SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
RUJUK


__ADS_3

Tidak ada jawaban atau respon dari Wanita itu, kedua tangan Pria itu memegang lengan sag Wanita seraya berkata, “Jangan seperti ini terus, jujur aku gak kuat lama-lama didiemin sama kamu Pri.”



“Lepaskan aku Chik, aku masih bt lihat muka kamu,” jawab April sambil sedikit meronta ingin melepaskan diri dari Chiko.



“Kok lama banget sih Pril, aku gak mau lama-lama marahan sama kamu, harus bagaimana lagi coba aku buat marah kamu hilang,”



“Jangan pernah berbuat itu lagi lain kali sama aku,”



“Ya ampun iya, iya dan iya. Aku sudah bilang itu ratusan kali Pril, udah mau sampai ribuan malah,” gerutu Chiko yang mulai sedikit merasa kesal dengan April yang terus seperti itu.



“Emm, sepertinya sekarang kamu yang kesal deh sama aku,”



“Iya benar dan aku sangat kesal sampai aku ingin sekali memberikan rasa sama kamu,” ucap Chiko yang langsung menepis jarak antara mereka dan memberikan \*\*\*\*\*\*\* penuh kerinduan pada April.



April tersenyum mendapatkan sentuhan di bibirnya yang jujur dia juga sangat merindukan hal itu, mereka saling bertautan. Tangan Chiko beralih merangkul pinggang ramping April dan April merangkul leher Chikok, serta membuat membuat tautan mereka semakin erat. Chiko dan April melepaskan kerinduan mereka di dalam ruangan itu, \*\*\*\*\*\*\* penuh kerinduan membuat mereka lama dan sangat menikmati tautan yang mereka lakukan.



Bunyi telepon yang ada di atas meja tidak membuat Chiko melepaskan tautannya, pria itu terus menekan April dengan segala rasa yang selama ini dipendam. “Mmpp, Chik sudah ah,” ucap April sesaat setelah dia melepaskan tautannya, “Kenapa, aku masih kangen sama kamu,” sahutnya manja, “Kita masih dalam mode kerja sayang, gak enak juga sama yang lain. Tuh tadi telepon berbunyi, coba lihat sana kali aja penting,” tolak April.



Raut wajah Chiko berubah sedikit muram, lalu dia melihat siapa yang menghubunginya tadi. Baru dia memegang ponsel sudah terdengar ketukan pintu, Chiko segera memerintahkan agar yang berada di luar sana masuk. Dito dengan dua koleganya ternyata datang menghampiri.


__ADS_1


“Sorry langsung aku bawa kesini, karena tadi dihubungi tidak diangkat,”



“Iya gak masalah, baru dari toilet. Silahkan duduk,” jawab Chiko.



“Maaf Pak, berkas yang ditandatangani harus segera saya kirim,”



“Setengah jam lagi kamu ambil kesini yah,”



“Baik.”



April keluar dari ruangan itu, ‘Untung saja tadi udahan.’ batin April sambil melangkah keluar. Chiko langsung berdiskusi masalah pekerjaan dengan dua koleganya, termasuk juga Dito. Dua orang itu sedang ada masalah dengan perusahaannya, mereka datang kesana untuk minta bantuan pada Chiko.




Santi dan Raya masih berdebat masalah mereka, Santi tidak memberikan kesempatan lagi pada Raya kali ini. Santi memberikan ultimatum pada Raya, Wanita itu berkata jika Raya diminta untuk mempersiapkan diri jika akan ada hal yang paling buruk akan terjadi.



Tidak memberikan kesempatan juga tidak membiarkan Raya untuk membela diri, Santi setelah mengeluarkan ultimatumnya dia beranjak dari ruangan Raya menuju ruang Aula. “Kenapa Santi pergi ke aula, apa dia mau menemui dewan direksi!” seru Raya saat melihat Santi tidak langsung pulang dari kantornya.



Perasaan cemas dirasakan Raya saat ini, ketakutan dengan apa yang akan membuat dia kembali kemasa lalu membuat dirinya sangat tertekan. “Aku tidak ingin kembali kemasa itu, aku tidak ingin kembali.” ucap Raya dengan tatapan kosong sambil bolak balik di ruangan itu.



Raya berpikir keras agar dia bisa keluar dari masalahnya dengan Santi, ada rasa ingin menemui April dan Intan tapi dia tahu jika saat ini dirinya sedang dipantau oleh Santi. Raya mati kutu, dia tidak dapat berbuat banyak kali ini, satu sisi merasa senang karena perusahaannya perlahan kembali normal. Tetapi disisi lain dia dibuat frustasi oleh masalah rumah tangganya, juga hal yang dipikirkan yang terburuk adalah dia akan didepak dari rumah serta perusahaan itu.

__ADS_1



“Ini semua karena April, coba malam itu aku tidak menghampirinya, aku yakin sekali jika ini adalah rencana Chiko atau setidaknya aku sangat yakin jika dia ikut andil dalam masalah ini.” pikir Raya geram.



Santi keluar dari perusahaan itu, setelah berada di ruang aula Santi menghubungi April, dia menghubunginya karena ingin bicara mengenai masalah kejadian kemarin. Santi sudah berjanji jika dia kan membicarakannya nanti dengan April, kali ini Santi ada waktu luang dan kebetulan juga pekerjaan April hari ini tidak banyak.



April langsung menyetujui untuk bertemu dengan Santi, dia juga merasa sangat tidak enak atas kejadian malam itu. April tidak ingin pertemanannya dengan Santi yang baru saja dibangun berantakan, hancur begitu saja karena Raya. April merasa sangat tidak enak dengan Santi, karena selama ini Santi juga keluarganya sangat baik terhadap April.



Karena saat itu sudah pukul empat sore, Santi langsung meluncur ke tempat yang sudah disepakati sebagai tempat pertemuannya dengan April. April juga langsung merapikan semua alat kerjanya dan langsung meluncur cepat saat bel waktu pulang berbunyi, April tidak ijin langsung pada Chiko karena dia masih sibuk dengan pekerjaannya. April hanya mengirim pesan singkat agar bisa dilihatnya nanti jika dia sudah selesai bekerja.



Ruangan yang cukup ramai baru saja didatangi April, dia langsung menuju meja yang sudah di pesannya tadi untuk dia dan Santi berbicara. Dari kejauhan dia melihat Santi sudah duduk manis disana, April langsung menghampiri lalu menyapanya ramah. Melihat April datang Santi langsung beranjak dari duduknya dan menyambut wanita itu.



“Hai,”



“Halo, apa kabar,” ucap Santi, lalu mereka saling cipika cipiki. Setelah itu mereka duduk dan berbasa basi ringan, April mengatakan jika dia sangat berterima kasih karena Santi mau meluangkan waktu untuknya. April mengatakan jika dia merasa tidak enak dengan kejadian beberapa waktu yang lalu. Santi berkata jika dia tidak marah atau tidak mempunyai perasaan kesal dan apapun itu pada April.



Santi malah menyampaikan permintaan maafnya pada April atas kelakuan Suaminya, dia merasa sangat malu atas kelakuan jelek suaminya itu. “Kenapa kamu yang minta maaf San, aku seharusnya yang minta maaf sama kamu,” ucap April yang merasa tidak enak.



“Tidak Pril, jujur aku berasa tidak enak sama kamu dan Chiko,”



“Sudahlah San, \jujur aku merasa tidak enak juga saat ketemu kamu dan ternyata kamu adalah Istrinya Mas Raya,”

__ADS_1



Santi sedikit terkejut dengan ucapan April barusan, “Kamu panggil Mas Raya, Mas juga pril?”


__ADS_2