
"Sudah pasti, bersiaplah."
Wajah Raya dibuatnya sedikit terangkat, Intan memberikan \*\*\*\*\*\*\* yang langsung membuat Pria itu sangat berhasrat. Hanya sebentar mereka saling bertautan dan memainkan jerat lidahnya, Raya sudah menurunkan dress wanita itu hingga sebatas perut ratanya. Lalu dengan lahapnya Raya minum susu yang membuat sesekali Intan mendesah manja, Intan meremas gemas rambut Raya yang sudah rapi.
Pagi itu Raya kembali merasakan tubuh wanita yang sudah memberikan masukan padanya mengenai permainan di atas tempat tidur, Raya merasa sangat penat karena melihat perubahan sikap Santi juga April padanya. Raya sudah tidak bisa bermanja lagi dengan April, dia sudah ingin mengakhiri hubungan mereka. Santi juga dirasa sedikit berbeda malam itu, Raya merasa jika saat ini Santi sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Raya ingin melepaskan rasa galau hatinya bersama wanita yang saat ini dengan sangat suka rela melayaninya, “Emm, kamu tidak mengeluarkan berapa hari sayang, sepertinya sangat berhasrat hari ini,” ucap Intan di tengah permainan. “Jangan meledekku, puaskan saja hasratku pagi ini,” titah Raya yang sepertinya sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya.
Intan tertawa tipis, dia lakukan apa yang Raya mau, wanita itu bermain dengan sangat lihat, dia benar-benar mengetahui titik-titik mana aja yang bisa membuat Raya semakin terlena. Sentuhan nakal Intan terus membuat Raya merasa kenikmatan berbeda pagi ini, mungkin Intan bisa membuat Raya terus kembali kepadanya. Intan memang seorang wanita yang bekerja dalam bidang pelayanan hasrat kaum pria, jadi sudah barang tentu dia sudah sangat mengetahui bagaimana cara membuat pemakai jasanya itu merasa sangat puas.
Saat hasratnya sudah meninggi dan Raya siap untuk mengeluarkan hasrat tersebut, ponselnya berbunyi. Sekali berbunyi dia acuhkan, karena saat ini dia tidak ingin ada yang mengganggu kenikmatannya. Tetapi ternyata ponsel itu terus berteriak minta direspon, Raya berteriak kesal karena dia tidak bisa menikmati lagi permainan itu. “Sudah lah Ray, lanjutkan sedikit lagi kan?” “Iya, tapi aku mau lihat dulu siapa yang menghubungi, sepertinya penting karena menghubungi sampai beberapa kali,“ jawab Raya.
Raya mengambil benda pipih miliknya di dalam tas kerja, dia melihat siapa yang sudah mencoba menghubungi dirinya disaat yang tidak tepat. Raut wajah Raya langsung berubah saat melihat siapa yang sudah menghubunginya, dia mulai merapikan kembali dirinya. “Kamu mau kemana? Siapa yang sudah menghubungi kamu memangnya,” “Papa mertuaku, dia sudah sampai di kantor saat ini dan dia mencari keberadaanku,” jawab Raya sambil terus merapikan diri.
“terus bagaimana dengan hasrat kamu, bahaya loh kalau dibiarkan seperti itu, gak akan bisa fokus kerja nanti kamu,”
__ADS_1
“Aku akan menahannya sebisa mungkin, maaf yah karena aku harus pergi,”
“Santai saja, kalau aku sih tidak masalah, emm …, kamu jangan lupa transfernya yah,”
“Iya santai saja kalau soal itu, makasih yah sebelumnya,” sahut Raya yang lalu pamit dan langsung meninggalkan apartemen Intan.
Raya meluncur cepat ke kantor, beruntung jaraknya tidak terlalu jauh dan dalam waktu kurang dari setengah jam Raya sudah sampai disana. Raya bergegas menemui sang Papa mertua yang juga adalah atasannya di perusahaan itu, walau Papa sudah memberikan kepercayaan pada Raya untuk memimpinnya, tapi Papa sesekali masih datang untuk memantau semua pekerjaan Raya.
