SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
MAKAN MALAM 2


__ADS_3

DEG



Jantung Raya berhenti sejenak saat dia melihat April duduk di kursi itu, semua organ tubuhnya mengikuti mematung. Namun dia segera menyadarkan diri sebelum Santi menyadari hal itu, Raya seolah tidak mengenal April, hal yang sama dilakukan wanita itu.



"Hai, Raya,"



"Halo, April."



Sekedar itu, kemudian mereka duduk dan mulai makan bersama, April bersikap biasa, dia memang sudah bisa membaur dengan baik di keluarga Santi. Raya tidak bisa menyembunyikan kecemasannya, bahkan saat Arya menegur terlihat Raya sedikit melamun hingga anak itu harus memanggil Raya dua kali.



"Kamu kenapa Mas?" Tanya Santi sambil tangannya menyentuh pundak Raya dengan raut wajah sedikit cemas.



"Gak apa-apa, cuma sedikit mengantuk," jawab Raya, lalu dia sedikit memijat dua alisnya.



"Kamu mau istirahat sekarang! Apa perlu aku antar?" Ujar Santi, April sedikit menguping dan melirik mereka, karena saat ini April sedang berbincang dengan Mamah Santi masih dengan makan makanannya.



April sedikit tidak bisa fokus bicara dengan Mamah, karena dia ingin juga mengetahui bagaimana pasangan itu dirumah. Santi begitu perhatian pada Raya, begitu juga dengan kedua orang tua Santi.



Saat ditanya Santi, Raya menjawab dia hanya butuh mandi saja supaya bisa lebih segar. "Kenapa gak tidur saja Mas!"



"Masih ada yang aku harus kerjakan," jawabnya.



"Ray, kalau kamu mau ke atas silahkan, apa kamu mau langsung tidur," ucap Mamah saat melihat Raya dan Santi bicara.



"Tidak Mah, aku hanya butuh mandi saja biar sedikit segar,"



"Emm, ya sudah sana, gak masalah kalau mau lebih dulu,"



"Iya Mah, makasih," ucap Raya, lalu dia pamit untuk meninggalkan meja makan pada semuanya. Raya melangkah menuju kamarnya, dia berjalan dan berusaha sekuat tenaga tidak menoleh ke meja makan itu.


__ADS_1


"Kenapa April kesini sih, apa dia sengaja yah," ucap pelan Raya sambil melangkah, dia tidak bisa tenang April berada di rumah itu, "Dia juga sudah terlihat sangat dekat dengan Santi dan kedua orang tuanya, sejak kapan mereka saling kenal!" Ucap Raya, karena dia sama sekali tidak mengetahui hal itu.



Raya memilih membasahi seluruh tubuhnya, dari kepala dia sengaja membuat tubuhnya diguyur air yang turun dari lobang shower, kepala Raya sepertinya butuh suhu dinginnya air saat ini, banyak pertanyaan yang ada di kepalanya, juga banyak dugaan yang tiba-tiba muncul, membuat kepalanya terasa sedikit berat.



April masih berbincang seru dengan keluarga Santi, mereka melanjutkan obrolan setelah makan di ruang tengah. April bermain dengan Arya, anak itu sangat senang karena dapat Tante baru dan sangat menyenangkan.



"Pril, jarang loh Arya bisa langsung akrab sama orang, ya Mah," ujar Santi.



"Iya Pril, dia termasuk anak yang susah beradaptasi dengan orang baru," timpal Mamah.



"Masa sih, kok dari pertama kenal aku merasa dia tidak seperti itu, Arya sangat menyenangkan,"



"Karena itu aku heran, kok sama kamu bisa, kamu nyaman sepertinya menurut Arya," ujar Santi yang membuat April merasa sedikit malu.



Pukul setengah sembilan Mamah pamit untuk beristirahat, Santi lalu mengajak April berbincang di taman belakang sambil bermain dengan Arya. Banyak yang mereka ceritakan, Santi banyak bercerita tentang keluarga kecilnya.




Raya mempersiapkan diri agar dia bisa bersikap biasa saja depan April, namun saat sampai bawah Raya tidak menemukan mereka diruang tengah. Daripada mencari pikirnya, Raya menghubungi Santi untuk menanyakan keberadaan mereka.



