
"Suami kamu San."
Mamah tidak marah memperlihatkan itu pada Santi, dia malah merasa sedih jika apa yang ada dalam pikirannya jika memang benar terjadi. Santi masih belum menjawab ucapan Mama, sebisa mungkin Santi mencoba untuk tenang di depan mamanya. Santi tidak ingin Mamanya merasa sedih atau gelisah jika melihat dirinya yang frustasi melihat video yang direkam olehnya.
Santi sebenarnya shock melihat itu, namun dia mencoba menahan diri dan emosinya. Santi mencoba menahan diri dan berpikiran baik pada April, Santi mengatakan jika tidak mungkin April melakukan hal itu pada dirinya apalagi kepada Arya. Santi mengatakan jika kedekatan April itu tulus dan bisa dirasakan olehnya juga Arya, sambil terus melihat video itu berulang-ulang.
Merasa yakin dengan apa yang dilihatnya, Santi lalu memperlihatkan rekaman itu dan minta Mama agar melihatnya dengan teliti, “Mama lihat gak ini, disini Raya yang menghadang April dan turun menghampirinya, Raya juga mengetuk beberapa kali, itu berarti April tidak ingin bicara dengannya.” ujar Santi, Mamah lebih memperhatikan karena beberapa kali diulang oleh Santi agar Mama mengerti.
Santi lalu juga menjelaskan jika di rekaman itu April mencoba menolak Raya, bahkan April beberapa kali memperlihatkan wajah tidak sukanya juga mendorong tubuh Raya. “Raya terlihat memaksa April Ma. Mama perhatikan deh semua yang tadi aku bilang,” ucap Santi.
“Benar juga San, disini nih, April mendorong Raya dan dia berkata sesuatu, namun Raya kembali melakukannya,” jawab Mama, “Huh dasar lelaki tidak tahu diri,” geram Mama.
“Dia pernah melakukannya sekali Mah, jadi aku yakin jika dia akan melakukannya lagi,” ujar Santi dengan wajah muram, “Apa aku gak bisa jadi istri yang baik yah buat Raya Mah,padahal aku sudah sangat berusaha,” ucap Santi terdengar kesedihan di dalamnya.
Mama menghembuskan nafas panjang, beliau mendekat dan memberikan pelukan pada Santi anak kesayangannya itu, Bukan sayang, kamu sudah menjadi Istri yang dan Ibu yang sangat baik untuk Suami dan Anak kamu, hanya memang terkadang ujian datang dari yang kita tidak sangka-sangka, kamu anggaplah Suami kamu ini sebagai ujian di kehidupan kamu, Mama hanya bisa mendoakan agar kamu bisa menjalaninya,” ujar Mama dengan sangat bijak.
Mamah memberikan pelukan hangat pada Santi, yang perlahan tidak bisa membendung kesedihannya. “Kenapa Raya seperti itu Mah, apa dia tertekan sama aku, apa dia memang tidak benar-benar mencintai aku seperti yang orang bilang selama ini.” lirih Santi berkata mengeluarkan keluhannya pada Mamah.
__ADS_1
Mama tidak bisa menjawab apa-apa, dia hanya memeluknya semakin erat dan memberikan kasih sayangnya penuh pada malam itu. Sementara itu Raya mencari keberadaan Santi, dia tidak tahu Santi kemana. “Kenapa dia pergi gak bilang sih, bikin kesel aja.” geram Raya yang tidak menemukan Santi dimanapun. ‘Apa dia di kamar Mama?’ batinnya.
Raya melangkah menuju kamar mertuanya, saat ini Papa mertuanya belum pulang, bisa jadi Santi menemai Mamanya disana pikir Raya. Raya mengetuk beberapa kali pintu kamar Mama mertuanya serta memanggil Mama dan menanyakan keberadaan Santi. Santi yang mendengar Suaminya mencari langsung menghapus air mata yang masih mengalir dari sudut matanya.
