuk menghindar darinya.
Chiko berdiri, lalu dia membuat dirinya berhadapan dengan April yang sedang menyibukkan diri membersihkan pakaian. Satu teguran berhasil membuat April menghentikan gerakannya dan menoleh ke asal suara.
__ADS_1
Saat April menoleh Chiko cepat meraih pinggang ramping wanita itu, dia membuat tubuh April mendekat hingga menempel, lalu dengan cepat dia kembali memberikan \*\*\*\*\*\*\* di bibir lembut April.
"Mmpp," gumam April saat menerima serangan mendadak, dua bola matanya sedikit membesar, tangannya menahan agar tubuhnya tidak menempel ke tubuh Chiko.
April mendorong tubuh pria yang sedang membuat bibirnya terkatup, namun rangkulan tangan Chiko cukup kuat sampai April tidak bisa melepaskan diri dengan mudah. Akhirnya April pasrah, namun lama kelamaan kenapa Chiko malah semakin membuat tubuhnya merasa panas dan membuat dirinya hampir kehabisan nafas.
"Mmm," gumamnya dengan tangan yang memukul-mukul tubuh Chiko.
Chiko melepaskan \*\*\*\*\*\*\* nya, mereka lalu sama-sama ambil nafas setelah hampir saja kehabisan oksigen, merasa cukup April memukul tubuh Chiko seraya berkata dengan runtukannya, "Ih kamu itu yah, mau buat aku mati apa," dan Chiko hanya tertawa tanpa melepaskan rangkulannya.
"Kenapa kamu jadi ganas gitu sih, bikin jantung aku mau keluar rasanya," kembali dia berkata dengan wajah muramnya kini, membuat Chiko merasa semakin gemas.
"Kan tadi yang lembut sudah, sekarang kasar dikit gak masalah lah, biar bisa menikmati semua rasa," ujarnya dengan wajah yang membuat April kesal.
"Tapi aku masih mau sama kamu," rengeknya, tiba-tiba ponsel April bergetar. Tanpa menghiraukan Chiko yang masih membuat tubuh mereka dekat, April mengambil ponsel miliknya dari saku celana, dia melihat tertera nama Raya di layar ponselnya, seketika dia langsung melirik ke arah Chiko yang saat ini sedang melihat ke arahnya pada.
Itu sengaja tidak berkata apa-apa sampai akhirnya April sendiri yang berkata jika itu dari Raya, kemudian April minta izin pada Chiko apa boleh dia menjawabnya. Dan jawaban Chiko adalah silakan, karena dia tidak mau membuat wanitanya kecewa, tapi dengan syarat agar suaranya diperbesar benda.
Setelah menyetujui persyaratan dari Chiko, April pun mulai menjawab sambungan telepon tersebut. Raya menanyakan keberadaan April saat ini, dan dengan jujur April menjawab jika saat ini dia masih bersama Chiko. Mendengar hal itu Raya langsung bereaksi, dia berkata Kenapa sudah malam seperti ini mereka masih saja belum pulang.
April melirik ke arah Chiko dan Chiko hanya diam seolah dia tidak ingin mencampuri urusan April dengan Raya saat ini dia hanya ingin menjadi pendengar yang baik pada titik April Kemudian menceritakan apa saja yang sedang dilakukan dirinya dan Chiko, dia juga mengungkapkan kalau hal itu bukan urusannya.
"Kita sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi kita dengan pasangan, kamu ingat akan hal itu kan Ray," tukas April membuat pria itu diam sejenak.
__ADS_1
"Iya aku tahu, maaf. Aku hanya sekedar mengingatkan saja," ucap Raya, terdengar jika dia tidak ingin wanita itu marah, "Aku kangen Pril, aku ingin ketemu dengan kamu besok, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan langsung," ucapnya.
"Kamu bisa tanyakan sekarang,"
"Aku ingin ketemu, besok,"
"Besok jadwalku penuh,"
"Pulang kerja!"
"Mulai dari satu minggu yang lalu aku selalu pergi dan pulang dengan Chiko, jadi aku tidak ada waktu luang,"
"Bilang saja mau ketemu aku, dia kan sudah tahu hubungan kita,"
"Iya betul, tapi maaf Ray, bagaimanapun aku mengutamakan Chiko dibanding kamu, karena Chiko masa depan aku," tukas April yang membuat Raya sedikit meradang.
"Aku juga bisa jadi masa depan kamu Pril, aku sudah ratusan kali bilang itu sama kamu, tapi kamu tidak mau menikah denganku,"
"Jelas Ray, karena aku tidak ingin jadi yang kedua, dan kamu tau kan hal itu, kecuali kamu memutuskan bercerai dengan Santi istri dan anakmu itu, juga membiarkan Santi yang merawat Arya," tukas April yang sontak membuat Raya terdiam.
Mendengar apa yang dikatakan April kepada Raya, Chiko hanya tersenyum tipis. Entah gertakan atau bukan tapi Chiko merasa kalau April masih punya rasa pada Raya dan dia memiliki kecemburuan pada istri Raya, Santi.
Jika melepaskan rangkulannya, dia merasa tidak perlu mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Namun saat Chiko hendak melangkah, April menahan gerakannya.
__ADS_1
"Jangan pergi," pintanya, dan hal itu April katakan saat sambungan telepon itu masih berjalan.