SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
KENYATAAN PAHIT


__ADS_3

     “Wah, sedang pada kumpul yah,” ucap sosok yang baru saja masuk dengan menggunakan kursi rodanya.


     April menyunggingkan senyuman di ujung bibir manisnya, senyum manis memang selalu diberikan pada Santi pada siapapun termasuk pada seseorang yang sudah membuatnya sedikit terkejut saat melihat kehadirannya disana.


     “Apa kabar Mas, ada keperluan apa sampai-sampai Mas bersudah payah datang sendiri kesini, bukannya bisa melalui telepon,” tutur sapa Santi pada Raya.


     “Tidak, aku tidak bersusah payah datang kesini, biasa saja. Apa aku mengganggu kebersamaan kalian?”


     “Oh tidak kebetulan urusanku dengan Santi sudah selesai, silahkan. Aku pamit dulu semuanya,” kata April yang kemudian langsung keluar dari ruangan itu berbarengan dengan keluarnya penjaga Raya.


     Santi mempersilahkan Raya masuk, mata Raya terus melihat ke arah kertas undangan yang berada di atas meja dan dia sedikit terkejut saat menerima dua nama yang tertera di atas kertas undangan itu. Raya mengambilnya agar bisa memastikan saat Santi masih berjalan ke kursi kebesarannya.


     “Ini undangan April dengan Chiko, San?”


     Santi langsung putar tubuh dan melihat Raya sudah memegang surat undangan April, “Iya, itu surat undangan mereka Mas,” jawab Santi lalu duduk, “kamu juga dapat undangannya tapi aku belum sempat kasih ke kamu,” timpal Santi.


     Hanya senyum tipis terlihat di wajah Raya yang ketampanannya sudah terkikis, “Yah, baguslah kalau mereka akhirnya jadi, semoga rumah tangga mereka bisa langgeng,” balas Raya yang hanya di respon senyuman Santi.


     Santi lalu menanyakan perihal kedatangan Raya ke sana dan jujur saja dia sedikit terkejut saat Raya mengatakan jika dia minta sebagian keuntungan dari perusahaan itu padahal saat pertemuan sebelumnya semua sudah dijelaskan.


     Sebuah kafe dan apartemen mewah di berikan Santi pada Raya, juga uang bulanan yang cukup ditambah dengan bonus keuntungan salon yang dikelola oleh dia dan Santi. Santi saat ini tidak habis pikir  kenapa Raya baru mengatakannya sekarang tidak waktu itu.

__ADS_1


     “Itu karena aku baru ingat kalau aku yang membuat perusahaan ini maju kembali dan aku minta bagiannya untuk itu San, aku rasa itu wajar, kalau kamu tidak mau memberikannya apa tidak sebaiknya kita urungkan perceraian ini,” ujar Raya yang membuat mata Santi membulat sempurna.


     “Apa Mas, di urungkan, yah tidak bisa dong Mas, aku sudah tidak sanggup menghadapi kamu Mas, aku sudah tidak bisa menjalaninya semua dengan mu setelah semua waktu yang aku berikan selama ini namun hasilnya nihil, jawab Santi kesal.


     “Kali ini aku akan berubah San, benar-benar berubah, beri aku kesempatan lagi,” ucapnya.


      Dalam benaknya Santi sangat meragukan semua ucapan Raya itu, dilihat dari waahnya saja tidak terlihat kesungguhan. Santi berpikir sudah cukup dirinya terus di jadikan boneka oleh pria satu itu, dia tidak ingin hanya dijadikan mesin atmnya juga penutup kehidupan sempurnanya di mata teman bisnis.


     Santi tidak menerima apa yang Raya inginkan,dia mengatakan jika dia akan mendiskusikannya dengan kedua orang tuanya namun dia mengingatkan agar Raya tidak terlalu berharap karena dia saja tidak mau melakukannya apalagi kedua orang tuanya.


