SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
TONTONAN SERU


__ADS_3

"Wah ada yang mau jalan-jalan nih, boleh ikut gak!" Ucap seseorang yang baru saja datang.



Semua mata tertuju padanya, anak lelaki kecil itu langsung berlari kecil dan menumbuk tubuh wanita paruh baya yang sedang melangkah menuju mereka. Wanita paruh baya itu lalu menggendong Arya dan membawanya serta melangkah lalu duduk di kursi meja makan.



"Mah," sapa Raya dan Santi berbarengan.



"Emm, ada rencana mau ajak Arya jalan Ray?" Tanya Mamah, "Apa kamu sudah lebih baik, bukannya pagi tadi kamu sakit?" Timpalnya.



"Iya Mah, aku ada rencana mau ajak Arya dan semuanya," jawab Raya, "Aku semalam memang tidak bisa tidur Mah, gak tau kenapa sampai pagi, pusing kepalaku dan setelah tidur sudah membaik kok," timpalnya.



"Emm, ya sudah kalau seperti itu, selamat bersenang-senang yah cucu Oma," ujar Oma Uti sambil memberikan kecupan singkat di kening Arya.



"Oma gak ikut?"



"Tidak, Oma sama Opa di rumah aja, nunggu oleh-oleh kamu," jawabnya sambil memberi cubitan gemas di pipi Arya.



Arya memeluk tubuh Oma yang sangat disayanginya, Santi sampai kembali menanyakan apa benar Mamanya itu tidak ingin ikut pergi bersama mereka dan jawabannya tetap sama, Mamanya berkata moment ini jadikan sebagai quality timenya keluarga kecil Raya dan Santi.



Karena tidak gampang membuat Raya spontan ajak keluarganya pergi bersama, apalagi di hari kerja. Setelah mendengar semua ucapan Oma Uti, Raya dan Santi pergi untuk mencoba beristirahat siang, sedangkan Raya lebih memilih pergi ke ruang kerjanya untuk cek pekerjaan hari ini dengan menghubungi asistennya di kantor.



Di ruangan lain Chiko dan April masih berkutat dengan pekerjaan mereka, ternyata meeting yang dilakukan kali ini cukup alot, bahkan membuat Chiko sedikit naik darah. Pukul dua belas siang waktunya break, Chiko dan April merapikan alat kerjanya untuk kemudian mereka pergi keluar untuk mencari makan, mereka hanya keluar mencari tempat di sekitaran kantor.



Waktu makan mereka hanya sekitar 1 jam, sedangkan jarak dari atas ke bawah itu memerlukan waktu belum makan jadi saat makan mereka hanya mempunyai sedikit waktu untuk berbincang. Selesai makan mereka Langsung kembali menuju ruang meeting karena beberapa hal masih menggantung dan membuat Chiko sedikit kesulitan.



Pukul setengah empat akhirnya mereka bisa bernafas lega, rapat itu dihentikan oleh Chiko karena dia merasa sudah cukup untuk hari ini, dan sisanya dia akan coba sendiri nanti. Semua pamit satu persatu, April juga sudah merapikan semua barang nya ke tempat semula, tinggal dia masukkan file yang bagian terakhir saja.



"Kita pergi yah setelah ini, ada yang mau aku beli," ucap Chiko dengan tubuh lelah yang disandarkan di kursi kebesarannya.



"Kemana, tumben ajak aku!"


__ADS_1


"Sekalian ada yang ingin aku bicarakan, tapi bawa laptopnya yah,"



"Ya ampun Chik, pekerjaannya gak bisa di tinggal yah," sindir April.



"Yah kamu lihat sendiri tadi Pril, masih belum selesai, nanti sambil makan aku bisa cek lagi,"



"Katanya mau bicara sama aku, lalu kalau sambil makan kamu cek kapan ngobrolnya dong,"



"Bisa, sambil," sahutnya.



April menghela nafas kasar, dia lalu masukkan laptop kerja Chiko ke dalam tasnya, "Kapan perginya?" "Sekarang aja deh, udah jam empat kan," "Emm."



