SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
SWEET MOMENT


__ADS_3

"Pril," tegurnya, April menoleh dan Chiko membuat mereka saling bertatapan.



Baru kali ini April melihat tatapan sejuk Chiko, tatapan itu membuat dirinya merasa ada getaran aneh, detak jantungnya perlahan terdengar lebih keras. Karena merasakan dirinya kacau, April menundukkan pandangannya.



"Kenapa panggil-panggil," kata April sambil membuat dirinya sedikit tenang.



Chiko tidak menjawab, dia menggeser duduknya agar lebih dekat lalu menyandarkan kepalanya di bahu April, "Aku ingin bermanja sama kamu boleh," ucapnya pelan.



April menelan salivanya, pikirannya malah buat dirinya malu sendiri, dia pikir tadi Chiko akan memberikan kecupan di bibirnya. Pipi April langsung memerah, beruntung ucapnya Chiko tidak bisa melihat karena posisinya seperti itu.



"Kenapa mau manja-manjaan, apa ada masalah?"



Chiko tidak langsung menjawab, dia bergerak mengangkat kepalanya lalu menundukkan diri dan berbaring, Chiko meletakkan kepalanya di atas pangkuan April, membuat wanita itu kembali merasa rasa yang berbeda.



"Gak ada apa-apa sih, cuma gua lagi kepikiran sama omongan Papah aja tentang aku sama kamu,"



"Memangnya Papamu bilang apa!"



"Dia bilang kalau kamu tidak baik untukku, karena dia melihat kamu jalan dengan pria lain dan Papa tidak menyukainya," ucapan Chiko membuat April sedikit terkejut, "Hah, kapan, sama siapa!" "Gak tau kapannya, yang jelas sama si Raya lah, memangnya kamu pernah pergi sama siapa lagi," ketusnya Chiko.



"Lalu yang membuat kamu kepikiran omongan Papa apa?"



"Katanya walaupun aku bukan pria yang baik saat ini, tapi aku harus baik saat sudah punya kepastian untuk menikahi seorang wanita, dan walaupun aku bukan pria baik, tapi Papah ingin aku mendapatkan wanita yang baik, yang bisa mengarahkanku, melayaniku, juga menjadi Istri dan Ibu yang baik bagi anak-anak aku kelak," ungkalnya.



Dari ucapan yang diceritakan Chiko dari Papanya, tidak heran jika Chiko punya pemikiran yang di luar dugaannya tentang suatu hubungan. Ternyata Papanya juga menjunjung tinggi akan hal itu, like father like son, pikir April.

__ADS_1



"Lalu kamu bilang apa sama Papa,"



"Aku bilang kalau itu teman kamu, tapi dia bilang juga kalau aku harus bilang ke kamu jika kamu harus bisa jaga jarak dengan teman pria, apalagi saat ini hubungan kita sudah diketahui banyak orang," jawabnya, Chiko balik badan, kali ini dia terlentang.



"Aku berpikir memang pikiran Papah sedikit kolot, namun apa yang diucapkannya benar semua, aku bilang ke Papa kalau aku akan coba menjalani hubungan aku dengan baik, aku akan coba bawa pendampingku lebih baik, aku akan memperbaiki diri bersama-sama, kami akan sama-sama belajar memperbaiki diri, itu yang aku ucapkan pada Papah, dan ini juga hal yang aku mau pada hubungan kita, aku mau kita seperti itu, dan aku harap kamu mendukung keinginanku," ungkap Chiko yang membuat April diam tidak langsung menjawab.



Senyum kembali terlihat diwajah April, semua ucapan Chiko membuat dirinya berpikir, apa ini sudah saatnya dia untuk mengakhiri semuanya, agar dia bisa menjalani kehidupan yang benar untuk masa depannya.



Chiko bangun, dia melihat wajah berpikirnya April. Dia membiarkan April dengan pikirannya, hembusan nafas panjang dilakukan April, dia melihat wajah tampan Chiko yang semakin tampan kala terkena cahaya bulan.



"Jujur aku juga ada kepikiran untuk ke arah sana, aku ingin mengakhiri hubungan aku dengan Raya dan menjalani hubungan yang serius dengan kamu," ungkapnya, "Tapi untuk saat aku belum bisa jawab ucapanmu," timpalnya, lalu menoleh.



