
"Jangan pergi," pintanya, dan hal itu April katakan saat sambungan telepon itu masih berjalan.
Chiko menghentikan langkahnya lalu dia menatap mata April yang memintanya untuk berhenti. Tatapan itu membuat Chiko tidak bisa untuk tidak memberikan apa yang April mau, akhirnya Chiko menghentikan langkahnya dan kembali, walaupun dia tidak menginginkan berada diantara perbincangan tersebut.
"Maaf Ray, aku harus tutup teleponnya, selamat malam," ucap April yang langsung menutup teleponnya.
April beranjak dari duduknya lalu dia berdiri dan memeluk Chiko, dia mengucapkan kata maaf lalu Chiko membalas pelukan itu dengan hangat, mereka kembali ke dalam mobil lalu Chiko melajukan kendaraan itu untuk mengantar April pulang.
Malam itu mereka berdua mendapat sedikit titik terang tentang bagaimana perasaan mereka masing-masing, hanya tinggal menunggu waktu kapan mereka akan mempersiapkan diri hingga benar-benar siap untuk serius menjalani hubungan.
Setelah April menutup sambungan teleponnya, kembali Raya dibuat rungsing, pria itu kembali dibuat kalut perasaannya oleh April, dan rasa kalutnya itu sedikit luapkan pada sang istri Santi. Keesokan pagi sikap Raya masih belum berubah, dia masih terlihat bete, hal itu membuat istrinya bertanya ada apa, namun Raya tidak menjawab.
Sebelum pergi kerja dia hanya memberi kecupan pada Arya anaknya, setelah itu pergi meninggalkan istrinya dengan tanda tanya besar. Lewat malam itu Chiko dan April terlihat sangat sumringah, kesenangan mereka tertular pada semua teman yang ada di kantor, malah Chiki memberikan sedikit rezekinya untuk teman-teman yang ada di ruang kerja April.
Hal itu membuat April merasa semakin dibuat senang oleh Chiki, selama beberapa hari Raya terus saja uring-uringan saat dia terus membayangkan kebahagiaan April dengan kekasihnya, dia tidak terima jika April tidak sama sekali menemuinya.
Berbagai cara dilakukan Raya supaya bisa bertemu dengan wanita itu. Empat hari berselang setelah itu Raya sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya, karena April masih belum mau menemuinya, sampai saat ini dia terus menghindar dan membuat Raya kesal karena harus terus menahan rasanya.
Sambil mengacak-acak rambutnya Raya menggerutu sendiri, matanya sudah mulai sedikit mengantuk, saat dia masuk ke kamar ternyata Santi sudah tidur pulas. Raya mendekat, melihat pakaian Santi yang tersibak membuat Raya sedikit bergairah.
"Malam ini harus tuntas, sepertinya aku akan melampiaskan nya ke Santi saja," ucap pelan Raya.
Pria itu terus mendekati sang istri, perlahan dia mulai naik ke atas ranjang yang berukuran besar, Raya menatapnya perlahan dia melihat seluruh lekuk tubuh sang istri yang saat ini membuatnya tersadar, jika sudah cukup lama dia belum memberikan kepuasan batin pada Santi istrinya.
Raya mulai memberikan sentuhan lembut hingga membuat tubuh Santi sedikit bergerak, setelah Santi mulai terbangun pria itu pun langsung memberikan kecupan kecupan singkat yang membuat desiran aneh menjalar di tubuh Santi sang istri. Raya berbisik jika malam ini dia ingin memberikan nafkah batin pada Santi, dengan sangat senang hati Santi pun menyambut apa yang diinginkan oleh suaminya itu.
__ADS_1
Santi merasakan ada yang berbeda dari Raya, malam ini Raya begitu panas, dia sedikit menggila hingga membuat Santi merasa kewalahan melayani nya. Namun dia ingin menjadi istri yang baik jadi sebisa mungkin Santi mengimbangi permainan raya yang sedikit gila kali ini menurutnya.