     “Seharusnya kamu pikir Mas sebelum kamu meminta tu, uang bulanan kamu itu adalah gaji yang akan menunjang kehidupanmu nanti dan itu juga diambil dari keuntungan perusahaan dan seharusnya kamu tau bagaimana hitung-hitungannya.”


     Kata maaf dari Raya sudah tidak kena di hati Santi, wanita itu sudah kebal dengan segala tipu daya Raya, pria yang selama ini sudah membuat perasaannya hancur. Rya bahkan bukan hanya menghancurkan perasaannya saja saat ini tetapi dia juga sudah menghancurkan perasaan Arya anaknya, buah kasih mereka yang sangat menyayangi Raya ayahnya juga kedua orang tua Santi yang sangat mempercayai Raya.


     Santi tidak bisa menjanjikan apa yang diinginkan Raya karena apa yang sudah diperbuatnya lebih dari cukup dan bahkan mungkin seharusnya Raya tidak akan mendapatkan semua yang didapatnya saat ini kalau bukan karena kebaikan hati dari Santi juga keluarganya.


     “Sepertinya Santi sudah tidak bisa kau geser hatinya, dia sudah sangat teguh dengan.”


     Raya pulang bisa dibilang dengan tangan kosong dan dia sangat tidak menyukai hal itu, dalam perjalanan pulang Raya teringat akan Intan dan dia minta pada supirnya untuk pergi ke rumah Intan karena orang yang menjadi suruhannya masih belum memberikan dia informasi yang memuaskan.


      “Anda yakin mau ksana Tuan?”

__ADS_1


     “Iya, memangnya kenapa, apa ada masalah dengan kamu?”


     “Tidak, bukan seperti itu Tuan. Hanya saja saya takut jika nanti anda akan mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari Nyonya Intan,” jawab supir sambil terus melihat ke jalan tetap fokus dengan tugasnya.


     Raya menghela nafas, beberapa hari ini dia memang berpikir seperti itu. Apalagi dia sangat tahu gaya hidup Intan seperti apa, Raya juga sempat berpiir apa mungkin dia mengucapkan kata sukanya bukan hanya pada dirinya tetapi pada semua pelanggan pria yang memberikannya banyak tips.


     ‘Apa mungkin seperti itu, bisa jadi jika dilihat di gaya hidupnya.’ Benak Rya.


     Segala kemungkinan bisa terjadi, Raya sadar bagaimana dirinya yang tidak sempurna saat ini. Tetapi dia mencoba untuk membesarkan hati dan membuat percaya dirinya tidak berkurang dengan kekurangannya itu, sedikit perbincangan seru terjadi di dalam mobil dimana Raya minta pendapatnya pada bawahannya itu mengenai Intan yang selama ini dilihat dari kacamata dia.


     Sedikit pendapat dari bawahannya itu membuat Raya sedikit berpikir namun terputus karena dia sudah sampai di kediamannya Intan. Penjaga mengatakan Intan saat ini tidak berada di rumahnya dan tidak tahu kapan akan kembali, Raya lalu mengatakan jika dia akan menunggu Intan untuk satu jam kedepan.


     Belum ada satu jam Raya sudah melihat satu kendaraan mewah datang, matanya mengikuti arah berhentinya kendaraan tersebut karena dia yakin jika itu adalah kendaraan yang membawa Intan dan benar saja saat pintu terbuka terlihat kaki mulus wanita yang tanpa celah. Intan keluar dengan didampingi seorang pria yang terlihat bukan pria biasa. Raya berdiri dan menghampiri, menunggu sampai Intan mendekat.


     Raya menunggu dengan mata yang menyorot cukup tajam karena ada sedikit perasaan cemburu dalam hatinya melihat Intan bergandengan mesra dengan seorang pria seperti dirinya dulu.


     “Jadi masih seperti ini!” Ucap Raya.


     “Siapa pria ini Tan?”


     “Tidak tahu Mas, aku tidak kenal,” jawab Intan yang membuat jantung Raya terasa berhenti sejenak.

__ADS_1


__ADS_2