
"Masa! Yakin hati lo gak panas ngeliat gua sama April tadi, cewek yang sangat lo kagumi ini," sindir Chiko membuat Raya semakin manatapnya nanar.
April gak nyaman dengan situasi yang semakin memanas ini, dia hendak bergerak lagi berdiri diantara mereka, tapi ternyata apa yang dia pikirkan diketahui Chiko, hingga saat dia bergerak tangan Chiko sudah menghalanginya.
"Chik!" Rengeknya rapi dengan wajah memelas seolah munta Chiko agar tidak melanjutkan apa yang saat ini sedang dilakukannya.
"Tenang sayang, mundur lagi yah,"
"Tapi aku gak mau ada keributan disini," tukasnya.
"Kamu gak lihat, kita gak ada yang ribut sampai saat ini, kita hanya sedang saling sindir seperti anak sekolah dasar yang berkelahi,"
"Tapi nanti ujungnya bagaimana, pasti kalian ributkan!"
"Kalau aku gak mau ribut-ribut, cukup diatas ranjang aja ributnya," jawab Chiko dan berkata seraya berbisik dengan kalimat terakhir, membuat hati Raya yang sudah sedikit menurun tingkat suhu nya kembali merambat naik.
"April, kalau kamu tidak bisa dengar ucapan dia, dengar ucapan aku, undur lah," sela Raya di tengah sedikit perdebatan Chiko dan April.
April dan Chiko menoleh, "Tuh denger apa kata pria hebat satu ini, aku malu loh karena kamu tidak turuti apa kata aku depan dia,"
"Aku gak akan turuti kemauan kalian," sentaknya, "Kalau kalian mau ribut atau apalah, silahkan pergi dari dalam rumahku ini, jangan disini, karena aku mau kerja sekarang jadi keluarlah," rancunya lalu melangkah pergi.
"Aku ikut sayang, aku mau mandi bareng," ucap Chiko yang mengikuti April dari belakang dan memegangi pinggangnya.
__ADS_1
"April tunggu!" Sentak Raya, namun April terus jalan bersama Chiko. "April!" Kembali suara teriakan Raya terdengar membuat April balik badan dan berteriak kembali pada Raya, "Jangan berteriak padaku, aku tidak suka, pergilah sebelum kesabaranku habis hari ini menghadapi kalian."
Raya tidak terima jika Chiko masuk bersama wanitanya, dia melangkah untuk menyusul Chiko dan April. Chiko melihatnya, dia menahan gerakan April, "Tunggu Pril," ucapnya terdengar tegas kali ini. April menghentikan langkahnya lalu balik badan setelah Chiko.
"Ngapain lo!" Hardik Chiko pada Raya.
"Apa lo gak sadar siapa lo!"
"Bukan urusan lo,"
"Bodoh kalau lo bilang ini bukan urusan gua, sementara lo hadir di antara gua dan April, tapi gua membiarkannya karena apa, karena gua juga masih suka bermain dengan selir-selir gua," ujar Chiko, "Tapi tetap, seperti apa yang pernah gua bilang sama lo, selir tetaplah selir dimata gua, Ratunya April. Dan begitu pula sama halnya dengan lo, selingkuhan tetaplah selingkuhan, buat April dan gua lo gak bakal kita jadikan lebih dari itu, so …, sadar diri lah," tandas Chiko dengan wajah dingin dan suara beratnya serta tatapan elang.
Giginya terdengar saling beradu, namun dia tidak ada cukup kekuatan untuk mengeluarkan semua emosinya pada Chiko. Raya balik badan dan pergi, setelah beberapa langkah dia kembali berpaling, namun April sudah tidak berada disana, tapi Chiko masih berdiri tegak masih dengan wajah dingin dan tatapan tajamnya melihat ke arah Raya.
Raya kembali balikkan tubuhnya dan pergi, Chiko menghela nafas lega saat dia melihat akhirnya Raya benar-benar pergi. Chiko mulai balik badan dan pergi menyusul April yang sudah berada dalam kamar.