"Aku di taman belakang Mas, kamu kesini saja, Arya disini," ucap Santi saat Raya menanyakan keberadaannya.



"Emm, ya sudah aku kesana, April sudah pulang?"



"Belum, dia disini sama aku, ya sudah kamu kesini, aku tunggu."



Ponsel ditutup, Raya melanjutkan langkahnya menuju taman belakang untuk menemui mereka. Sementara itu di lain kota Chiko sedang menikmati makan malam bersama beberapa koleganya, dia terlihat yang paling muda di sana, karena itu dia jadi pusat bully teman yang lain karena hanya dia yang belum menikah.



"Jangan salah, status saja dia belum nikah, tapi perjalanannya di atas kasur lebih banyak dia dari kita," gurau salah satu koleganya yang sontak membuat suasana menjadi riuh kembali setelah beberapa saat keramaian di meja itu mereda.



"Nah itu, tampaknya dia disini yang kita bully, padahal sebenarnya dia pemenang,"

__ADS_1



"Itu lah hebatnya Chiko, salut saya dengan anak muda yang satu ini, kalau saya punya Adik, pasti sudah saya berikan padanya,"



Kelakar mereka berhenti pukul sembilan malam, mereka sepakat pulang karena takut dijewer pasangannya gurau mereka. Saat mereka berkumpul ada satu mata indah yang terus melihat gerak gerik Chiko, dan kala melihat semua pergi hanya meninggalkan Chiko disana sendiri, sosok bermata indah itu tersenyum senang.



Chiko menghela nafas lega setelah mereka semua pergi, "Hah akhirnya, panas kuping dengar ocehan mereka," ucap Chiko lalu menenggak minuman terakhirnya. Dia beranjak dari duduknya, meraih jas yang diletakkan di sandaran kursi.



"Sudah mau pergi!" Tutur suara wanita yang berhasil menghentikan gerakannya. Chiko balik badan kembali saat mendengar suara wanita itu, pria itu melihat wanita cantik dengan tampilan serta senyum yang sangat menggoda.



Chiko tersenyum tipis, "Maaf, siapa yah?" Tanya Chiko dengan wajah sedikit bingung, "Sepertinya saya tidak mengenal anda, atau saya lupa!" Timpal Chiko.



Wanita itu tersenyum tipis, dia menggeser kursi yang ada di sampingnya dan duduk santai dengan menyilangkan satu kaki, hingga dressnya yang mempunyai belahan di samping semakin tersibak dan membuat kemulusan kulit kakinya jelas terlihat.



"Aku Aura, kita memang tidak saling kenal, karena aku memperkenalkan diri terlebih dahulu," ucap Aura dengan gaya khasnya, Chiko tertawa tipis, "Lalu, apa aku harus menerima salam kenal kamu atau sebaliknya," jawab Chiko dengan posisi yang masih berdiri memegang jasnya.



"Emm terserah sih, tapi apapun keputusan kamu, mau kamu kenal atau tidak dengan aku bagiku tidak masalah, yang terpenting dan harus kamu jawab itu cuma satu," ujar wanita itu lalu menatap diam dan sedikit dibuat menggoda dengan gayanya yang terlihat sangat elegan.



"Apa itu!" Sahut Chiko yang terpancing juga rasa penasarannya, namun dia masih membuat dirinya untuk bersikap tenang, tidak membuat reaksi terpancing atau terpesona oleh wanita itu.



"Aku ingin one stand night denganmu, apa kamu mau!" Ucap Aura yang membuat Chiko tertawa tipis dan membuat mereka saling bertatapan.



Sementara di rumah Raya sudah bergabung dengan mereka, baru beberapa menit mereka berbincang Arya sudah merengek minta susu.



"Mas, kamu temani April yah, aku tidurin Arya dulu," pinta Santi.



"Aku saja yang tiduri Arya, kamu disini sama April," jawab Raya.



"Memangnya bisa Arya tidur kalau sama kamu,"



"Kamu percaya meninggalkan aku dan Suamimu disini?"

__ADS_1


__ADS_2