
"Untungnya kamu gak seperti Raya, kalau kamu pakai perasaan sama yang lain nantinya bisa bucin kaya Raya," kembali sindiran halus keluar dari bibir April, lalu dia tertawa geli.
Raya menutup pintu apartemennya cukup keras, hingga beberapa benda yang berdekatan dengan pintu itu bergetar. Dia masih merasa marah karena kejadian yang tadi, rasa amarahnya terus memuncak saat dia mengingat April dan Chiko.
"Aku jadi benci banget sama April sekarang dan semua itu bukan karena kesalahanku, semua karena ulahnya." Geram Raya.
Pakaiannya di lempar ke sembarang tempat, tubuhnya di lembar ke atas sofa empuk ruang tengah. Raya menghela nafas panjang, kepalanya pusing memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang akan dihadapi. Semakin lama otaknya berputar semakin dirasa sakit kepalanya, matanya tidak bisa terpejam bahkan sulit dipejamkan.
Raya menjadi kesal sendiri, sudah satu jam dia seperti itu sampai akhirnya dia meraih jaket yang ada di kamar lalu dikenakannya. Raya keluar dari apartemen untuk mencari udara segar, kendaraannya di laju cukup cepat, saat ini dia masih belum tau kemana tujuannya namun yang pasti dia hanya ingin keluar dan tidak sendiri.
Pikirannya berkata jika dia keluar mungkin perasaan kalutnya sedikit bisa terlupakan. April tiba dengan Chiko, kali ini mereka pulang ke rumah Chiko karena sudah cukup lama juga mereka tidak bermalam bersama disana. Hembusan nafas lega dilakukan April sambil melihat semua sudut ruangan dengan senyumnya.
"Kenapa! Senang benar sepertinya ada disini, kangen yah udah lama gak berkunjung," ucap Chiko sambil terus melangkah masuk dan membuka sepatunya.
Senyum terus terlihat di wajah April, "Iya, jujur aku memang merasa senang bisa berada disini lagi, kangen juga ternyata," jawabnya.
"Tapi aku sedih loh Pril."
"Eh, kenapa!"
__ADS_1
"Kangennya bukan sama yang punya tempat sih, tapi sama tempatnya," canda Chiko membuat April tertawa.
"Iya lah, kalau sama orangnya bosan malah, ketemu terus dan bukan cuma setiap hari tapi juga setiap saat," ejek April.
Chiko langsung meraih tubuh April dan menggendongnya seperti karung beras, saat tubuhnya tiba-tiba diangkat April terpekik dan berteriak. "Chiko turunnin!" Sentak April namun sudah pasti tau kan apa yang dilakukan Chiko. Dia malah melempar tubuh April ke atas kasur dan bergegas memeluknya, Chiko memeluk tubuhnya erat lalu diam.
"Kenapa?" Tanya April heran.
"Aku lelah banget, tapi kangen sama kamu," rengeknya.
Chiko selalu bersikap manja seperti anak kecil hanya bersama April, saat mereka berdua Chiko sangat memanfaatkan momen kebersamaannya itu untuk melepas sisi lain dari dirinya. Dan sisi lain diperlihatkan pada April, hanya padanya. April tersenyum melihat manjanya Chiko, dia menyukai kemanjaan Chiko saat sedang berdua.
Chiko memberikan kecupan singkat di pipi April, wanita itu minta agar Chiko membersihkan diri terlebih dahulu sebelum dia beristirahat. Tidak cuma Chiko, April juga membersihkan dirinya setelah Chiko. April juga berkata jika hari ini dia merasa lelah dan ingin tidur, setelah Chiko terlelap April menyusulnya mencoba untuk memejamkan mata dan tidur cantik.
Setengah jam Raya berada dijalan dan tidak tentu arah, yang pada akhirnya dia memutuskan untuk menghabiskan malam di sebuah klub. Dalam perjalanan kesana ponselnya berbunyi dan ternyata itu dari Intan, salah satu wanita yang bisa membuat dirinya merasa puas. Raya segera menjawab telepon itu, otaknya langsung mencerna saat suara Intan terdengar.
