
“San, berarti malam ini dan selanjutnya gak bakal ada yang buat sawah kamu basah dong, kering deh nanti,” ucap Chiko yang langsung membuat April berteriak memanggilnya.
"CHIKO!" Teriak April lalu memukul tangannya gemas cukup keras, hingga membuat Chiko meringis kesakitan. Santi tertawa mendengar serta melihat tingkah mereka berdua.
Santi bisa merasa sangat senang dan bahagia bersama mereka, dia bisa melupakan sejenak rasa kesalnya pada Raya. Karena jujur saat ini Santi membutuhkan itu, dia merasa dilema dengan keadaan yang dihadapi saat ini.
Santi sudah lelah menghadapi Raya yang selalu melakukan kesalahan yang sama, dia memaafkan setiap kesalahan Raya berharap jika Raya akan menyadari kesalahannya dan berubah. Tapi ternyata apa yang diinginkan tidak terjadi, Raya melakukan kesalahan yang sama lagi dan lagi.
Sejenak dia melihat pemandangan jalan di luar jendela, Santi berpikir apa dia harus melakukannya kali ini. Jika dia melakukannya lalu bagaimana nanti dengan Arya, apa dia akan baik-baik saja. Pertanyaan itu selalu terlintas di kepalanya, karena Santi tidak mau Arya terluka karena perpisahan dirinya nanti jika terjadi dengan Ayahnya.
April menepuk pelan paha Chiko, dia memberi tanda agar Chiko melihat Santi di kursi belakang. April sedikit khawatir dengan Santi, karena dia terlihat diam dan memikirkan kehidupan rumah tangganya. Chiko memberi isyarat agar April membiarkannya, karena menurut Chiko dia memang perlu ruang untuk sendiri.
Apa yang dialami Santi saat ini membuat pasangan ini prihatin, doa diberikan mereka pada Santi agar semua urusannya bisa diselesaikan cepat dan mudah serta baik untuk semua pihak. Sampai di depan gerbang rumah Santi, dia langsung pamit pada April dan Chiko.
Setelah Santi keluar dia mengucapkan kata terima kasihnya, "Makasih yah udah mau anter." Dengan senyum manis dan lambaian tangan.
"Iya sama-sama, kami pulang San, bye." Balas April membalas senyuman juga lambaian tangan Santi.
Setelah April dan Chiko menjauh, Santi masuk ke rumah dan dia disambut hangat oleh Arya anaknya. Arya langsung berlari serta memeluk Santi, hal ini yang membuat Santi kuat menghadapi Raya. Arya menjadi alasan kenapa dia mau bertahan dengan Raya, menghadapi semua kesalahan-kesalahan serta kekurangan Raya selama ini.
__ADS_1
Santi berkata jika malam ini dirinya akan tidur bersama Arya, rasa senangnya langsung terlihat di wajah anak kecil yang menggemaskan itu. Arya bersorak senang karena jarang sekali dia bisa tidur bersama Mamanya, Santi hanya menemani Arya saat dia hendak tidur dan saat dia sakit.
Mamah Santi datang menghampiri, melihat Mamah entah mengapa mata Santi jadi berkaca-kaca, dia langsung memeluk erat tubuh Mamanya itu, seolah ingin menumpahkan segala kesedihannya di bahu sang Mama. Mamah menghembuskan nafas panjang, dia tahu apa yang sedang dihadapi putri kesayangan dan satu-satunya itu saat ini.
Belaian lembut Mamah di kepala Santi juga ucapannya membuat Santi merasa sedikit tenang, beruntung Arya langsung pergi main saat Santi memeluk Mamanya, jadi anak itu tidak melihat kesedihan yang dialami Mamanya. Santi berusaha menghapus air matanya, Mamah minta mereka untuk duduk bersama dan bicara.
Mereka bicara di teras samping, Santi menceritakan kegundahan hatinya saat ini pada Mamah, tentang dilema hatinya mengenai masalah yang dihadapinya. Apa Santi harus mengambil keputusan yang sedari dulu memang sudah ingin dilakukannya, atau dia harus tetap bertahan dengan semua situasi saat ini serta terus berharap agar semuanya menjadi baik, apa mungkin dia akan membiarkan masalah yang ada seolah tidak terjadi apa-apa.
