SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
MALAM ROMANTIS


__ADS_3

"Apa kamu sudah berani main dengan kekasihmu itu, Apa dia sudah menyentuh tubuhmu dan memberikanmu kepuasan!" Ucapnya lagi dengan nada sedikit tinggi dan rasa cemburu terlihat jelas dimata Raya.



"Ah, sakit Ray," ringis April karena Raya sedikit menekan pegangannya, "Lagipula itu bukan urusanmu, dia kekasihku jadi dia berhak atas itu Ray," timpalnya.



"Iya!" Sentaknya, "Aku tahu dia kekasihmu, tapi dari awal kamu milik aku dan aku mau kamu tetap milik aku,"



"Please jangan egois Ray, disini yang bersedia jadi simpanan itu kamu, dan kamu harus tau batasannya seorang simpanan itu dimana," tukas April dengan suara rendah namun Raya bisa mengartikan kata serta nada suaranya itu.



Raya melepaskan tubuh April dengan rasa kecewa, dia tahu apa yang diucapkan April itu benar, seharusnya dia menyadari jika dirinya itu hanya simpanan yang diperlakukan seperti simpanan pula. Yang hanya diinginkan jika yang menyimpannya menginginkannya, dan siap dibuang jika yang menyimpannya sudah merasa bosan.



Namun saat ini Raya tidak ingin menjadi seperti itu, dia ingin menjadi seorang pria yang menginginkan wanitanya, jadi perlahan dia mendekati April dengan sorot mata yang tajam, seolah ingin menerkam tubuh April dan mencabik-cabik nya.



Melihat sorot mata Raya nyali April ciut kembali, dia sadar jika masih sedikit menyimpan perasaan pada pria tersebut, dan jika rasa itu sedikit di gelitiki maka dia akan timbul kembali. Sorot mata Raya membuat langkah April mundur perlahan dia tahu sorot mata itu menginginkan dirinya.



Chiko dan Sabrina sudah berada di lobby hotel dimana GPS menandakan nya, setelah turun dari kendaraan Chiko bergegas menuju resepsionis dan menanyakan apakah ada ada atas nama Raya yang booking kamar untuk malam ini. Setelah dicek wanita cantik itu mengatakan ada dan langsung diberikan Nomor kamar yang sudah dipesan oleh Raya.



Setelah mendapatkan nomor itu Chiko dan Sabrina bergegas menuju ke kamar 203 di mana Raya dan April berada saat ini. Dengan wajah khawatir bercampur marah Chiko berjalan cepat melewati setiap lorong yang ada di hotel itu, satu persatu nomor dilihati sampai akhirnya dia menemukan kamar dengan nomor 203.



"Apa yang mau kamu lakukan!"


__ADS_1


"Kenapa kamu tanyakan hal itu, jelas aku mau kamu malam ini, tidak masalah simpanan minta sesuatu kan!" Tukasnya dengan tatapan menekan.



"Kita lakukan lain kali, saat ini aku harus segera pulang, karena kalau tidak aku yakin Chiko akan mencariku," ungkap April.



"Jangan sebut nama dia di sini, bisa kan!" Sentaknya, lalu Raya hendak menerkamnya, April bergerak menjauh dan berlari menuju pintu keluar, Raya mengejarnya.



Pintu terbuka saat April juga membukanya, terdengar suara teriakan Raya. Mata mereka terbelalak saat melihat ada sosok yang berdiri didepan pintu, "Chiko!" Ucapnya dalam keterkejutan.



Sedikit rasa senang saat melihat Chiko berada disana, namun saat tahu jika dua lelaki itu bertemu, seketika rasa itu kembali pudar. Chiko menarik tangan April dan menjauhkannya dari Raya, dia minta Sabrina membawa jauh April dari ruangan itu.



Tanpa mengatakan apapun April langsung dibawa Sabrina menjauh, namun wanita itu menolak dia takut terjadi apa-apa dengan dua pria tersebut. Chiko menatap nanar Raya yang sedang mengatur nafas sambil bertolak pinggang, dia juga menatapku dengan sorot mata tajam, terlihat kebencian di sorot mata itu pada.