Sampai dikamar Chiko langsung memeluk tubuh April yang sedang mengenakan pakaiannya, dia memeluk April dari belakang, memeluknya erat sambil membuat wajahnya bertopang di bahu wanita itu.
"Aku butuh kenyamanan untuk mendinginkan emosiku Pril," bisik Chiko.
April tersenyum lalu acak-acak rambut Chiko yang bersandar lemas di bahunya, "Kamu tidur sana, aku masih harus kerja, kamu butuh istirahat banget, maaf yah tadi sudah buat kamu emosi, padahal kamu sedang sangat lelah," ucapnya, lalu melepaskan tangan Chiko yang memeluknya, April balik badan dan melingkari tangannya di leher Chiko.
__ADS_1
"Maafkan aku," kembali dia berkata, Chiko tersenyum, lalu meraih pinggang April dan menepis jarak mereka. Tautan permintaan maaf dan memaafkan mereka lakukan, laku langsung tidak terputus karena mereka kembali melanjutkannya untuk melepaskan rasa rindu mereka.
Rasa yang mereka lampiaskan setelah menahan rasa, \*\*\*\*\*\*\* lembut itu membuat mereka mulai merasakan keinginan yang lain, ingin terus melakukannya bahkan lebih. April yang saat ini masih hanya mengenakan pakaian terbukanya, dengan mudah bisa dilepaskan oleh Chiko.
"Emm. Chik, aku harus kerja, kamu juga kan sedang sangat lelah, istirahatlah," ucap April setelah tautan itu dilepaskan.
"Tapi aku mau, biar aku bisa tidur dan nyenyak sampai kamu pulang nanti," rengek Chiko yang lalu membawa April ke atas tempat tidur.
Pagi itu April membuat Chiko tidur, dia seperti seorang Ibu yang bertugas memberikan susu pada anak bayinya sebelum anak itu tertidur pulas. Chiko membuat hasrat April pagi-pagi meninggi, setiap sentuhan Chiko benar-benar membuat tubuhnya terus menggeliat.
Saat hasratnya semakin tinggi, tiba-tiba Chiko mengatakan jika dia sudah tidak tahan, April pikir tidak tahan untuk mengeluarkan gairahnya, tapi ternyata Pria itu tidak tahan untuk menahan rasa kantuknya. Chiko langsung tertidur seperti orang yang tiba-tiba pingsan.
April menatapnya heran, "What! Ish, apa-apaan sih dia itu," gerutunya saat melihat Chiko langsung terkapar, "Sudah sangat bernafsu aku, dia malah terkapar, dasar," kembali dia mengeluarkan kata kesalnya.
Namun lama dia memperhatikan Chiko yang terkapar sambil merapikan pakaiannya, April tersenyum melihat wajah lelah dan polos Chiko, yang semakin terlihat tampan saat dia tertidur, polos seperti bayi.
April memberikan kecupan singkat di kening Chiko, lalu membelai wajahnya lembut seraya berkata, "Lelah sangat tau kamu sayang, istirahat yang nyenyak yah." Ucapnya pelan lalu kembali memberikan kecupannya.
Setelah Chiko tertidur, April langsung berbenah diri, lalu dia matikan lampu kamar agar Chiko bisa lebih nyenyak dalam tidurnya. Kemudian April melangkah keluar rumah dan meluncur cepat menuju kantor, karena hari ini Dito sudah menunggunya di ruang rapat.
Sementara itu setelah kejadian tadi, Raya keluar masih dengan emosi yang tinggi, apa yang diucapkan Chiko membuat dirinya benar-benar marah namun juga sekaligus membuat Raya tidak berdaya untuk melawannya.
__ADS_1
"Memang benar, apa yang dikatakan Chiko memang benar, aku yang bodoh, aku yang salah, aku sangat bodoh!" Teriak Raya dalam kendaraannya menuju rumah. Raya terus mengeluarkan emosinya dalam perjalanan pulang itu, menurutnya mungkin hal itu akan membuat dirinya lebih baik.