Akibat menahan hasrat nya cukup lama, mungkin hal itu yang membuat kali ini permainan Raya sedikit berbeda menurut Santi. Raya melampiaskan semua rasa dalam permainan itu, rasa kesal, marah juga rindu.
Santi merasa suaminya saat ini adalah bukan dirinya, Sudah beberapa tahun mereka menikah namun baru kali ini dia merasakan Raya yang begitu bergairah hingga membuat permainannya menggila.
'Apa karena dia menahan hasrat beberapa hari ini, jadi membuat dia uring-uringan dari kemarin dan baru ini terlampiaskan sampai menggebu-gebu seperti ini,' batin Santi.
Walau Santi dibuat kewalahan karena permainan itu, tapi dia merasa senang karena dia melihat rasa puas di wajah sang suami. Setelah mencapai klimaksnya Raya langsung melempar tubuhnya di sisi Santi, Santi mendekat karena penasaran dengan apa yang yang barusan dirasakannya jadi dia pun bertanya.
"Mas, kamu sedang ada masalah dikantor?"
"Tidak, kenapa?"
"Masa terasa seperti itu?"
"Iya!"
"Bukan rasa enak atau nikmat gitu!"
"Yah itu juga Mas, tapi berbeda saja, kamu ganas malam ini dan jujur aku sangat puas," pujinya.
"Apa aku kasar San, maaf yah,"
__ADS_1
"Iya, Kamu kasar sekali malam ini, tapi masih batas wajar dan aku suka kok, lebih strong," kembali pujian terlontar dari bibir Santi dan membuat dia malu.
Raya tertawa, lalu dia memeluk tubuh wanita yang sudah sangat baik dan sabar menemani dirinya selama ini, "Makasih yah," ucap Raya lalu memberikan kecupan singkat di kening Santi.
Raya bernafas lega, akhirnya dia bisa tidur dengan nyenyak malam ini, karena rasa yang membuat dirinya pusing dan uring-uringan sudah bisa dilepaskan.
Untuk beberapa hari kedepan sampai satu minggu Raya tidak menghubungi April. Hubungannya dengan Santi juga semakin dekat bahkan rutin dua hari sekali dia melakukan kewajibannya sebagai seorang suami, hal itu membuat Santi merasa bahagia, dia merasa Raya kembali seperti yang dulu.
Chiko baru saja keluar dari sebuah restoran bersama April, mereka baru saja menemui beberapa klien mereka disana. Pertemuan itu berjalan lancar, sampai akhirnya mereka semua pulang.
"Chiko!" Teriakan seorang wanita membuat obrolan Chiko dan April berhenti seketika. Mereka melihat seorang wanita cantik berjalan anggun sambil melambaikan tangannya ke arah Chiko.
"Ehem," sindir April, "Biasa aja liatnya," ejeknya. Chiko menoleh, dia tau maksud dari ucapan wanita itu.
"Aku bukan terpesona, tapi aku sedang mengingat siapa dia, jangan cemburu dong," ucap Chiko kembali memberikan ejekan.
Saat April ingin membalas ucapannya, ternyata wanita itu sudah berada beberapa langkah didepan mereka. Wanita itu menyapa Chiko dengan sangat raman.
"Hei Chik, akhirnya bisa ketemu kamu hari ini, i miss you so," ucap wanita itu lalu langsung merentangkan tangan hendak memeluk Chiko, tanpa melihat raut wajah wanita yang berada disampingnya.
"Stop wait, sorry but who are you?" Ujar Chiko sambil menggunakan tangannya agar wanita itu menghentikan gerakannya yang ingin memeluk Chiko.
Wanita itu penepuk pelan kening nya seraya berkata, "Ah my goodnes, kamu lupa sama aku Chik!" Dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
"Maaf tapi itu benar," jawabnya membuat wanita yang ada di hadapannya itu mengendus kesal.