
“Ada yang mengintip?”
Raya langsung berpaling ke arah yang terlihat dari mata Intan, namun dia tidak melihat kalau ada seseorang yang mengintip mereka. “Mana! gak ada?”
“Dia tadi melihat ke arah sini lewat balik buku menu, di meja nomor tiga lima,” jawab Intan.
“Cewek atau cowok, hanya kebetulan melihat ke arah kita saja mungkin,” balas Raya.
“Kurang tahu karena aku hanya berpapasan dengan matanya saja, bisa jadi,” jawab Intan.
Sinta sudah pindah dari meja itu, dia pindah ke meja yang berjarak dua meja lagi kebelakang. Sinta masih ingin melihat bagaimana Raya dengan wanita tersebut, dia ingin tahu bagaimana Raya memperlakukan wanita itu.
“Apa dia wanita yang selama ini jadi selingkuhan Raya?” tanya Sinta dalam hatinya. Sinta mengambil gambar untuk dijadikan barang bukti, dia lalu menghubungi anak buahnya yang memang ditugaskan untuk mengikuti Raya. Sinta berkata kalau dia ingin bertemu saat ini juga, dia ingin tahu apa saja yang sudah anak buahnya itu dapat selama mengikuti Raya.
“Posisi kamu dimana sekarang?”
“Saya ada di cafe Induk Bu,” jawab anak buahnya.
“Oke, kita bertemu di cafe sebelahnya yang sekarang, saya tunggu disana,” ucap Sinta.
“Baik Bu,” sahutnya.
Sinta pergi dari tempat itu, meninggalkan Raya dan wanitanya disana dengan berat hati. Dia lebih ingin mengetahui apa yang sudah di dapat anak buahnya selama beberapa waktu mengikuti Raya.
Raya terus membuat Intan di dekatnya, dengan bayaran yang tinggi Intan tidak pernah menolak ajakan Raya untuk bertemu, dia malah senang karena dia bisa mendapat kepuasan juga uang yang mungkin tidak bisa di dapatnya dalam dua hari.
Intan menemani Raya makan siang yang bisa dibilang sudah telat, hal itu terjadi karena Raya enggan meninggalkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi, padahal kalau dikerjakan masih membutuhkan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
“Habis ini kamu mau kemana, apa ada cara lagi, bertemu seseorang?” tanya Raya sambil melahap makanannya.
“Iy, aku ada mau ketemu teman aku, dia mau ajak aku untuk melihat salah satu klub yang dikelolanya, dia minta agar aku kerja disana,” ungkap Intan.
“Klub! kamu yakin mau bekerja di sana, sebagai apa?”
“Aku tidak punya keahlian lain Ray selain yang selama ini kamu nikmati, semenjak ada kamu aku tidak pernah melakukan itu karena aku pikir semua kebutuhan aku sudah tercukupi hanya dengan bertemu kamu,” ungkap Intan.
“Lalu kenapa kamu masih ingin tetap bekerja?”
“Ya ampun Pak, masa harus aku jelaskan juga. Kamu tidak akan selamanya panggil aku kan Ray, aku juga tidak mungkin terus menunggu kedatangan kamu,” tukas Intan yang di pikir Raya benar juga.
“Kamu memang benar tidak punya keahlian lain, misalnya pernah bekerja di kantor?”
“Dulu pernah sekali aku jadi sekretaris, tapi hanya sebentar aku sudah dipecat, karena istri bos aku cemburu melihat kedekatan aku dengan suaminya itu,” ungkap Intan lalu tertawa.
Raya langsung ajak Intan bicara mengenai usaha, apa ada usaha yang ingin dia lakukan agar bisa menunjang kehidupannya kelak. Raya ajak juga Intan untuk bekerja sama, mereka mencari usaha yang sekiranya bisa mereka lakukan berdua.
Sinta sudah berada di cafe sebelah saat anak buahnya datang, dia langsung minta pada bawahannya itu laporan mengenai Raya. Beberapa foto juga video di perlihatkan pada Sinta, di video yang dia lihat Raya memang beberapa kali menjemput dan bertemu dengan Intan. Bahkan mereka bermalam bersama di apartemen Raya yang juga pernah di tinggali Sinta dan Raya.
