
“Iya hallo.”
Senyumnya terlihat saat mendengar suara lembut tersebut namun dia masih tidak menjawab sapa dari seorang wanita yang ada di ujung telepon tersebut sampai akhirnya wanita itu kembali berucap.
“Halo ini siapa yah, maaf tapi kalau masih belum mau jawab aku akan langsung tutup teleponnya,” ujar wanita itu yang terdengar sedikit merasa kesal karena tidak ada jawaban.
Senyum Raya memudar saat kembali mendengar suara wanita tadi, dia merasa ada yang berbeda, suara itu terlalu lembut, muncul rasa tidak yakin pada dirinya saat ini. “Bukan, itu bukan suara Intan,” batinnya dengan kening yang sedikit mengerut.
“Halo.”
“Iya maaf, tapi maaf sebelumnya, apa ini Intan?”
“Intan! Maaf bukan.”
“Lalu ini siapa dan kenapa nomor Intan bisa ada sama kamu, apa kamu mencuri atau kamu menemukan ponsel itu di tempat terjadi kecelakaan yah,” cerocos Raya.
“Saya Galih dan saya tidak mengambil atau menemukan hape ini juga tidak mencurinya, aku dapat dari seseorang yang jual butuh saat itu, yah aku memang belum sempat ganti nomornya tapi ini aku sudah di konter dan baru mau ganti,” jawab wanita yang ada diujung telepon tersebut dan bernama Galih.
Raya terkejut mendengar cerita dari Galih, lalu dia kembali menanyakan beberapa pertanyaan mengenai siapa yang menjualnya kenapa bisa sampai di jual apa dia kepepet atau apa. Raya berpikir yang menjualnya adalah Intan sendiri karena saat itu dia memang tidak membawa uang sepeserpun tetapi ternyata yang menjualnya adalah seorang pria.
Berita mengenai Intan buntu sampai Raya tidak bisa menghubungi Intan karena saat ini hanya itu yang bisa dilakukan Raya untuk mencari Intan, hanya bisa melalui sebuah ponsel. Dia belum bisa mencari dimana keberadaan wanita itu saat ini mungkin juga nanti karena gerakannya yang terbatas.
__ADS_1
“Bagaimana cara aku cari tau dimana kamu Tan,” ucapnya putus asa, “apa aku minta tolong si Haris saja yah, dia kan tau di mana rumah ntan, iya aku coba aja deh,” timpelnya yang lalu menghubungi orang yang disebutkan tadi.
Raya menghubungi Hari salah satu supir kantornya yang dulu pernah beberapa kali diminta Raya untuk menjemput Intan dan Hari dengan senang hati menjalani permintaan Raya juga kali ini. Setelah dia menutup ponselnya Raya berharap jika akan ada berita baik dengan pencarian Hari ke sana.
Beberapa hari berlalu, Raya sudah keluar dari rumah sakit namun da masih juga belum menemukan kabar tentang Intan. Saat ini Raya tinggal di apartemennya karena Santi sudah tidak ingin dia tinggal di rumah besar agar Arya nantinya bisa sedikit terbiasa dengan ketidakhadiran Raya di rumah itu.
Santi kini kembali memegang kendali perusahaan di bantu papa dari belakang, dia sudah memasukkan gugatan cerai pada Raya yang saat ini sedang diproses. April juga Chiko sudah melakukan prewed karena mereka akan melangsungkan pernikahan sekitar dua bulan lagi.
Suara bel rumah berbunyi, seorang wanita dengan pakaian santai berlari kecil menuju pintu dan membukanya. Senyum serta sapa manis langsung terdengar oleh seorang pria yang baru saja terlihat pulang, bukan hanya sapa namun satu kecupan singkat juga pelukan hangat diberikan wanita tersebut.
“Kok gak ngabarin kalau pulang lebih cepat,” ucap manja wanita itu sambil meraih tas kerja sang pria.
