SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
MASIH MAU


__ADS_3

Sore itu Chiko masih melihat April dengan wajah yang kurang bersemangat, Chiko berpikir keras bagaimana caranya agar wanita itu kembali terlihat seperti biasa. Akhirnya setelah beberapa menit dia berpikir Chiko sedikit mendapat lampu terang, dia akan memberikan sedikit surprise pada April malam ini.



Chiko memberi pesan singkat pada April, dia berkata jika sore ini April harus pulang bersamanya, namun ditolak mentah-mentah oleh April, dia mengatakan jika sore ini dia akan mengerjakan pekerjaannya sampai selesai, kemungkinan dia akan menyelesaikannya sampai malam.



Mendengar penolakan April, Chiko tidak menjawabnya sama sekali, dia sudah bisa memprediksi sebelum dirinya mengatakan hal itu ke April. Tapi bukan Chiko namanya jika dia tidak punya plan B, dia sudah merencanakan hal lain saat April menolaknya dan dapat dipastikan oleh Chiko jika April tidak akan bisa menolak.



"Lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan kalau kamu sampai kembali menolaknya," ucap Chiko dengan senyum menyeringai.



Jam pulang kantor pun tiba, satu persatu teman-temannya sudah udah pergi meninggalkan meja kerja. Sementara itu April masih berkutat dengan beberapa lembar file yang ada di atas meja kerja, juga terus menatap layar benda pipih yang ada di depannya.



Chiko terus berjalan mendekati April dengan sedikit senyum di wajah, dia melihat sekeliling hanya tinggal tiga orang saja yang berada di ruangan itu. Chiko Pun terus berjalan sampai dia berada di depan meja kerja wanita itu, sampai di sana dia diam mematung melihat apa yang dikerjakan April.



Merasa ada bayangan di hadapannya dan ada yang memperhatikan perlahan April pun menoleh, saat dia melihat sosok yang ada di hadapannya itu April mengerutkan sedikit keningnya seraya berkata, "Chiko!"



Dengan santainya juga senyum yang manis dia menjawab ucapan April, "Halo sayang,"



April menjawabnya dengan tatapan malas, "Apaan sih Chik, sudah sana pulang, masih ada yang harus aku kerjakan," ucap April sedikit mengusir Chiko.



"Sudah lah, rapikan semua berkasnya," tukas Chiko yang kali ini tanpa senyum sedikitpun.



"Chik, aku kan sudah bilang tadi, ada yang masih harus aku kerjakan, nanti saja yah,"



"Aku mau sekarang Pril," tukas Chiko dengan wajah datar, 'Kenapa sih dengan dia sore ini.' Keluh April dalam hatinya.



April menghela nafas, lalu melihat Chiko yang saat ini memasang wajah datar. "Kamu maksa aku!"


__ADS_1


"Jelas terlihat dari raut wajahku kan!"



April berdiri dan sedikit mendekati tubuh nya ke Chiko yang terhalang meja kerja seraya berkata, "Tapi maaf aku tidak suka dipaksa!"



"Sayangnya aku sangat suka memaksa Nona, kemasi sekarang atau aku akan membawa calon Istriku ini dengan caraku sendiri," ancam Chiko, "Dan aku tidak akan mengulangi kata-kataku." timpalnya.



Namun April bersikap cuek dia tidak menanggapi ancaman Chiko, karena saat ini dia benar-benar ingin menyelesaikan pekerjaannya, April kembali duduk di meja kerja dan memegang berkas yang ada di atas meja, tangannya mulai kembali menari di atas tuts keyboard.



Melihat itu Chiko hanya menyeringai, lalu perlahan dia bergerak mengikuti arah meja yang menghalanginya, Chiko lalu memutar kursi April hingga wanita itu menghadapnya sedikit tubuh Chiko ditundukan lalu dia menatap April yang sedikit terkejut karena ulahnya itu.



