
April sedikit terkejut mendengar pengakuan Dito, dia tidak mengetahui jika Chiko sudah menyukainya sejak lama. Tapi dia masih belum yakin dengan ucapan Dito. "Kaai emang dia suka sama gua, kenapa dia terus main sama cewek gak jelas, kenapa dia malah ngebiarin gua terus sama Raya."
Dito menjelaskan jika April itu tidak peka, Chiko sudah berusaha minta agar April melepaskan Raya, namun saat itu April masih memiliki perasaan dendam pada Raya jadi hatinya tidak bisa digeser. Chiko saat itu memang masih suka bermain dengan wanita, namun mereka hanya menemani Chiko agar perasaan gundahnya yang memikirkan April sedang bersama Raya itu hilang.
"Dia hanya ingin menghilangkan bayangan lo aja Pril, dia gak bisa sendiri saat lo sama Raya, gila aja lo, mana ada juga yang bisa seperti itu,"
"Gua udah emang udah gak ada perasaan sama Raya, tapi kalau ketemu suka masih agar ser ser gimana gitu,"
"Makanya jangan ketemu,"
"Udah gua bilang, gua udah lama bilang ke Raya kalau gua udah gak mau ketemu dan hubungan ini berakhir,"
"Jawabannya adalah!"
"Dia gak mau, makanya sekarang jadi gua yang sudah, karena Raya terus ngejar gua seolah gak mau lepasin gua,"
"Itu karena dia merasa dipermainkan sama lo, jadi dia gitu, kaya dulu aja lo sama dia gimana yah sama."
Mereka bicara banyak pagi menjelang siang itu, bahkan sampai mereka lupa waktu. Jika tidak diingatkan untuk makan siang mereka tidak akan sadar saat itu pukul berapa, setelah makan siang April minta agar Chiko tidak khawatir padanya, April minta tolong Dito agar menyampaikan jika malam ini dia akan pulang.
__ADS_1
Tetapi untuk saat ini dia masih ingin berada di tempat itu, juga dia tidak ingin mengaktifkan ponselnya dulu. Dito menghargai apa yang menjadi keputusan April, dia meninggalkan April untuk tetap berada disana dan dia akan menyampaikan semua yang April katakan tadi pada Chiko.
Sore menjelang pulang kantor Chiko baru bisa menghubungi Dito, dia langsung menanyakan keadaan April. Tadi Dito baru mengirim pesan jika dia sudah menemukan April dengan keadaan baik, tapi belum menyampaikan apa yang dikatakan April.
Langkah Dito sedikit cepat menuju ruangan Chiko, setelah mendapat telepon dari Chiko dia langsung meluncur untuk mengatakan apa yang diucapkan April untuknya. Mereka keluar dari gedung tinggi itu setelah Dito menyampaikan pesan April, Chiko pulang kerumah April sore ini, Pria itu ingin menyiapkan sesuatu untuk wanitanya kala dia pulang nanti.
Sampai dirumah Chiko merapikan semua isi rumah April, dia membuat sedikit dekor romantis di kamar April. Lilin-lilin kecil dipasang, ada beberapa buket bunga juga taburan kelopak bunga mawar di lantai. Chiko menyiapkan satu kotak kecil hadiah khusus untuk April dan diletakkan di atas kasur dihiasi bunga mawar putih dan merah yang cantik.
Sebelum sampai ke rumah Chiko menyempatkan diri untuk membeli bahan makanan, dia ingin memasak sesuatu yang spesial untuk April dan itu harus dibuat oleh tangannya sendiri. Chiko masak makanan kesukaan April, Bos muda itu pintar memasak karena dia sudah lama hidup mandiri. Beberapa makanan dibuatnya, juga ada dessert yang pasti akan disukai oleh April.
Selesai masak Chiko menata meja agar terlihat cantik dan romantis, dan semua yang dilakukan selesai pukul delapan malam. "Sudah jam delapan aja, tapi kok April belum pulang juga yan." Ucap Chiko yang sangat menunggu kedatangan April. Selama menunggu April datang Chiko membersihkan diri terlebih dahulu, akibat masak juga merapikan rumah, tubuhnya menjadi berkeringat kembali.
"Hei, lo gak jadi balik?" Tanya Feni dan duduk disamping April.
"Jadilah, kalau gak jadi bisa besok ada yang datang dan bawa gua paksa Fen," gurau April.
"Nah lo masih rebahan aja, perasaan bilang pulang jam setengah tujuh, ini udah lewat mau satu jam masih mager aja lo,"
"Iya nih, gak tau kenapa. Anter gua yah," pinta April yang direspon raut malas Feni, "Kan ada maunya, dasar lo males banget sih gerak," gerutu Feni, "Iya nih, nanti gua kaaih ongkosnya deh," "Berapa? Klo kecil males gua nganternya," "Ya ela Fen sama temen juga."
__ADS_1
Langit semakin gelap, cuaca mendung dan angin malam serta cuaca membuat April kedinginan di belakang Feni. April diantar Feni menggunakan sepeda motor, karena saat itu mobil Feni sedang dalam perbaikan. Feni meluncur semakin cepat saat terdengar suara petir menyambar.
"Jangan hujan dulu ya Tuhan, sebelum aku balik lagi kerumah," teriak Feni sangat kencang, pengharapan Feni itu membuat April tertawa.
Feni tidak mampir kerumah April, bahkan turun dari atas motornya pun dia tidak. Karena Feni takut nanti hujan keburu turun, setelah April turun Feni langsung pamit dan meluncur cepat kembali kerumahnya. April melihat ada kendaraan Chiko, senyum senangnya terlihat jelas di wajah cantik itu.
April melangkah ringan masuk ke rumah, lampu bagian depan sudah mati namun terlihat jelas jika lampu dapur masih menyala. April melanjutkan langkahnya kesana, matanya membulat sempurna dengan wajah seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ada beberapa makanan kesukaan dia tertata cantik di atas meja, April langsung mencicipinya.
"Ini masakan Chiko!" Ucapnya sumringah, lalu dia melihat memang ada bekas cucian piring. April langsung berjalan cepat menuju kamar, saat melihat bagaimana kamar itu berubah, April merasa hatinya sama berbunganya dengan kamar itu.
"Cantik banget …." Ucapnya memuji dekorasi kamar yang indah. Namun raut wajahnya berubah saat dia melihat tubuh tergeletak tidak berdaya di kursi panjang depan jendela. Matanya dipertajam, kerut keningnya terlihat dan April mendekat perlahan.
Chiko tidur dengan bertelanjang dada, dia terlihat sangat lelap dan lelah dalam tidurnya. April tersenyum, "Kamu lama yah nunggu aku Chik, maaf yah kalau aku gak peka sama kamu." Ucapnya.
Tangan Chiko yang menggantung dibenarkan posisinya agar tidak terasa sakit nanti. "Kamu sudah pulang?" Ucap serak Chiko yang terbangun saat tangannya digerakkan.
"Maaf yah aku sudah buat kamu terbangun," ucap rasa bersalah April, Chiko hanya tersenyum tipis dengan mata yang sangat berat untuk dibuka. "Tidur di kasur aja Chik," "Aku udah malas pindah," "Aku bantu," sahut April, lalu dia membantu Chiko pindah ke atas tempat tidur.
"Temani aku," "Iya, tapi aku mau salin dulu yah," jawab April, lalu melepaskan tangan Chiko dan beranjak untuk berganti pakaian.
__ADS_1
April mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, kali ini April menggunakan pakaian tidurnya yang sangat transparan. "Malam ini aku akan melayani kamu sepenuh hati."