Chiko dan April keluar dari ruangan itu, saat melintasi ruangannya ternyata Dwi masih berada disana, wanita itu menunggu di kursi tunggu depan karena ruang Chiko dikunci olehnya, jadi dia tidak bisa sembarangan masuk.



Saat melihat Chiko dan April melintas di ujung jalan dan malah lurus tidak belok ke ruangannya, Dwi langsung berteriak memanggil nama Chiko sambil berlari mengejarnya. Mendengar ada yang memanggilnya spontan Chiko menoleh, "Ya ampun tuh cewek, ngapain masih disini aja sampe jam segini," gerutu Chiko seiring dengan tangannya satu menepuk kening.



"Dia mantan kamu atau selir sih, nekat banget sampai segitu nya pingin ketemu kamu."




Dwi menghentikan larinya dengan menahan tubuhnya semakin maju, Chiko tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan April. Dwi menatap nanar April yang menghalangi dirinya.



"Jangan lancang kamu, menyingkir dari sana!" Sentak Dwi sambil menunjuk seraya memerintah April.



"Maaf, aku harap kamu tidak mendekati pria ini lagi, Apa kamu tidak melihat jika Chiko tidak merespon dirimu, sadarlah," tukas April yang membuat Dwi geram.



"Hei, siapa kamu berani meminta aku tidak mendekati Chiko, sebelum kamu kenal dia aku sudah mengenalnya lebih dulu," teriak Dwi.



"Kenal lama tapi tidak ada hubungan kan!" Sindir April.



"Beraninya kamu!" Kembali teriakan terdengar cukup kencang hingga membuat semua yang ada di sana melihat ke arah mereka, tangan Dwi melayang hendak memukul April, Chiko sudah siaga namun ternyata April sudah siap dengan semua kemungkinan itu.

__ADS_1



April menahan gerakan tangan Dwi, dia berhasil menangkap serta menahannya dengan sangat sempurna, "Wow." Kata Chiko kagum dengan apa yang dilakukan April.



"Jangan pernah coba lakukan itu padaku, dan jangan dekati Chiko lagi karena dia adalah milikku!" Tandas April dengan tatapan yang cukup mengerikan menurut Dwi diarahkan padanya.



Melihat Dwi diam dengan wajah yang mulai pucat, April melepaskan tangan itu perlahan dengan kembali berkata, "Ingat, jika aku melihat kamu berani mendekatinya lagi, aku akan melakukan lebih dari ini."



Dengan raut wajah yang ketakutan Dwi menelan salivanya mendapat ancaman seperti itu dari April, di mata Dwi wanita itu sangat mengerikan, dengan tatapan nanar serta wajah garangnya, tanpa bisa berkata lagi Dwi langsung pergi meninggalkan April dan Chiko.



Suara riuh terdengar, bisik-bisik para karyawan yang berada di tempat itu sedikit terdengar oleh telinga April dan Chiko.



"Wah keren Bu April,"



"Suka gua gayanya,"



"Badass men,"



"Salut gua, beruntung banget Pak Chiko,"



"Jangan macem-macem makanya sama Bu April." Sebagian kata yang terdengar dari bibir para bawahannya.



Dwi pergi dengan wajah merah karena malu, marah dengan tatapan para karyawan disana, juga omongan mereka yang sampai ke telinga Dwi yang membuat dia semakin merasa malu, ada yang bilang dia pelakor, gak tau malu dan semacamnya.



Tepuk tangan terdengar dari arah belakang, Chiko bertepuk tangan dari arah belakang lalu perlahan maju ke depan April, dengan senyum bangga menghiasi wajah tampannya.



"Keren Pril, sangat keren dan berani, bravo, jujur aku suka malah suka banget," puji Chiko membuat pipi April merona merah.



Melihat para karyawan nya masih ingin melihat kelanjutan kisah mereka, Chiko tiba-tiba memeluk April hingga kembali membuat dia merasa malu dan membuat wajah April seperti udang rebus.



"Lepasin Chik, malu di liatin!"

__ADS_1



"Sssttt, aku sengaja, biar mereka bisa lihat adegan seru yang akan aku mainkan selanjutnya denganmu," jawab Chiko yang membuat pikiran April berkelana.


__ADS_2