"Pas banget dia telepon." Ucapnya. Dan perasaan Raya pun langsung berubah, dia menjadi sumringah saat Intan menghubungi dan langsung rencana datang di otaknya. Raya mengajak Intan ketemuan, dan sudah dapat dipastikan jika Wanita itu tidak akan menolak ajakan Raya.
Saat ini Raya sedang berbaik hati, dia akan menjemput Intan di tempatnya. Sontak hal itu jadi bahan candaan untuk Intan, gurauan Intan dengan kata-katanya memang selalu bisa membuat Raya tertawa. Ucapannya yang ceplas ceplos membuat Raya terhibur, walau kadang sedikit menyakitkan hati.
__ADS_1
Dengan perasaannya yang saat ini berubah karena Intan, Raya melaju cepat menjemput Wanita itu sambil bernyanyi. Satu buah lagu dari band papan atas Indonesia di didendangkan, hal itu membuat dirinya menjadi semakin bersemangat.
"Ini udah malam kenapa masih ada macet sih." Gerutu Raya saat dia menemukan kemacetan di salah satu jalan menuju rumah Intan. Dalam kemacetan itu pikirannya melayang, Raya terbayang wajah serta tubuh Intan yang pernah dirasakannya. Dia juga mengingat bagaimana Intan sangat memuaskan dirinya.
Mengingat hal itu otak kotor Raya travelling, dia membayangkan bagaimana nanti dia akan bermain dengan Intan. "Akh parah, candu baru gua sepertinya si Intan nih." Seru Raya mengingat semua kejadian saat bersama Intan.
Kemacetan itu ternyata bisa dinikmati Raya, karena dalam kemacetan itu dia bisa mengkhayalkan Intan. Sekitar dua puluh menit kemacetan terjadi, di sela kemacetan detik terakhir Intan menghubungi Raya melalui video call. Intan ingin tahu keberadaan Raya, karena ternyata Raya datang lebih lama dari waktu yang seharusnya.
Saat melakukan video call tersebut Raya malah salah fokus, dia tidak bisa terus melihat wajah cantik Intan. Matanya tertuju pada pakaian dikenakan Intan, pakaian sangat mini dengan bagian tengah dada yang sudah pastinya cukup rendah. Membuat Raya membayangkan kembali bagaimana rasanya menyentuh dan memainkan benda kenyal tersebut.
Raya matikan sambungan teleponnya saat kemacetan sudah mulai hilang, ditengah perjalanan Raya melihat kenapa jalan itu bisa macet, ada kecelakaan yang terjadi sehingga menimbulkan kemacetan tersebut. Setelah bisa melewati jalan itu Raya langsung melaju dengan sangat cepat, hanya beberapa menit saja dia sudah sampai di halaman rumah Intan sang janda kembang juga idola di tempatnya bekerja.
Melihat mobil mewah Raya datang Intan langsung menghampiri, karena dia sudah menunggunya di teras depan. Raya tidak turun dari kendaraannya, dia menunggu disana sampai Intan masuk. Dengan wajah sedikit muram Intan masuk, Raya tersenyum tipis melihat kemarahan di wajah cantik itu.
"Aku kan sudah kasih tau kenapa datangnya lama, masih marah aja!" Ucap Raya, kemudian kembali memutar balik kendaraannya menjauh dari rumah Intan.
"Iya tau, tapi gimana dong, gua masih kesel nunggu, hal itu kan bikin semua orang emosi, gua yakin lo juga bakal seperti itu," sahut ketus Intan.
"Iya aku tau, tapi coba sampai klub nanti raut wajahnya udah berubah ya, aku kan rela jemput kamu tidak untuk melihat wajah kamu yang seperti itu," ujar Raya, namun masih disambut dengan raut wajah malas Intan.
__ADS_1