SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
WEEKEND


__ADS_3

Pagi dini hari yang panas itu membuat tubuh mereka merasa kelelahan dengan sangat, karena permainan yang banyak mengeluarkan tenaga itu membuat keduanya tidur seperti orang pingsan. Chiko langsung terlelap masih dengan tubuh yang hanya ditutup selimut tebal, sedangkan April sudah mengenakan pakaian tidurnya kembali.



Raya pulang masih dengan perasaan tidak terimanya jika dia saat ini menjadi bawahan Chiko, pria yang jadi rivalnya saat ini. ‘Masa masalah April aku sudah kalah, masalah pekerjaan juga aku harus tunduk dengan dia, aku merasa sangat tidak rela.’ Batinnya.



Papa mertuanya sangat mengetahui jika menantunya itu masih tidak suka dengan apa yang dihasilkan oleh meeting tadi, dia terlihat jelas oleh orang tua itu sangat tidak menyukai jika harus bergabung dengan Chiko. Dalam perjalanan Papa mertuanya itu terus memberikan pengertian pada Raya, jika itu adalah jalan terbaik saat ini yang harus mereka lakukan, kalau nanti Raya bisa membuat perusahaannya itu kembali maju lebih pesat dari saat di pegang Chiko setelah perjanjian, dia tidak perlu lagi bergabung dengan perusahaan besar itu.



Raya juga terus mengatakan bagaimana jika begitu dan bagaimana jika seperti ini, dia mengeluarkan semua isi kepalanya jika nanti dia bergabung dengan perusahaan mega itu, Papah tahu serta mengerti semua kecemasan Raya saat ini, orang tua itu terus memberikan arahan dengan bijak agar Raya perlahan bisa menerima jika memang harus seperti itu.



Sampai dirumah ternyata Santi belum tidur, dia ada di ruangan tengah memang sengaja menunggu kepulangan Papa serta Suaminya itu. Saat mereka datang Santi langsung menyambutnya, dia juga menawarkan makan untuk keduanya, namun keduanya sudah terlihat sangat lelah hingga mereka memilih untuk segera beristirahat, karena disana memang sudah makan juga tadi.



Melihat wajah Raya yang kesal, Santi paham apa yang terjadi di meeting itu, ‘Pasti hasilnya tidak bagus, sampai kesalnya terbawa ke rumah.’ benak Santi yang terus mengikuti langkah Raya menuju kamar. Sampai kamar Raya melempar jasnya ke atas kursi, sambil membuka kancing kemejanya Raya terus berjalan masuk ke kamar mandi.



Santi menghela nafas kasar, lalu mengambil jas yang dilempar Raya sembarang, dia meletakkan di tempat yang seharusnya. "Sepertinya memang sedang kacau suasana hati Raya, aku bicarakan nanti saja deh."



Santi naik keatas tempat tidur, lalu tarik selimut tebalnya memilih beristirahat, karena dia tahu jika Raya seperti itu lebih baik dia diam, karena dia tahu jika Raya sedang seperti itu di tegurnya, maka yang ada emosinya bisa semakin tinggi.



Raya keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan boxer, dia melihat Santi sudah merebahkan tubuhnya dan ditutupi dengan selimut tebal. Raya menghela nafas, dia jadi merasa sangat bersalah karena sikapnya tadi, "Dia pasti aku sedang tidak baik, Maaf yah San." Ucapnya dengan tatapan sedikit tidak enak.



Raya tidak langsung tidur, dia melangkah ke meja kerjanya yang ada di sudut kamar itu. Laptopnya dibuka dia menatap layarnya lalu mengambil beberapa bekas yang berada dalam tasnya tadi, dan dibawa saat meeting.



Raya langsung cek semua berkas yang kira-kira akan diberikan kepada Chiko, dia juga membaca berkas perjanjian yang diberikan Chiko tadi dan mempelajarinya. Chiko terus berada di depan layar benda pilihnya sampai dia merasa lelah dan menahan kantuk.


__ADS_1


Pria itu ketiduran di depan alat kerjanya, Raya mencari cara agar perusahaan yang dipimpinnya sekarang ini tidak berada dalam dalam lingkup perusahaan Chiko. Namun beberapa jam dia sudah mencari, tapi ternyata Raya masih tidak menemukan jalan.