Foto yang memperlihatkan Raya dan Intan membuat darahnya sedikit mendidih karena marah, Sinta melempar ke atas meja dengan wajahnya yang terlihat menahan emosi. Pria yang ada di depannya itu kembali memberikan beberapa bukti berupa barang yang sudah diterima Intan dari Raya.
“Apa ini sudah semua?”
“Sudah Bu,” jawabnya.
“Apa kamu yakin?”
__ADS_1
“Iya Bu, selama beberapa waktu ini tidak ada yang terlewatkan oleh saya sama sekali, dalam Foto juga video tertera tanggalnya dengan sangat jelas,” ujar anak buahnya.
“Apa kamu cari tahu juga siapa wanita itu?”
“Tidak Bu, karena Ibu belum memerintahkannya,” jawabnya singkat.
“Baiklah, saya rasa untuk bukti sudah cukup, sekarang kamu cari tahu siapa wanita itu juga keluarganya, aku mau laporannya secepatnya,” titah Sinta.
Selesai Sinta bicara, anak buahnya itu langsung beranjak pergi dari sana. Sinta kembali melihat beberapa foto juga video yang tadi hanya melihatnya sekilas. Jam dilihat Sinta, sudah pukul setengah empat saat ini, sebentar lagi waktunya April pulang. Sinta langsung chat wanita itu dan minta dirinya untuk datang ke tempat dimana Sinta berada saat ini.
Pesan itu langsung dibalas April cepat, Sinta menunggu kedatangan April sambil melihat laporan perusahaan dari orang kepercayaannya. Sejak dia memutuskan untuk berpisah dengan Raya, Sinta mulai sedikit demi sedikit mengetahui kembali seluk beluk perusahaan keluarganya itu. Satu jam kurang April sudah tiba di cafe tersebut, sepintas dia melihat sosok seperti Raya saat dia baru saja keluar dari dalam mobil.
Matanya dipertajam, April ingin tahu lebih jelas apa benar penglihatannya itu. “Benar itu Raya, sama siapa dia,” ucap April, “aku pikir dia akan menghentikan kegilaannya setelah sama aku, tapi ternyata dia masih saja seperti itu, ga salah kalau Sinta minta berpisah darinya,” ucap April yang geram melihat tingkah Raya.
April ingin sekali menghampiri Raya dan dia melakukannya, April jalan mendekati Raya yang berbincang manis dengan Intan saat keluar dari cafe. Belum sempat April melabrak Raya, pria itu sudah naik ke mobilnya dan pergi bersama wanita itu. April memukul angin karena merasa kesal kehilangan mereka, setelah kehilangan kesempatan memberikan sedikit sentilan pada Raya, April kembali pada tujuannya.
“Hai San,” tegur Apri saat dia sampai di meja Santi dengan nafasnya yang sedikit terengah.
“Halo April,” sapa ramah Santi sambil berdiri menyambut April, lalu cipika cipiki. Raut wajah Santi berubah saat dia menyadari dan merasakan nafas April yang sedikit berlari. Santi langsung mempersilahkannya duduk, lalu dia memberikan gelas minumannya karena melihat April yang sedikit ngos ngosan.
“Ini minum dulu,” ucap Santi.
“Gak usah makasih, aku hanya butuh sedikit nafas saja,” jawab April.
“Ya sudah kalau gitu, aku akan pesan air mineral untuk kamu, kamu silahkan atur nafas dulu,” ucap Santi.
April mengatur nafasnya yang sedikit terengah, dia merasa sudah tua karena baru berjalan cepat seperti itu saja April sudah kelelahan. Setelah merasa cukup tenang Santi menanyakan apa yang sudah terjadi pada dirinya sampai dia terlihat sedikit kelelahan.
__ADS_1
“Aku tadi lihat Raya bersama cewek lain, saat aku mau dekati dia sudah keburu pergi,” tukas April yang terlihat bicara dengan ras kesal.