SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
MENAHAN HASRAT


__ADS_3

Sementara Chiko terus membuat April tertawa, Raya melaju kencang menuju arah pulang, sebelum sampai rumah pria itu membelikan apa yang diinginkan oleh Arya anaknya.



Sampai dirumah Raya langsung masuk, hari sudah sangat larut, Raya berpikir kalau mungkin saat ini anaknya itu sudah tertidur. Raya melangkah ke kamar Arya, disana dia melihat Santi sang Istri sedang menemani Arya, terlihat jelas wajah lelahnya, matanya juga sudah memerah mungkin menahan rasa kantuk.



"San," tegur Arya.



Santi menoleh berbarengan terdengar suara Arya yang ternyata belum tidur, Raya tidak melihat anaknya tadi karena terhalangi oleh tubuh Santi. Raya menghampiri keduanya, dia memberikan belaian lembut kepala Arya seraya berkata, "Kamu belum tidur Ar?"



"Belum Yah, kan bilang tadi kalau aku mau tunggu Ayah pulang," jawabnya, "Apa Ayah bawa yang aku minta?" Timpanya.



Raya tersenyum lalu memberikan kantong yang sedang dibawanya, saat Arya melihat kantong itu dan dia tahu apa isinya, anak itu berteriak senang. Santi tersenyum melihat anaknya merasa senang dan sudah bisa sedikit ceria saat ini, karena dari sore tadi Arya terus berdiam diri merasakan tubuhnya yang tidak sehat.



"Nah sekarang kamu makan sama Mamah yah, Ayah mau mandi dulu, bau," ujar Raya yang dijawab anggukan cepat oleh Arya.



"Mau aku buatkan air hangat Mas," ucap Santi.



"Tidak, kamu temani saja Arya," jawab Raya lalu dia balik badan dan pergi ke kamarnya.



"Duh senangnya anak Mamah kita makan sekarang yah," seru Santi, kemudian dia pergi ke dapur untuk ambil alat makan juga minum.



Sementara itu Raya masuk kamar, dia langsung buka baju sambil melangkah menuju kamar mandi. Setelah semua pakaiannya terlepas, Raya membasahi diri dibawa derasnya air yang turun dari shower.



Raya menghela nafas, hasratnya masih tinggi, seketika dia mengingat bagaimana April tergeletak seksi di atas tempat tidur apartemennya, setiap detail tubuh wanita itu diingat dan dibayangkannya.



Hasratnya sedikit meningkat mengingat setiap inti tubuh April, Raya menghapus air yang berada di wajahnya sambil berteriak, "Akh, kenapa harus malam ini, aku sangat ingin bermain dengan wanita itu," tangannya memukul dinding kamar mandi cukup keras, dia menumpahkan kekesalannya disana.



Raya tidak bisa berhenti memikirkan wanita itu, sementara wanita itu sedang bersenda gurau dengan sang kekasih di apartemen miliknya. Raya menggelengkan kepalanya sedikit kencang, berharap jika ingatan serta bayangan itu menghilang dari kepalanya.


__ADS_1


"Sebaiknya aku bergegas mandi, kalau lama-lama disini bisa tambah pusing kepalaku," gerutu Raya.



Santi masih menyuapi Arya, mereka makan berdua. Setelah selesai makan ternyata Arya langsung tertidur pulas, mungkin karena sudah lelah juga menahan ngantuk nunggu Ayahnya pulang.



Selimut dirapikan sampai batas dada Arya, merasa Arya sudah sangat terlelap Santi meninggalkannya lalu pergi ke kamar miliknya. Disana ternyata Raya baru saja menyelesaikan mandinya.



Mereka saling tatap, Raya berpikir apa dia harus mengeluarkan hasratnya pada sang Istri, sementara saat ini dia inginnya bermain dengan April. Sedangkan Santi menatap Raya dengan tatapan heran, 'Ada apa dengan Mas Raya, kok melihat aku seperti itu.' Batinnya.



Mereka kembali bergerak, Raya melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaiannya, Santi melangkah ke kamar mandi untuk berganti pakaian.



