
"Bagaimana jika aku masih ingin terus bersama Saya sampai saat ini, aku masih ingin bermain nakal dengannya!"
Chiko diam, saat ini dia tidak mau menjawab apapun, dan Chiko berpikir seharusnya April tahu apa jawaban atas pertanyaannya itu. Karena masalah itu sudah mereka bahas beberapa hari yang lalu, Chiko juga menyadari jika membuang perasaan itu sedikit sulit, apalagi kasus April yang sudah melakukan penyatuan tubuh dan dia tipe orang yang setia.
Chiko kembali berpikir, dia akan menjawab pertanyaan itu lagi dan menjelaskannya tapi tidak dalam perjalanan seperti ini. Pukul enam sore mereka baru sampai di tempat tujuan, seperti yang Chiko bilang tadi ternyata tempatnya memang agak jauh.
Sebuah kafe terlihat mewah dimasuki Chiko, dia memarkirkan kendaraannya di halaman yang cukup besar tersebut. Saat baru memasuki tempat itu dua langkah, Chiko sudah disambut hangat, dia langsung diarahkan untuk ke sebuah tempat yang memang ternyata sudah dipesannya tanpa sepengetahuan April.
Satu ruangan khusus sudah dipesan oleh Chiko, dengan satu meja dan dua kursi yang ditata sedemikian rupa, dihiasi lilin juga bunga yang cantik ruangan itu didesain dengan sangat romantis.
"Silahkan Tuan,"
"Terima kasih," jawab Chiko lalu mempersilahkan April duduk. Saat mereka datang langsung terdengar suara musik yang bernada sendu, lagu romantis dari salah satu artis ternama ibukota.
April melihat sekeliling, semua memang terlihat sangat romantis, "Kamu memang sudah menyiapkan ini semua yah Chik,"
"Iya, dan ini sengaja aku siapkan untuk kamu," jawabnya.
Senyum manis dilemparkan April untuk Chiko seraya berkata terima kasih atas semua perhatiannya, Chiko ajak April makan terlebih dahulu, karena saat ini dia juga sudah merasa lapar.
Sambil makan mereka berbincang ringan, dari awal membicarakan tentang pekerjaan sampai ke masalah keluarga. Setelah makan mereka habiskan Chiko mulai sedikit bicara serius tentang masalah yang sudah mereka bicarakan sebenarnya dan seharusnya sudah bisa dimengerti oleh keduanya.
__ADS_1
Namun perasaan tetaplah perasaan tidak semudah membalikan telapak tangan, setiap hubungan pasti ada kerikil tajam yang menyertainya, beruntung untuk April karena Chiko adalah pria yang bijak dan berpikiran luas, dia bisa melihat semua masalah atau semua hal dari berbagai sudut pandang.
Walaupun Chiko adalah seorang lelaki yang yang bisa disebut sebagai Playboy, namun dia mempunyai pikiran yang luas tentang berhubungan, apalagi saat ini dia ingin menjalin hubungan yang serius dengan April.
"Seperti yang sudah aku bilang, aku akan menunggu hingga kamu siap, tapi aku juga punya batasan untuk diriku sendiri,"
"Jujur aku sangat ingin melupakannya, tapi saat melihat atau mengetahui kabar dirinya, aku tidak bisa menyembunyikan rasaku Chik," ungkap April.
"Tata saja dulu hati kamu, aku juga tidak bisa memaksa, karena perubahan diri kamu hanya dirimu yang bisa melakukannya sendiri, walaupun aku terus memaksa kamu untuk melupakannya tapi ternyata kamu gak mau, yah percuma, buang tenaga aku saja, Tapi ingat juga kalau aku hanya pria biasa."
Aprilia selama ini dia tahu bagaimana sabarnya Chiko menghadapi dirinya, bahkan sampai sekarang pun dia masih saja mau menunggu April untuk menetapkan hati. April merutuki dirinya sendiri, dia juga kesal dengan perasaannya yang sulit sekali untuk di kubur, kadang terlintas dalam benaknya apakah dia sudah di guna-guna oleh Raya.
