
Semua diam, setelah Chiko beranjak dari duduknya dan menjauh bersama Dito, mereka mulai berdiskusi dengan rekannya. Raya melakukan hal yang sama, dia merasa tidak bisa berkutik kali ini, Chiko benar membuat mereka berada dibawah tekanannya.
"Semua pasti akan seperti ini Ray, kita hanya tinggal mengikuti alurnya saja, Papa juga dulu seperti itu, kalau kita tidak bisa mencapai yang paling tinggi, seenggaknya kita bisa mempertahankan," ujar Papa, mencoba agar Raya sedikit tenang, karena dia baru mengalami hal seperti ini.
"Apa Om juga akan mengambil langkah seperti apa yang Papa sarankan?"
"Sudah pasti, bahkan Om sudah tiga kali berada di bawah perusahaan keluarga Chiko, karena perusahaannya tidak bisa berkembang dengan baik jika keluar dari perusahaan besar itu, kalau dia berani keluar, sudah bisa dipastikan akan hancur dalam hitungan bulan," jawab Papah detail.
'Sekuat itu pengaruh Chiko, pantas saja sombongnya selangit.' Batin Raya seraya melihat Chiko yang sedang berdiskusi serius dengan Dito.
Papa lalu menjelaskan langkah apa saja yang harus diambil Raya nanti, dan selama dalam masa akuisisi dengan pihak Chiko, Papa akan terus mendampingi menantunya itu. Papah tidak ingin Raya salah langkah, karena kalau dia salah maka perusahaannya akan berangsur menurun.
Papa mengingatkan Raya, bahwa dia tidak bisa ambil keputusan besar setelah nanti, semua keputusan hanya bisa dilakukan Chiko, dan apa yang dilakukan Chiko nanti untuk keuntungan dari dua perusahaan, walaupun Raya berpikir tidak seperti itu, tapi Papah menyarankan agar dirinya mengikuti aturan yang ada.
"Berarti semua keputusan masalah perusahaan kita harus dengan persetujuan Chiko?"
"Iya,"
"Tapi kan yang tahu semuanya tentang perusahaan kita Pah," ujar Raya yang oleh tidak terima dengan apa yang akan terjadi kedepannya nanti.
"Setelah kita bergabung dengan perusahaan Chiko, semua akses dijadikan menjadi satu, setiap harinya semua data akan di cek oleh Chiko, dari semua perusahaan yang tergabung, baik diluar atau didalam negeri," ungkap Papa yang membuat Raya tercengang.
"Semuanya, Chiko bisa melakukan hal itu?"
__ADS_1
"Itu lah orang hebat, dia akan bisa melakukan apa yang orang biasa tidak, dia jenius, lebih dari Papanya, karena itu setelah dipegang Chiko perusahaannya maju pesat," ungkap Papa yang terus memuji keahlian Chiko dan Papanya.
Waktu yang diberikan sudah habis Chiko dan Dito kembali mengumpulkan semua yang ada di ruangan itu, lalu dia langsung menanyakan keputusan yang sudah mereka ambil. Semua tampak tidak ada yang beranjak dari tempatnya, dan Chiko tau apa keputusan mereka.
Setelah semuanya mengambil keputusan Chiko menjelaskan apa saja peraturan yang harus mereka lakukan, dan apa yang Chiko akan lakukan, semua dijelaskan secara rinci, Dito membagikan file peraturan yang sedang dijelaskan oleh Chiko di tempat duduknya.
"Kalian bisa baca terlebih dahulu poin pentingnya, aku akan beri waktu, jika ada yang ingin ditanyakan silahkan, untuk poin yang lain kalian bisa baca nanti, buku panduan itu harap disimpan dengan rapi dan dihafalkan, karena aku tidak akan menjawab jika semua sudah ada di sana," tukas Chiko yang lalu memanggil Dito.
Mereka membaca semua peraturannya dengan sangat teliti, poin penting yang dikatakan oleh Chiko menjadi bahan utama untuk mereka lihat. Setelah semua merasa cukup ada yang memberikan pertanyaan, pertanyaan itu sudah ada dalam poin terpenting, Jadi Chiko hanya mengatakan Jika dilihat halaman berapa dan di sana ada penjelasannya.