"Hentikan semuanya sekarang!" Tandas Chiko dengan suara berat.



Senyum menyeringai terlihat diwajah Raya, "Kenapa! Apa seorang kekasih kalah pesona dengan sosok yang hanya menjadi simpanan," sindir Raya yang berhasil membuat Chiko meradang, dia mengepalkan tangannya erat menahan marah.



Diam sejenak Chiko lakukan untuk membuat dirinya tenang, dia malas bertengkar, malas bertengkar adu otot, gak berkelas pikirnya. Senyum diberikan Chiko atas ucapan Raya tadi.



"Dengar baik-baik apa yang aku ucapkan ini," tukas Chiko sambil maju satu langkah, wajah dibuat setenang mungkin kemudian dia berkata, "Selir tetaplah selir, dia tidak akan menjadi ratu, simpanan tetaplah simpanan dan tidak akan menjadi milik jika yang menyimpannya tidak membiarkan, dan aku pastikan April tidak akan membuat kamu jadi Raja," sindir Chiko berdamage.

__ADS_1



Raya menyalang mendengar sindiran Chiko, tatapnya semakin nanar dan giginya sudah saling beradu menahan amarah, panas di tubuh langsung membuatnya berkeringat.



"Aku akan tetap membiarkan Ratuku mempermainkan dirimu sampai waktunya tiba, setelah itu, kamu tahu kan siapa yang akan jadi juaranya," tukas Chiko dengan senyum kemenangan diperlihatkan di wajah tampannya.



Kemudian Chiko balik badan dan meninggalkan Raya dengan amarahnya yang sudah memuncak, dia melihat April di depan pintu itu yang sedang memperhatikan dia dan Raya. Lalu Chiko menghampirinya dan berkata jika dia masih ingin disini Chiko akan membiarkannya, namun jika dia ingin bersama Chiko berbalik arahlah.



"Tunggu aku sambil jalan perlahan," kata April pada Chiko, lalu dia masuk dan berkata pada Raya agar dia menenangkan diri, dan pikirkan semua kejadian hari ini. Setelah itu dia pergi menyusul Chiko, meninggalkan seorang Raya dengan semua kegundahan hatinya.



Beberapa hari setelah kejadian itu Chiko merasakan April sedikit berbeda, dia melihat wanita itu sering termenung dan menyendiri. Bahkan dalam pekerjaan pun April menjadi sedikit tidak fokus, saat berdua juga Chiko melihat wanita itu sedang memikirkan hal lain dan jiwa tidak bersama tubuhnya saat ini.



Melihat hal itu Chiko tahu bahwa apa yang dilakukannya itu salah, atau dia merasa bersalah karena sudah menjauhkan April dari Raya yang saat ini masih berada di hatinya dan Chiko tidak ingin melihat ada kesedihan di wajah April, dia berpikir jika sebaiknya dia saja yang memendam rasa.



Hal serupa dirasakan juga oleh Santi istri Raya, Santi merasa ada perubahan sikap dalam diri suaminya. Dia jadi sering melamun dan lebih banyak mengeluarkan waktu lagi untuk pekerjaannya, sedikit bicara bahkan kepada Arya anak semata wayangnya yang selalu menjadi di penyemangat Raya.



Malam itu Santi sedikit berdandan, setelah Arya tidur dia mempersiapkan diri untuk suaminya. Setelah sedikit bersolek, Santi mengenakan dress malam tipis, hingga terlihat bentuk tubuh serta pakaian dalam tubuhnya yang membuat dirinya terlihat sangat menggoda.



Sedikit parfum disemprotkan ke tubuh, agar tercium aroma yang akan membuat Raya bergairah malam ini. Tempat tidur dibuat serapi mungkin, lampu dinyalakan dengan cahaya yang dibuat sedikit redup agar tercipta suasana yang akan membuat mereka saling memiliki.



Beberapa lilin beraroma khas dinyalakan, membuat suasana kamar itu malam ini seperti kamar di dalam hotel bintang lima. Saat melihat pintu terbuka, Santi bergegas berdiri cantik menyambut kedatangan Raya, senyum terbaiknya di pasangnya diwajah.

__ADS_1


__ADS_2