Sampai dia tidak bisa melupakan pria itu, bukan hanya April, Raya juga pernah mengatakan hal yang sama, apa dirinya melakukan hal yang bisa membuat Raya sangat menggilainya, karena Raya mengatakan tidak bisa hidup tanpa April.
April merasa tidak sanggup untuk menatapnya lama-lama, wanita itu masih menolak datangnya Chiko di kedalaman hatinya. Chiko minta April untuk balik badan, setelah balik badan Chiko memakaikan kalung cantik berwarna putih dengan satu permata indah sebagai pelengkap.
April terpana, dia melihat kalung itu lalu melihat ke arah Chiko yang sedang mengaitkan pengaitnya. Dengan mata berbinar April berkata jika kalung itu cantik sekali, dan dia berkata jika dirinya sangat menyukainya.
"Syukurlah jika kamu suka,"
"Dalam rangka apa kamu memberikan ini padaku?" Tanya April sambil terus memegang dan melihat benda tersebut.
__ADS_1
" Pernah Ada yang berkata kepadaku, seorang wanita cantik yang sangat aku kagumi. Dia mengatakan jika cara pria mengajak wanita untuk menjalin ikatan yang lebih serius itu harus romantis, karena itu aku melakukan ini semua. Aku ingin kamu menjadi tunanganku dan kalung itu sebagai tanda ikatan bahwa kamu adalah milik aku saat ini dan aku berharap sampai selamanya," ungkap Chiko yang membuat mata April berkaca-kaca.
Dia memeluk Chiko lalu menangis dalam pelukannya, rasa senang bercampur rasa bersalah menjadi satu. Rasa bahagia yang dirasakan saat ini menjadikan dirinya dilema, perasaan yang masih membuatnya tidak bisa mengambil langkah tegas untuk hubungan itu.
"Hei, sudahlah, aku ingin buat kamu bahagia Pril, bukan malah buat kamu menangis seperti ini," ujar Chiko, "Kalau kamu menangis seperti ini aku akan ambil kembali kalungnya," gurau Chiko yang membuat April melonggarkan pelukannya.
April sedikit mengangkat wajahnya, mata yang masih berkaca-kaca itu disentuh lembut oleh bibir Chiko, April memejamkannya, kecupan itu terus menjalar ke setiap detail wajah April, mulai dari mata, pipi, hidung dan berhenti di bibir.
Perlahan Chiko memberikan \*\*\*\*\*\*\* lembut penuh dengan rasa sayang, rasa yang langsung bisa April rasakan dalam setiap sentuhannya, rasa yang membuat tangan April bergerak memegang kerah baju Chiko, dan perlahan kerah itu ditarik, agar Chiko bisa lebih menekan lagi rasanya pada April.
Chiko melepaskan tautannya yang membuat April susah untuk membuka mata, saat dia membuka mata kembali, terlihat senyum manis Chiko yang menyambutnya. Melihat April yang sangat menikmati, Chiko kembali membuat dua kelopak mata April terpejam.
Tangan kekar Chiko meraih pinggang rampingnya, April menggerakkan tangannya melingkari leher pria itu yang sedikit lebih tinggi darinya. Tautan yang diiringi musik syahdu membuat mereka berayun, berayun dalam buaian tautan yang mereka mainkan.
Rasa yang diberikan Chiko memang berbeda, itu sudah diakui April sejak dia mengenalnya, memang rasa dari setiap sosok itu berbeda, sama halnya jika Raya bermain dengan Istri juga Raya jika bermain dengan April, pasti punya rasa yang berbeda.
"Chik," lirih April saat tautan mereka terlepas, namun Chiko terus memberikan kecupan-kecupan singkat yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Emm,"
"Please sudah," kembali suara lirih itu terdengar, April sangat menikmati sentuhan Chiko, sampai dia merasa jika dia tidak bisa menahan diri.
__ADS_1
"Diam dan nikmati saja."