
“Aku mau mandi bareng sayang,” jawab Chiko lalu tersenyum dengan senyuman termanisnya.
April pasang wajah garang, tanpa berucap dia balik badan masuk kamar mandi dan menutup pintunya sedikit kencang. Chiko tertawa melihat sikap April, kemudian raut wajahnya berubah serius. Chiko berjalan menuju tempat tidur, dia duduk diatas kasur empuk dengan bersandar di ujung tempat tidur dan kaki yang dibuat lurus.
Pria itu mengambil ponsel untuk melihat beberapa pesan singkat dan berniat melihat pekerjaannya, raut wajahnya sedikit heran dengan alis yang dinaikkan satu saat dia melihat ada satu pesan singkat dari orang yang tidak biasa. Chiko tersenyum tipis melihat siapa nama si pengirim, dia sepertinya bisa menebak apa yang akan dibicarakan Wanita itu padanya.
Chiko membuka dan membaca pesan singkat tersebut, lalu dia membalasnya dengan senyum terlihat diwajah. "Sepertinya Santi sudah mengetahuinya." ucap Chiko. Setelah mengirim balasan pesan tersebut, Chiko cek sedikit pekerjaannya sambil menunggu April selesai mandi.
Sayang mata Chiko tidak bisa diajak kompromi, dia sangat mengantuk dan lelah. Alhasil saat April keluar dari kamar mandi dia melihat Chiko sudah tergeletak, wajahnya terlihat sangat lelah. April tersenyum melihat Chiko seperti itu, setelah dia berpakaian April menyelimuti tubuh Chiko. Dia membuka dua kancing kemejanya agar Chiko bisa lebih bisa bernafas, matanya terbuka sedikit lebar saat tiba-tiba tangan Chiko menahan gerakan jarinya yang sedang membuka kancing baju.
"Apa yang kamu lakukan!" Suara berat Chiko terdengar membuat April sejenak terdiam karena terkejut.
__ADS_1
“Eng-enggak, ini …, aku sedang buka beberapa kancing baju kamu agar kamu bisa lebih enak nafasnya nanti saat tidur,” jawab April yang sedikit gelagapan karena rasa terkejutnya itu.
Chiko membuka matanya lalu tersenyum nakal, “Kalau karena sedikit sentuhan kamu ini aku mau bagaimana,” ujarnya yang membuat wajah April memerah.
“Apa sih Chik,” sahut malu April sambil menarik tangannya, “Sudah tidur lagi sana,” timpalnya lalu mencoba menjauh dari Chiko. Chiko selalu merasa gemas jika April seperti itu, dia tidak pernah melihat wanita yang malu di hadapannya selain April. Walau mereka sudah sering bertemu dan berhubungan, namun April selalu seperti itu jika Chiko melakukan hal yang membuatnya malu sendiri, dan itu membuat Pria yang terus menatapnya semakin gemas serta sangat menyukai April yang seperti itu.
Tangan Chiko menarik tubuh April hingga dia jatuh di atas pelukannya, Senyum, manis terlihat di wajah Chiko yang mengakibatkan wajah April semakin memerah. “Aku ingin merasakan kenakalan kamu lagi Pril, aku suka,” ujar Chiko dengan tangan yang membelai lembut pipi Wanita itu. “Kamu suka yah sama cewek-cewek nakal!” “Suka,” sahut Chiko cepat membuat mata April mendelik, namun membuat Chiko tertawa tipis melihat reaksi April. April terlihat kesal, namun Chiko langsung membabat habis rasa kesalnya itu. Chiko membuat April menerima tautannya serta membalas, pemanasan lembut yang perlahan membuat darah mereka sedikit bergejolak.
Pagi setelah menyiapkan sarapan April membangunkan Chiko, sambil menunggu Chiko mandi April merapikan bekas masak dia tadi. Chiko selesai dengan mandinya bergantian April yang masuk, setelah semuanya rapi mereka sarapan pagi bersama. Di tengah sarapan Chiko kembali menanyakan apa yang terjadi semalam dengannya, “Kamu belum lupa Chik?” Tanya April dengan nada malas menjawab. “Belum lah, kan aku mengikuti kamu karena ingin tahu, bahkan aku rela untuk bermalam ini disini hanya untuk itu,” jawab Chiko santai sambil makan.
April menghela nafas panjang sebelum dia menjawab, alat makannya di letakkan lalu dia mulai bercerita tentang kejadian semalam. April mengatakan bahwa saat pulang semalam Raya menghadang kendaraannya, Wanita itu melirik ke arah Chiko ingin tahu reaksinya. Ternyata Chiko bersikap biasa dengan terus memakan makanannya, April melanjutkan kembali dengan Raya yang memaksa dirinya juga tentang dia yang merasa sangat heran dengan perlakuan Raya padanya. April merasa jika sedang terjadi sesuatu pada Raya, dan dia melampiaskan itu pada dirinya, itu pemikiran April ungkapnya.
__ADS_1
Tidak ada respon sama sekali dari Chiko, dia terus makan dengan tenang sampai makanan yang ada di atas piringnya habis. Melihat April yang diam menunggu respon dia, Chiko membiarkan. Chiko minum setelah makanan habis, dia meletakkan gelasnya kembali sambil melihat ke arah April. “Kok diam, lanjutkan sarapannya lah,” ujar Chiko setelah air dalam tenggorokannya habis. April mengerutkan keningnya seraya berkata, “Aku menunggu jawaban kamu Chik, respon kamu atas cerita tadi, katanya kamu mau tahu,” dengan wajah yang kesal menunggu jawaban Chiko.
“Hey beb, aku hanya ingin tahu dan aku tidak bilang mau menjawab atau merespon cerita itu,” jawab Chiko yang membuat April kesal.
“Kamu …, ih bikin kesel aja pagi-pagi,” geram April.
Chiko benar-benar tidak memberikan respon, dia malah ijin untuk ke keluar lebih dulu menghirup udara segar dan April tidak menjawab karena dia masih merasa kesal. Chiko duduk di teras dengan sambil memikirkan semua ucapan April tadi, “Apa semua perubahan sikap Raya karena tekanan dia di perusahaan, dia tahu itu semua karena aku jadi dilampiaskan pada April.” pikir Chiko, “Bisa jadi juga seperti itu sih.” timpalnya. Sebenarnya banyak kemungkinan yang bisa terjadi, namun Chiko melihat kemungkinan yang paling mungkin terjadi.
Akhirnya dia harus memikirkan hal itu, memikirkan apa imbas yang akan di lakukan Raya pada april, Chiko harus berpikir keras kembali agar Raya di alam bawah sadarnya tidak melakukan hal yang malah akan mencelakai wanita pujaannya itu. Setelah semuanya selesai mereka pergi ke kantor, April masih kesal dengan sikap Chiko dan Chiko juga banyak yang dipikirkan dalam kepalanya pagi ini, jadi selama perjalanan menuju kesana mereka tidak berbicara. Melihat raut wajah Chiko yang serius, April malah menurunkan emosinya, dia jadi merasa bersalah.
April merasa jika apa yang diceritakannya tadi membuat Chiko seperti itu. ‘Apa Chiko kepikiran dengan ceritaku tadi, apa dia marah, apa dia akan menghajar Raya, duh gimana kalau apa yang aku pikirkan ini benar.’ batin April, dia malah jadi merasa cemas sendiri, namun saat ini dia tidak berani untuk bertanya. Karena melihat Chiko seperti itu, dia berpikir untuk menanyakannya sepulang bekerja. ‘Nanti aja deh.’
__ADS_1