
Mendengar ancaman Santi wajah Raya langsung berubah pucat, dia tidak mengira jika Istrinya saat ini berani berkata seperti itu padanya. Raya merasa sangat mengenal Santi dengan baik, dia yakin jika Santi tidak akan berani melakukan hal itu, bahkan Santi akan tetap menerima dirinya dan memaafkan jika dia melakukan kesalahan.
Saat ini setelah Santi berkata dengan lugas, entah kenapa ada perasaan takut di benak Pria itu. Raya merasa kali ini ada aura berbeda dirasakan Santi saat dia mengucapkan hal itu, seperti terdengar bukan hanya sekedar gertakan saja, tapi Raya merasa jika itu adalah ancaman serius.
Ancaman yang keluar dari dalam hati Santi dan sepertinya tidak main-main kali ini. Santi melihat dengan sorot tajam ke Raya, baru kali ini Raya melihat Santi seperti itu. Raya seolah tidak bisa bicara melihat Santi dengan tatapan nanarnya, "Kali ini aku sangat serius Mas, aku tidak menggertak atau hanya mengancam, semua yang aku ucapkan akan aku lakukan." Ujar Santi.
Santi beranjak dari tempat tidur itu, dia melangkah keluar kamar meninggalkan Raya dengan perasaan heran serta kagetnya melihat perubahan yang terjadi pada diri Santi saat ini. "Damn! Kenapa Santi bisa seberani itu sama aku sekarang, apa ini semua ajaran April atau mungkin si Chiko yang sudah mempengaruhi Santi supaya berani sama aku." Gerutu Raya.
Keluar dari kamar itu Santi menghela nafas panjang, jujur dia sangat gemetaran karena baru kali ini dia bersikap berani pada Raya seperti itu. Malam ini Santi memutuskan untuk tidur di kamar Arya, mungkin sampai beberapa hari rencananya agar Raya sadar dengan perbuatannya yang salah. Tubuh Raya terus bolak balik tidak karuan, ancaman Santi terus terngiang di telinganya apalagi saat Santi mengatakan dia dipastikan tidak akan membawa apapun dari rumah itu.
Sontak itu membuat Raya ketakutan, terbayang dahulu saat dirinya masih menjadi ob di perusahaan itu. Bersyukur berkat kerja kerasnya dia bisa diangkat menjadi karyawan disana, sikap baik namun ada maksud membawa otak piciknya bekerja bagaimana cara mendapatkan uang cepat. Santi memang sangat mempesona begitu pula Raya, berdua memang saling ada rasa namun Raya hanya sekedar suka, tapi ternyata Santi sangat menyukainya.
Kehidupan yang keras dulu saat susah hanya untuk membeli pakaian dan lain sebagainya terlintas di benak Raya, dia berpikir jika dia tidak ingin kembali kemasa itu. Masa-masa sulit yang bahkan membayangkanya saja Raya sudah tidak ingin. “Tidak mungkin Santi tega, sedangkan aku adalah Ayah dari anaknya, dan juga tidak akan ada yang melanjutkan perusahaan itu kalau bukan aku.” ucap Raya.
Tiga hari berlalu, keadaan rumah tangga Raya dan Santi saat ini seperti bom yang siap meledak, seperti apa yang diucapkan Santi kala itu jika dia akan menyelidiki semuanya dia pun melakukan. Semua bukti diserahkan langsung di harapan Raya saat dia sedang merapikan diri untuk pulang. Tiba-tiba Santi datang dengan melempar amplop coklat seraya berucap, “Itu semua bukti perselingkuhan kamu selama ini, aku tidak menyangka jika bukan hanya April Mas, pintar sekali kamu,” ujar Santi dengan wajah sinis dan masih tetap berdiri.
__ADS_1
Raya masih bersikap tenang, di ambil amplop coklat dari atas meja kerjanya dan dibuka. Matanya membulat sempurna saat dia melihat ada cukup banyak foto dia dan April, juga bersama Intan yang yang lain. Raya menelan salivanya lalu melihat Santi yang saat ini menatapnya nanar.