Dia tidak sadar jika ternyata Chiko berada sangat dekat dengannya, hingga saat dia menoleh, wajah mereka hanya berjarak dua jengkal. Senyumnya terlihat jelas oleh April, membuat detak jantung wanita itu menjadi sedikit kencang.




April lega mendengar jawaban itu, entah dari mana asalnya, akhirnya April berkata jujur pada Chiko, kejujuran yang membuat hati Chiko lega juga berbunga-bunga. April kembali menoleh, dia tidak sanggup berlama-lama menatap mata Chiko.



"Aku mau cerita sedikit, jujur semenjak aku tahu jika Raya sudah berkeluarga, rasaku hilang. Aku tidak pernah melakukan hubungan intim lagi dengannya, aku terus berusaha menghindar," ungkapnya.



Chiko langsung melihat ke arah April, dia tidak percaya kalau wanita itu bisa menahan hasratnya pada Raya, sebab yang dia tahu April sangat mencintainya dulu. Rasa senangnya itu disembunyikan, tapi dia bangga pada April, karena dia bisa menjalankan komitmennya.



"Bahkan kemarin aku bertemu dengannya juga aku takut sebenarnya,"



"Takut kenapa!"

__ADS_1



"Dia pasti akan minta hal itu, mungkin awal aku bisa menolaknya, tapi saat sudah kena sentuhannya aku punya ketakutan tersendiri dalam hatiku," ungkapnya.



"Kalau seperti itu kenapa kamu tetap mau berhubungan sama dia!"



"Aku juga gak tahu, masih ada rasa gak rela, karena dia sudah mempermainkan aku, jadi selama aku belum merasa puas atas perlakuan nya padaku dulu, aku rasa aku tidak akan pernah melepaskannya," ujar April.



Chiko menghela nafas, dia tidak ingin mengekang hubungan pertemanan April dengan temannya, walaupun dia sangat tidak menyukai jika April bersama dengan pria itu. Mungkin juga setidak suka April pada dirinya yang masih suka berjalan dengan wanita lain.



"Pril, makasih yah udah mau jujur, dan lo tau kan kalau aku juga pernah bilang semenjak kenal sama kamu aku malas berhubungan intim dengan wanita lain, seperti ada yang menahan rasa itu dalam diriku," ungkapnya.



Kembali tatapan teduh Chiko terlihat di matanya, membuat April tidak kuasa untuk menjauh. Perlahan tubuh mereka semakin dekat, Chiko pun mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya sekitar satu jengkal.



Detak jantung keduanya semakin kencang, semakin dekat pandangannya ke arah bibir April semakin tidak kuasa hasrat pria itu untuk segera menikmati benda yang terlihat manis tersebut.



Semakin dekat wajah Chiko, detak jantung April semakin kencang, rasa ini berbeda dengan apa yang pernah dia rasakan terhadap Raya. April tidak pernah merasakan jantungnya seperti ini saat dia berdekatan dengan Raya, jantungnya tidak pernah berdetak sekeras ini jika melihat wajah Raya, semua tampak berbeda.



Saat bibir Chiko menyentuh bibirnya, April dapat merasakan kelembutan bibir pria itu, terasa hangat dan manis. Semakin Chiko \*\*\*\*\*\*\* bibirnya, semakin dia merasakan kelembutan pria tersebut.



'Beda, sangat berbeda dengan apa yang selama ini aku terima.' Batin April, matanya perlahan tertutup menikmati rasa Chiko, rasa yang sangat berbeda dari biasanya.



Entah karena suasana atau memang saat mereka sedang merasa saling memiliki. Biasanya Chiko hanya memberikan kecupan yang biasa, namun kali ini dia membuat April terbuai, terlena dengan sentuhan yang membuat dirinya merasa spesial.



Chiko melepaskan tautannya, perlahan mata April terbuka, wajah tampan dengan senyum manis terlihat saat dia buka mata.


__ADS_1


"Boleh sekali lagi?" Tanya Chiko yang membuat pipi April memerah.


.


__ADS_2