Sampai di ruangan Papa, Raya langsung di ajak untuk menemui beberapa koleganya.
Beruntung Raya karena saat ini Papa sangat sibuk jadi dia tidak sempat menanyakan dari mana dirinya tadi, mereka langsung bergegas jalan menemui tamunya di aula kantor. Sampai di kantor Chiko mengerjakan beberapa tugas yang dianggapnya sangat penting, April juga langsung mengerjakan satu tugas yang sempat ditinggalkannya kemarin. Niat hati ingin beristirahat tetapi ternyata Chiko tidak bisa melakukan hal itu, menjelang jam istirahat tiba Chiko berkata pada Dito jika dia sudah tidak kuat menahan rasa ngantuknya dan dia butuh tidur saat ini.
“Semua yang penting udah gua kerjain Dit, mata gua udah gak kuat nahan lagi, kepala gua udah pusing banget,” ujar Chiko.
“Ya udah sana tidur,gak mau makan dulu?”
__ADS_1
“Nggak ah, gak bisa kayaknya, gua cuma butuh kasur,”
“Ya sudah sana, heran gua sama lo, begadang sampai jam berapa sih emangnya sampai seperti itu, jangan kerja terus makanya Chik, ingat sama kesehatan lo sendiri, nyari duit sampai segitunya banget sih lo, emangnya belum puas apa sama harta yang saat ini juga gak bakal habis sampai tujuh belas keturunan lo,” cerocos Dito.
Chiko berlalu dari hadapan Dito, dia ingin tertawa tapi di tahan. Dito pikir Chiko seperti itu karena habis mengerjakan sesuatu, padahal yang sebenarnya dia seperti itu habis mengeluarkan hasratnya. Langkah Chiko sudah sangat lunglai, saat matanya melihat kasur besar dan empuk yang pastinya sangat nyaman, Chiko langsung melempar tubuhnya ke atas kasur empuk itu dan langsung memejamkan mata.
Dito menggelengkan kepalanya melihat temannya itu, dia menutup pintu rahasia ruang istirahat sang bos besar. Lalu dia merapikan beberapa bekas yang ada d atas meja kerja Chiko, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Tidak lama setelah Dito mempersilahkannya masuk, terlihat April datang menghampiri sambil mencari sesuatu.
Matanya berputar mencari sesuatu yang tidak ditemukan di ruangan itu, Dito tersenyum melihatnya, karena dia tahu apa yang April cari. “Woy cari siapa sis?” Tanya Dito yang membuat akhirnya April melihatnya, “Hehe, sorry Dit. Chiko gak ada disini yah, kok gak kelihatan?” ucapnya.
“Gitu dong tanya, ketahuan ada orang disini lo malah clingak clinguk sendiri,” jawab Dito yang membuat April nyengir kuda. Dito lalu mengatakan dimana keberadaan Chiko dan sedang apa, April menanggapinya dengan anggukan kepala. Sebenarnya April ingin pergi ke sana dan tidur bersama Chiko, tapi karena ada Dito di ruangan itu jadi April mengurungkan niatnya.
April pamit untuk beristirahat, Dito mengajak April untuk makan siang bersama tapi ditolaknya. April mengatakan jika dia sudah ada janji dengan teman-temannya untuk makan siang dengan mereka. Sore jam pulang kerja sudah tiba, April sudah selesai merapikan meja kerjanya. Dia ragu untuk keruangan Chiko, dia ingin melihat apakan Chiko sudah bangun atau belum.
__ADS_1
Baru juga dia mengaktifkan ponselnya, dia berniat untuk menghubungi Chiko, api ternyata pria itu sudah berada di depannya dengan senyuman paling manis seraya berkata, “Mau telepon aku yah?” April tersenyum dan menjawab, “Iya,” “Ya sudah yu kita pulang sekarang.