“Dari mana kamu dapatkan ini semua, apa Chiko yang sudah membantu kamu juga menghasut agar kamu berani seperti ini padaku San,”
Senyum menyeringai terlihat di wajah Santi, “Kamu masih saja menyalahkan orang Mas, apa kamu tidak sadar diri juga. Aku seperti ini karena aku sudah sangat jengah dengan semua perilaku nakalmu, kamu pikir selama ini aku tidak pernah tahu apa yang kamu lakukan di luaran sana. Aku bukan wanita rumahan Mas, aku pernah bekerja dan menjabat sebagai atasan sebelum kamu, kalau masalah ini hal kecil untukku,” jawab Santi dengan sangat percaya dirinya.
Santi lalu menggeser kursi yang ada di depannya, kemudian duduk sambil menyilangkan satu kaki. Dengan wajah bijaknya dia berkata, “Aku selama ini sudah sangat bersabar menghadapi kamu Mas, aku selalu berharap jika kamu akan berubah selama ini, karena itu kau masih sabar menunggu. Tapi ternyata apa yang aku harapkan jauh dari kenyataan, kamu terus seperti itu dibelakangku.”
Raya menghela nafas panjang, dia tahu sekali jika dirinya memang salah dan dia memang tidak tahan dengan godaan seorang wanita. Bukan digoda Raya malah yang menggoda mereka karena sedikit sifat genitnya, setelah mempunyai uang yang cukup Raya malah semakin berani. Wajah Raya di tundukkan, dia sangat menyadari kesalahannya.
“Itu semua tergantung dari kamu Mas, jujur aku sudah sangat malas untuk memberikan kamu kesempatan,”
“Apa kamu benar ingin mengeluarkan aku dari rumah, apa kamu tidak ingat dengan semua kebersamaan kita,”
“Apa kabar kamu saat kamu bersama para wanita itu, apa kamu ingat kebersamaan kita dan Arya Mas saat kamu bersama mereka!”
__ADS_1
Raya diam tidak menjawab, karena apa yang diucapkan Santi memang benar. Dia tidak ingat mereka saat sedang bersama wanita lain, bahkan terkadang dia mengacuhkan keinginan Santi dan Arya jika bersama mereka.
Kaki indah jenjang melangkah santai ke sebuah ruangan, dengan membawa beberapa berkas di tangan dia mengetuk pintu ruangan yang akan dimasuki. Setelah mendengar kata dari dalam Wanita itu memutar handle pintu dan masuk, dengan wajah yang terus melihat kedepan dia berjalan dan berhenti di sebuah meja kerja yang punya ruangan.
Diletakkannya semua berkas yang dibawa seraya berkata, “Ini semua berkas yang diminta tadi, bagian map yang berwarna merah adalah berkas yang memerlukan tanda tangan Anda Tuan,” ucapnya menjelaskan.
Pria yang berada di belakang meja memeriksa berkas yang tadi dimintanya pada wanita tersebut, setelah dirasa semua ada semua dia menutup berkas itu dan melihat ke arah Wanita yang masih berdiri di depannya.
“Oke, semuanya sudah ada terima kasih,” ucapnya.
“Sama-sama Tuan, kalau begitu saya pamit,” jawab Wanita itu dan balik badan melangkah pergi, namun langkahnya dihalangi oleh Pria itu. “Tunggu sebentar!”
Wanita itu berhenti tanpa menoleh dan balik badan, Pria itu beranjak dari duduknya serta berjalan menghampiri bawahannya itu. Dia sengaja berdiri di depannya membuat mereka saling berhadapan, Pria itu menatap wajah sang Wanita dengan sorot mata yang damai. Namun tidak begitu dengan Wanita yang ada di hadapannya, dia mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Kamu masih marah!”
__ADS_1
Tidak ada jawaban atau respon dari Wanita itu, kedua tangan Pria itu memegang lengan sag Wanita seraya berkata, “Jangan seperti ini terus, jujur aku gak kuat lama-lama didiemin sama kamu Pri,”