"Arya sudah tidur?" Tanya Raya saat Santi keluar dari kamar mandi dan dia sudah terbaring di atas tempat tidur.



"Sudah Mas, kamu mau makan nggak, kalau mau aku siapkan dulu sebelum aku tidur,"



"Kamu mau tidur!"




"Ya sudah, kamu tidur saja sana," sahut Raya sedikit ketus, karena ternyata dia harus gagal lagi untuk melampiaskan hasratnya. Raya hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat Santi tidur dengan membelakangi dirinya.



'Punya Istri, punya cewek lain juga, tapi saat aku mau kenapa pas banget gak ada yang bisa semuanya,' keluh Raya dalam hatinya, 'Masa aku harus cari yang ketiga.' Ucap kesalnya dalam pikiran.



Mau tidak mau akhirnya Raya pasrah dengan keadaan, dia mengikuti Santi yang baru saja terbaring tapi sudah langsung bisa tidur dengan nyenyak, karena rasa lelah yang sudah sangat.



"Aku pergi dulu," tukas Chiko pada selirnya, seketika langsung terlihat raut wajah kecewa wanita itu.



"Kamu mau kemana? Gak jadi tidur disini!!"



"Sepertinya tidak," jawab Chiko sambil meraih pakaiannya dan merapikan diri.

__ADS_1



"Aku sudah menunggu kamu dari pulang tadi loh Ko, sekarang kamu malah pergi lagi," keluh wanita itu, "Lalu bagaimana dengan makanannya!"



"Iya sorry, kamu makan saja makanannya," jawab Chiko, lalu dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan diberikan pada wanita yang berada di tempat tidur itu masih dengan raut wajah kecewa.



"Ini, sorry yah, ada hal ngendadak yang harus aku lakukan, see you."



Chiko bergegas pergi meninggalkan hotel itu, sementara wanita itu merasa kesal karena Chiko meninggalkannya, namun saat dia melihat uang yang diberikan pria tersebut, seketika wajah muramnya berubah sumringah.



"Ah …, dapat uang lagi, ya ampun gila yah tuh orang, gak ngerasa rugi apa yah, gak tidur sama gua, bahkan maen aja nggak, tapi dia ngasih duit dalam jumlah yang bisa gua dapetin dalam waktu satu bulan kalau gua harus cari diluar," ungkap wanita itu senang, "Gimana kalau gua sebulan sama dia, bisa langsung bikin beli rumah kali gua," timpalnya senang.



Chiko bergegas keluar dari hotel itu, dia pergi meninggalkan wanita itu dengan langkah ringan dan hati penuh kesenangan. Chiko melajukan kendaraannya kencang, dalam perjalanan April menghubungi karena dia merasa lapar dan minta dibelikan makanan.



Di Pinggir jalan Chiko melipir sebentar untuk membelikan apa yang dimau April, setelah itu dia baru melanjutkan perjalanan menuju tempat dimana kekasihnya berada.



"Ternyata sampai juga, aku pikir bakal lama kamu kesini," ucap April saat buka pintu dan melihat sosok Chiko.



"Wah kenapa nih, udah gak sabar yah mau main denganku," gurau Chiko sambil melangkah masuk bersama April.



"Iya gak sabar, soalnya aku sudah lapar banget nih," sahut April yang membuat dia dalat cubitan di pipi dari Chiko seraya berkata, "Uh dasar," Ah, sakit Chik," pekik April.



Sampai didalam April langsung mengambil alat makan, sementara Chiko melihat-lihat isi rumah Raya.



"Punya selera yang bagus juga dia Pril, dekornya aku suka," puji Chiko.



April membawa alat makannya ke ruang tengah, mereka memilih makan disana. "Iya, aku juga suka dengan dekorasinya, keren dan indah," puji April juga.



Chiko mendekat dan berbisik lembut ke telinga April yang sedang menyiapkan makanan yang dibawa Chiko, "Tapi kamu lebih indah."

__ADS_1



Langsung ada desiran yang menjalar di bagian belakang tubuh April, dan hal itu juga membuat bulu kuduk April berdiri.


__ADS_2