Diskusi kali ini masih memakan waktu yang cukup lama hingga akhirnya Chiko menghentikan semua meetingnya tepat pukul dua dini hari, dan Chino mengatakan jika akan dilanjutkan tiga hari dari sekarang di waktu yang sama.
Setelah meeting selesai semua berpamitan dengan Chiko untuk pulang, termasuk Papa mertua Raya dan dengan Raya di belakangnya.
"Iya Om semoga saja, saya akan lakukan yang terbaik,"
"Ya, good boy, Om percaya dengan kamu. Setelah ini pulang lah langsung, jangan lanjutkan pekerjaan, beristirahat lah,"
Chiko tertawa tipis, "Iya Om, kali ini saya akan langsung pulang dan istirahat, soalnya sudah ada yang nunggu juga, kasihan," jawab Chiko sekaligus memberikan sindiran pada Raya yang tepat sasaran.
"Oh, iya …, bagaimana kabarnya tunangan kamu itu, cepatlah diresmikan, jangan suka buat wanita menunggu, sudahi petualangan kamu itu," ujar Om yang membuat Chiko garuk kepala yang tidak gatal seraya nyengir kuda.
"Iya Om, masih ada satu hal yang harus saya selesaikan, jadi tunggu dulu dah,"
__ADS_1
"Aish jangan lama-lama, dia itu wanita yang sangat menarik, banyak pria yang siap menggantikan kamu nanti loh," gurau Om lalu pamit.
Raya berjabat tangan, kali ini wajah berbeda diberikan Chiko pada Raya, bukan wajah ramah seperti yang tadi diperlihatkan pada Papa mertuanya, "Semoga kita bisa bekerja sama," ucap Chiko.
"Ya, semoga saja," jawab Raya singkat.
Terselip sunggingan senyum tipis di wajah Chiko, dia merasa senang melihat Raya yang merasa tertekan karena berada di bawah naungannya saat ini. Matanya memandang terus ke Raya sampai pria itu terhadang pintu yang tertutup.
"Woy, biasa aja dong liatnya, naksir lo sama dia!" Gurau Dito yang melihat Chiko tak berkedip melihat Raya.
"Sepertinya dia harus kita awasi benar-benar Dit, dia licik," sahut Chiko.
"Wih, yang bener lo, udah kaya cenayang aja kalau begitu, tapi gua percaya sih, apa yang keluar dari mulut lo kadang kejadian semuanya," jawab Dito.
"Musrik lo percaya sama gua," gurau Chiko yang membuat dia dapat pukulan dari Dito.
Dua rekan kerja itu keluar dari ruangannya, sampai di parkiran mereka langsung masuk ke kendaraan masing-masing lalu meluncur cepat. Rasa senang Chiko dalam meeting kali ini terasa berbeda, ada kepuasan lain karena dia bisa melihat rivalnya Raya pasang wajah tidak terima, kecewa bahkan marah saat itu.
Chiko meluncurkan kendaraannya cepat menuju rumah April, dia ingin segera menemui kembali wanita itu, dia ingin menemani wanita itu tidur diwaktu yang hanya tinggal beberapa jam menjelang pagi.
Chiko tidak merasa khawatir April akan mencarinya jika dia terbangun nanti, karena dia sudah menulis pesan di secarik kertas yang diletakkan di bantal sebelah dimana April terlelap.
Sampai di rumah April Chiko langsung menuju kamar, matanya sedikit lebih dibuka dengan tawa tipis terlihat, saat dia melihat April sudah berganti pakaian, 'Ternyata dia tadi bagun.' Batinnya. Chiko terus berjalan mendekat, matanya sedikit melihat tajam saat melihat ada kertas yang sama tapi dengan tulisan yang berbeda.
__ADS_1
Chiko meraih dan membacanya, "Kalau kamu pulang tolong ganggu aku," setelah membaca tulisan itu senyum sumringah langsung terlihat diwajah Chiko.