Mamah memberikan dekapan hangatnya, membuat Santi bersandar di bahunya. "Mamah hanya bisa mengatakan, apapun keputusan kamu Mama dan Ayah akan mendukung semuanya, yang tahu pasti bagaimana kamu serta yang akan menjalankan kamu, jadi kami sebagai orang tua hanya bisa berdoa yang terbaik," ujar Mamah.
"Kalau soal itu biar waktu yang menjawab, Arya anak baik dan Mamah yakin dia akan mengerti, kalian bisa atur itu sebaik mungkin."
"Apa Mama sama Ayah gak masalah jika nantinya aku terpaksa berpisah dengan Mas Raya?"
"Jika itu hal yang terbaik menurut kamu kenapa tidak, daripada kamu terus menahan hati, kecuali kamu masih mau terus bersabar dan masih mau menerima Raya."
Mamah memang seperti obat segala penyakit untuk Santi, Mamah selalu bisa membuat hati dan pikiran Santi menjadi lebih tenang. Santi berkata jika dia akan memikirkannya kembali, dia akan memikirkan semuanya baik-baik agar tidak ada penyesalan pada dirinya dilain waktu.
__ADS_1
Santi pamit untuk membersihkan diri, ucapan terima kasih terus terucap dari bibirnya untuk Mama. Memasuki kamar yang cukup besar kali ini Santi merasa sesuatu yang berbeda, bukan dia merasa sendiri menunggu Raya yang belum pulang, tapi mungkin kamar itu nantinya akan sepi seperti saat ini. Seluruh sudut kamar dipandangi, di ingat bagian mana saja yang sudah membuat dia dan Raya menikmati kebersamaan di tempat itu.
Hatinya merasa perih mengingat jika benar hal itu akan menjadi keputusannya, namun bagaimanapun juga semua harus dijalani apapun keputusan yang akan dia buat nanti. Malam ini Santi tidur bersama Arya, dia dapat dengan bebas memberikan kasih sayangnya malam itu pada Arya.
Dijalan April terus mengatakan jika dia prihatin dengan keadaan Santi saat ini, hal yang sama juga diucapkan Chiko. Namun Chiko bisa lebih bijak dalam melihat kejadian yang terjadi pada rumah tangga Santi dan Raya. Chiko berkata jika hal itu bisa dijadikan pelajaran oleh mereka, mereka bisa mengambil hal yang baik dan tidak untuk dijadikan bahan kedepannya buat hubungan mereka.
"Jujur aku kesal banget sama Raya tadi, dan tadi aku sempat sangat takut sama dia Chik, baru pertama kali aku melihat Raya semarah itu, dan parahnya lagi sama aku," ujar April.
"Yah, dia memang sangat marah tadi. Gimana gak marah dan tertekan, membayangkan semua yang sudah dia kerjakan akan hilang sekejap mata," jawab Chiko.
"Iya juga yah Chik, biar bagaimanapun Raya sudah sangat bekerja keras untuk perusahaan itu, dan sedikit perjuangannya aku tahu," ujarnya.
"Iya aku juga tau Pril, dan kamu tau kenapa hal ini semua bisa terjadi sekarang, itu karena keegoisan dia, gak bisa menahan diri dan merasa puas serta terlena dengan semua yang sudah dicapai."
"Memangnya kamu bisa nahan diri kamu? sepertinya sama aja," sindir April yang tepat sasaran.
"Yah sama sih, malah bisa dibilang parahan aku yah, tapi aku tetap berpikir melakukan semua itu, aku gak main hati melakukan semuanya, aku pakai otak gak pake perasaan, coz aku tahu banget bagaimana akibatnya kalau maen perasaan," jawab Chiko yang langsung diberikan tanda ibu jari oleh April.
__ADS_1
"Untungnya kamu gak seperti Raya, kalau kamu pakai perasaan sama yang lain nantinya bisa bucin kaya Raya," kembali sindiran halus keluar dari bibir April, lalu dia tertawa geli.