Beruntung esok pagi adalah weekend, jadi dua insan yang sangat kelelahan itu tidak harus terbangun pagi hari untuk bekerja. Mereka bisa membuat tubuh mereka benar-benar beristirahat, sampai akhirnya April yang terbangun lebih dulu.



Dia sedikit terkejut saat melihat waktu saat ini, "Ya ampun udah jam sepuluh aja, nyenyak banget tidurnya sampai gak dengar apapun." Ucapnya, lalu dia beranjak dari tidurnya dan bersandar di ujung tempat tidur.



April tersenyum saat melihat Chiko masih sangat terlelap dalam tidurnya, bayi besarnya itu membuat dirinya selalu tersenyum kala melihat sosok itu. April terus menatap wajah polos Chiko, perlahan tangannya mulai membelai kepala pria itu.



"Sepertinya benar, aku sudah terpatri oleh pria ini." Ucapnya pelan. Saat bersama Chiko dia bisa melupakan Raya, namun saat bersama Raya dia juga kadang masih bisa menghilangkan Chiko dari pikirannya.



April membiarkan Chiko bangun semaunya, sementara itu dia beranjak untuk mulai mengerjakan rutinitas pagi untuk selanjutnya merapikan rumah. Saat dia sedang asik memasak, ponselnya berbunyi, April meraihnya dan langsung menjawab tanpa melihat siapa yang menghubungi.




"Hai Pril, ini aku," seru wanita yang berada di ujung telepon itu.



"Eh, Santi yah, ada apa?"



"Iya, ketemuan yuk, ada yang mau aku diskusikan nih,"



"Emm, kapan?"



"Aku maunya sekarang, bisa gak?"

__ADS_1



"Wah kalau sekarang gak bisa, aku masih masak nih," jawab April lalu tertawa.



Setelah mendengar jawaban April akhirnya Santi memberikan waktu pada wanita itu, Santi mengatakan jika dia ingin bertemu dua jam dari sekarang dan dia akan Share tempatnya nanti melalui pesan singkat.



Setelah mengatakan apa yang ingin diungkapkan, Santi memutuskan sambungan telepon. April kembali meletakkan ponselnya dan melanjutkan memasak untuk makan siang ia dan Chiko nanti.



Pukul dua belas kurang tiga puluh menit, April sudah selesai dengan masakannya, dia lalu kembali ke kamar untuk melihat keadaan Chiko dan ternyata pria itu masih juga belum terbangun dari tidurnya pada.



April merasa tidak tega membangunkan Chiko, karena hari ini juga hari libur jadi dia membiarkannya tetap terlelap dengan mimpinya. Wanita itu lalu membersihkan diri setelah itu sedikit bersolek untuk bertemu dengan Santi di tempat yang sudah ditentukan.



April meninggalkan pesan yang mengatakan bahwa dirinya sedang bertemu Santi saat ini, dia juga mengatakan jika di dapur sudah ada makanan untuk dimakan Chiko dan kalau Ciko mau menyusulnya dia akan mengatakan di mana tempatnya.



Sampai di tempat itu ternyata Santi sudah berada di sana bersama dengan Arya anaknya, dia lalu menghampirinya dan saling menyapa. Sedikit basa-basi diperbincangkan awal pertemuan dan gurauan singkat. April bermain dengan Arya sebentar karena anak itu terus mengajaknya untuk bermain bersama.



"Apa yang mau kamu diskusikan?" Tanya April saat sudah beberapa lama bersama.



Santi mengatakan jika dia ingin mendiskusikan masalah acara ulang tahun Arya, dia ingin minta pendapat April tentang apa yang sudah dipilihnya untuk Arya juga beberapa hal yang ingin ditanyakan Santi juga mengenai pendapat April untuk pilihannya.



"Gak coba minta pendapat Mas Raya, dia kan bisa ambil andil dalam hal ini,"



"Sudah Pril, aku sudah berusaha untuk minta waktu mendiskusikan hal ini, tapi dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia menyerahkan semuanya sama aku, dia hanya ingin nanti saat acara tinggal datang dan menyaksikan.

__ADS_1


__ADS_2