
"Ya ampun Chik, kita mau berangkat kerja loh, nanti terlambat," tolak April.
"Masih ada waktu, aku gak mau nahan Pril, yang ada nanti pekerjaanku gak beres lagi,"
"Iya …, tapi ini apa sempat Chik, perjalanan saja berapa jam,"
"Sempat," sahut Chiko yang lalu mencoba untuk membuka kancing pakaian April, namun April menahannya.
"Chik please deh, bisa nanti malam kan, belum nanti kita harus mandi lagi,"
"Kita mandi bareng dan kalau perlu main lagi disana,"
"Apaan sih Chik, sudah sana ah," tolak manja April yang sepertinya mau tapi malu. Dia sedikit meronta, namun Chiko tetap memegang erat tubuh wanita itu. Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya April menyerah juga.
April membiarkan tangan Chiko yang mulai nakal membuka kembali kancing kemejanya lalu dibuang sembarang. Tangan Chiko yang sudah gatal ingin meremas benda kenyal kini dilakukannya, kain penutup itu dibuka lalu diletakkan di sembarang tempat. Dia tidak ingin ada yang menghalangi keinginannya, sentuhan-sentuhan yang membuat April terus mengejang diberikan Chiko.
Chiko langsung memberikan rasa yang membuat hasrat April naik beberapa level, tautan panas langsung diberikan dengan tangan yang terus bergerak nakal si benda kenyal milik April. Saat jarinya memainkan benda kecil di ujung bukit, April mendesah pendek dan meremas rambut Chiko.
Wanita itu mengarahkan Chiko agar dia cepat melakukan serangan di dua benda kenyalnya itu, April sudah tidak bisa menahan dirinya. Tanganya membuka pakaian Chiko, semua benda yang sudah rapi dipakai Chiko kini dilucutinya. Chiko pasrah dengan apa yang sedang dilakukan April padanya, karena dia sedang menikmati susu yang langsung dari tempatnya.
Bukan hanya dirasakan enak oleh Chiko namun juga dirasakan nikmat oleh April, Chiko yang cepat membuat gairah mereka memanas membuat April sungguh tidak bisa menahan diri. April membuat Chiko terduduk di sisi tempat tidur, kemudian dengan tanpa ragunya dia baik di atas pangkuan Chiko. Permainan langsung dilanjutkan dengan posisi awal yang nikmat.
Keduanya merasa saling memberikan rasa, Chiko dan April terlena dengan permainan mereka. Pagi itu disaat semua sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja, bahkan ada yang sudah mengerjakan kewajibannya, dua insan ini sibuk dengan melampiaskan hasrat mereka.
"Ah, langsung yah sayang, kita ngejar waktu." ucap Chiko yang dijawab anggukan kepala April. Chiko mulai memainkan pedangnya di bibir lembah basah April, lalu perlahan pedang tumpul itu di masukkan hingga membuat April mendesah tertahan, "Ahm." April menikmati perjalanan pedang tumpul itu masuk kedalam tubuhnya.
__ADS_1
Matanya terpejam dengan bibir bawah yang sedikit di gigit. Chiko mulai membuat tempat tidur itu bergerak, hentakan demi hentakan diberikan Chiko. April terus memanggil nama Pria itu dengan desah manjanya, sesekali tangannya mencengkeram salah satu anggota tubuh Chiko yang sudah bermandi peluh.
Mata Chiko melirik ke arah jam yang menempel di dinding, melihat waktu yang terus berkurang Chiko mempercepat laju hentakannya. April terus berteriak saat Chiko bergerak semakin cepat dan cepat, tubuhnya terguncang hebat hingga membuat dirinya harus berpegangan kuat pada suatu benda.
Pagi ini April merasa hentakan Chiko sangat kuat, berbeda dengan apa yang dirasakannya malam lalu. Mungkin karena pagi tenaga Chiko masih full, berbeda dengan malam karena dia habis bekerja seharian. Tetapi itu tidak mengurangi ketangkasan Chiko, April tetap merasa jika Chiko sangat perkasa di setiap permainan.