“Emm, aku tidak seperti kau Chik, aku tip setia, kalau kamu aku masih harus terus jaga-jaga, takut kumat si otongnya,” balasan ejekan April pada pria yang saat ini sangat dicintainya.
“Iya, aku memang membutuhkan kamu untuk mengatasi semua itu dan karena itu kamu harus melayani semua kebutuhan adikku ini kapanpun dan dimanapun agar dia tidak jajan di luar, ok!”
“Aw, Chik, mandi dulu sana,” teriak Apri saat tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh Chiko.
“Aku gak mandi juga masih tetap harum sayang,” jawabnya lalu memberikan kecupan nakalnya di leher jenjang April yang berhasil membuat bulu kuduk wanita itu merinding.
__ADS_1
April terus meronta sampai-sampai tas kerja yang saat itu masih dibawanya mengenai tubuh Chiko dan Chiko langsung melempar tas itu sembarang. Belum mandi dan belum makan, semua yang ditawarkan April ditolak oleh Chiko saat pria itu sudah berada di atas tubuh April setelah Chiko melempar pelan tubuh wanita itu di atas kasur.
“Ayolah Chik, isi tenaga dulu deh, emangnya kamu tidak capek,” ucap April kembali agar Chiko tidak melakukan itu saat ini.
“Saat ini aku tidak mau yang lain sayang, aku maunya cuma kamu dan hanya kamu jadi percuma kamu menolak dengan menawarkan berbagai macam cara apapun itu padaku,” balas Chiko yang membuat April kesal namun tidak lama dia tertawa.
“Ya sudah deh aku pasrah,” sahut April dengan wajah yang sedikit dibuat cemberut.
“Ah enggak ah, aku gak mau kamu pasrah, lawan yah beb.”
Chiko langsung membuat April kembali berteriak karena dia langsung melepaskan paksa semua benda yang melekat ditubuh April sambil berkata jika saat ini dia mau ada yang menghalangi. Sesekali Chiko membuat April tertawa dengan semua sentuhan jahilnya, sentuhan jahil itu juga yang perlahan membuat tawa April tidak terdengar karena dia sudah mulai menikmati sentuhan yang dilakukan Chiko.
Seluruh tubuh polos itu diberikan sentuhan yang membuat desiran di tubuh April, matanya tidak bisa untuk tidak tertutup menerima semua kenikmatan awal sebelum permainan panas yang akan mereka lakukan. Lampu mulai dipadamkan dan mereka mulai menikmati malam yang bisa di bilang masih sore oleh sebagian orang karena baru pukul delapan malam.
Sementara itu di tempat yang lain Santi sedang menikmati malam yang cukup dingin itu sendiri di sebuah kafe, menikmati secangkir kopi hangat dengan makanan pendampingnya. Santi berada di sana setelah dia mengadakan pertemuan dengan teman bisnisnya, Santi memutuskan tidak langsung pulang karena dia merasa butuh waktu sebentar lagi disana.
Dia merasa ada yang memperhatikannya di belakang dan saat dia menoleh benar saja ada seorang pria yang tersenyum padanya. Sinta langsung kembali berpaling karena dia malas meladeni pria genit seperti itu. Santi cek pekerjaan yang belum lama dilakukannya dengan klien agar perhatiannya tidak terganggu pada pria yang ada di belakangnya.
Seorang wanita dengan tubuh yang dibalut pakaian seksi melenggang dengan sangai luwes masuk ke kafe, matanya langsung tertuju pada lambaian tangan seorang pria yang berada tepat di belakang Sinta berada. Wanita itu membalas lambaian tangan dengan senyum dan tidak memperhatikan sekeliling sampai dia menyenggol sisi meja yang saat itu sedang apa penghuninya.
__ADS_1
“Eh maaf yah!” ucap wanita cantik itu yang langsung mematung saat melihat wanita yang ada di meja.