"Aku sudah bilang kan, kalau kamu menolak aku akan membawamu dengan caraku," tukasnya, satu kecupan singkat didaratkan di bibir April yang membuat wanita itu memeluknya dan berteriak sedikit tertahan, "Chiko!"



"Mau aku lakukan hal itu lagi disini," ujar Chiko yang membuat April melirik ke arah lain, tiga orang yang masih berada diruangan itu melihat ke arah mereka, "Chik, ja-uh, itu mereka perhatikan kita, Ih," seru April sambil mendorong tubuh Chiko yang semakin mendekat.




"Chiko!" Teriak April geram dengan tingkah pria yang ada di depannya itu. Saat April berteriak, ternyata Papa Chiko sedang melintas di sana bersama rekan Kerjanya. Dia pun menghampiri dua sejoli itu dan mengatakan apa yang sedang mereka lakukan.



Chiko menjelaskan apa yang saat ini sedang terjadi, karena yang cukup jelas kan itu melenceng dari kenyataannya, April pun menyela untuk membela diri tapi ternyata ucapan April itu malah Boomerang untuknya. Papa Chiko ternyata malah meledeknya dan mengatakan jika dirinya dan Chiko akan dinikahkan secepatnya, kalau bisa tiga hari lagi mereka akan segera naik pelaminan.



Hal itu membuat wajah April memerah namun tidak dengan Chiko, dia malah menyambut baik ucapan Papa itu dan mengucapkan Oke dengan sangat semangat.



Setelah Papa pergi April merapikan semua berkasnya, dengan rasa kesal yang terlihat jelas di wajahnya April pergi meninggalkan Chiko.



Chiko bergegas mengejar, dia hanya mengikuti dari belakang, sampai lobby baru dia menahan langkah April dengan meraih tangannya dan berkata, "Tunggu!"



"Kenapa lagi sih Chik, aku mau pulang,"

__ADS_1



"Ikut aku sebentar saja," ujarnya.



April melihat wajah Chiko, terlihat kesungguhan jika dia sepertinya memang ingin mengajaknya pergi dan seperti ada yang ingin disampaikan olehnya. Sebelum akhirnya dia mengatakan Iya, April terlebih dulu menghela nafas, setelah mendapat jawaban dari wanita itu Chiko langsung tancap gas.



"Kita mau kemana?" Tanya April ditengah perjalanan.



"Agak jauh sih, tapi cuma mau ajak makan aja, gak apa-apa kan!"



"Emm, gak masalah sih, tapi kenapa harus maksa seperti tadi, aku pikir mau apa,"



"Masalahnya aku sudah malas melihat muka kamu yang terus terusan bad mood sejak beberapa hari yang lalu, apa kamu sudah kontek lagi sama simpananmu itu," ungkap Chiko dengan menekankan kalimat terakhir.



"Biasa aja dong bilangnya," sahut April, "Belum, semenjak itu aku belum bertemu dengannya lagi,"



"Apa karena itu kamu jadi uring-uringan gak jelas, kangen sama sentuhannya," sindir Chiko.



"Sudah lah Chik, jangan bahas ini dulu, kamu cemburu saat aku sedang malas dicemburui," sahut April malas, lalu dia bersandar dan melihat jauh keluar.



Chiko diam, dia melihat wajah melas April jadi merasa tidak tega juga untuk terus menekannya, tapi jujur dalam hatinya Chiko juga sudah sedikit merasa jengah dengan sikap April yang masih saja terus ingin bermain dengan Raya, walaupun dia mengatakan sudah tidak pernah, namun selama rasa itu masih disimpan, tidak akan menutup kemungkinan jika hal itu akan terjadi lagi.



"Boleh aku jujur Chik!"



"Silakan,"



"Bagaimana jika aku masih ingin terus bersama Raya sampai saat ini, aku masih ingin bermain nakal dengannya!"

__ADS_1


__ADS_2