"Ah Chik …," teriak April sambil memegang lengan Chiko kuat.
"Tahan sayang, Akh …, sebentar lagi."
Chiko kembali menghentak dengan keras dan cepat, dia gerakan yang akan membuat hasrat mereka keluar. Lembah basah milik April sudah sangat basah, saat Chiko terus menghentakkan cepat dan kuat, mereka terus mengeluarkan suara bergantian.
Cepat dan semakin cepat serta keras menghentak, sampai akhirnya sesuatu keluar dari ujung pedang milik Chiko. Desah lega terdengar dari keduanya saat hasrat mereka keluar dengan sangat sempurna, tinggal deru nafas memburu yang terdengar di kamar itu.
"Mau mandi sekalian gak?" Tanya April.
"Emm, sekalian, tolong bantu aku," jawab Chiko yang lalu minta bantu untuk berdiri. April mengulurkan tangannya yang disambut oleh Chiko, kemudian April menariknya kuat agar Pria yang sedang merasa lemas itu bangun. Mereka mandi bersama, tapi hanya sekedar mandi karena tenaga mereka belum pulih, lagi pula mereka masih harus bekerja saat ini.
Setelah merapikan diri Chiko dan April bergegas mempersiapkan semuanya untuk pergi ke kantor, April bersama Chiko, dia diperintahkan untuk pergi bersama oleh Chiko. Dalam perjalanan menuju kantor mereka tidak banyak bicara, baik Chiko maupun April sama-sama merasa lelah. Walaupun permainan mereka tidak terlalu lama, namun tenaga yang dikeluarkan sama dahsyatnya.
"Kamu sih, sudah tau mau kerja malah main, jadi kan begini nih,"
"Habis bagaimana dong, kalau ditahan juga aku gak akan bisa konsentrasi nanti,"
"Akhirnya setelah main sama saja kan!"
__ADS_1
"Iya Nyonya, aku akan ijin tidur sebentar nanti," ujar Chiko.
"Kamu enak, aku bagaimana?"
"Karena aji atasan kamu jadi kamu harus ikut aku juga beristirahat nanti, kita tidur bersama di ruangan,"
"Hem, yang ada nanti aku digrebek,"
"Gak lah, emangnya tempat pinggiran."
Chiko melaju dengan cepat, dia tidak ingin terlambat sampai di tempat tujuan. Walaupun sebenarnya saat ini dia lelah dan sedikit mengantuk. Raya ternyata tidak pergi langsung ke kantor, dia pergi ke apartemen wanita yang dulu pernah bermain dengannya.
"Wah wah, coba lihat siapa yang datang pagi buta ke tempatku, suatu kehormatan didatangi oleh ceo yang sudah dipastikan tidak akan punya waktu,"
"Jangan meledekku, aku butuh asupan saat ini," ujarnya. Wanita yang masih mengenakan dress tidurnya tersenyum manis, dia lalu memainkan jarinya di dada bidang Raya seraya berkata, "Kamu butuh asupan seperti apa?"
"Aku gak tidak tahu," ucap Raya yang langsung duduk di sofa empuk. Wanita itu baik dan duduk diatas pangkuan Raya, dengan baju yang tipis dan bagian depan yang sangat rendah. Membuat gunung besarnya yang menyembul terlihat sangat menggoda mata Raya, "Apa sudah minum susu pagi ini," ucapnya penuh goda.
"Belum sih, apa kamu mau memberikannya?"
"Dengan sangat senang hati akan aku berikan, tapi kamu tahukan apa imbalannya hanya untuk itu!"
"Tentu saja, aku akan memberikan apapun yang kamu kamu, asal kamu bisa menghilangkan rasa penat di kepalaku ini," ucap Raya.
"Sudah pasti, bersiaplah."
__ADS_1