“Iya Santi disini Ray, sebentar lagi yah, sedang urutin Mamah.” jawab Mama. Tidak ada kata lagi yang terdengar dari balik pintu itu, Raya langsung pergi kembali ke kamar saat mendengar jawaban Mama. Santi ijin kekamar mandi untuk mencuci wajahnya, agar sedikit tidak terlihat bekas tangisan. Setelah sedikit merasa lebih tenang, Santi ijin ke Mama untuk kembali ke kamarnya.
Sekembalinya Santi Raya ternyata sudah tertidur, Santi hanya menatap Raya dengan wajah sedihnya dan berpikir kenapa Raya tega melakukan hal itu lagi pada dirinya. Wanita itu melangkah perlahan, lalu naik ke atas kasur dan mencoba untuk tertidur. Saat matanya dipejamkan, bayangan rekaman yang tadi kembali diputar di kepalanya. Santi tidak nyaman dengan semua itu, dia lalu kepikiran untuk mencari tahu lebih lanjut tentang hubungan Raya dan Santi.
Malam itu Santi berusaha keras agar bisa tertidur, karena bayangan itu terus mengganggu dirinya sepanjang malam. April meluncur cepat, di pikirannya saat ini hanya ingin segera sampai di rumah. April melihat ke spion, saat tidak melihat kendaraan Raya mengikutinya wanita itu merasa sangat lega. Tapi dia tetap meluncur dengan cepat karena dia tetap merasa sedikit takut.
“Ada apa dengan dia, kenapa dia ngebut seperti itu!” ucap Chiko saat melihat kendaraan April yang melihat di depannya. Karena merasa khawatir dengan kekasihnya itu, Chiko mengikuti April. Dia mengikuti Wanita itu sampai April tiba di rumahnya. April sedikit terkejut, saat dia keluar dari dalam mobil ternyata Chiko sudah berada di halaman rumahnya dan sedang berjalan menghampiri.
“Kamu kenapa bisa ada disini Chik, perasaan waktu aku masuk aku gak lihat kendaraan kamu.” ucap April sedikit heran.
Chiko tersenyum, lalu membelai lembut pipi April yang terasa sedikit dingin. “Kamu kenapa?” Tanya Chiko to the point.
__ADS_1
April sedikit mengerutkan dahi mendapatkan pertanyaan itu dari Chiko, “Aku! Aku merasa tidak ada apa-apa, kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Kamu mau aku cari sendiri atau mendengarnya langsung dari bibir kamu yang lembut itu,” sedikit ancaman Chiko keluar, membuat April menghela nafas kasar dan melangkah pergi meninggalkan Chiko seraya menjawab, “JAngan seperti itu denganku, aku tidak suka.”
Chiko menarik tangan April yang sudah selangkah melewatinya, dia membuat tubuh itu kembali berbalik badan dan membuatnya saling berhadapan. Hanya beberapa detik saling bertatapan, Chiko langsung mendaratkan kecupan di bibir April yang dilanjutkan dengan membuat mereka saling bertautan.
“Mmpp,” guman April lalu melepaskan tautannya, “Sudah Chik, aku lelah,” ucapnya.
“Aku akan bermalam disini,” tukas Chiko, April langsung melihat dan menatapnya, “Kenapa! Tidak boleh?” timpalnya.
“Bukan sepereti itu, kenapa mendadak sekali, lagi pula besokkan kerja Chik,”
“Aku bisa berangkat dari sini, itu soal mudah jangan dipersulit.” April menghela nafas, dia tahu jika dia tidak bisa menolak Chiko, kalaupun bisa Chiko juga tidak akan mau pergi selama dirinya mau. Chiko keras dengan apa yang dia mau, dan sampai saat ini April belum bisa mengendalikan sifatnya itu. April tidak berkata apa-apa, dia masuk dan Chiko mengikuti, bahkan dia langsung mengikuti April sampai dia mau membersihkan diri.
“Kamu ngapain mau ikut aku masuk?”
__ADS_1
“Aku mau mandi bareng sayang,” jawab Chiko lalu tersenyum dengan senyuman termanisnya.