SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
KETAHUAN 2


__ADS_3

“Jujur Ray, aku sangat puas malam ini, permainan kamu ada peningkatan dan aku sangat menyukainya, good job," puji Intan.



Mendengar pujian itu Raya sangat senang, dia memberikan kecupan singkatnya di bibir Intan. Raya mengatakan jika dia senang mendengar pujian itu, Intan mengatakan jika yang dikatakannya itu benar dan jujur.



"Aku jujur Ray, mengatakan apa yang aku rasa, dari awal sampai saat ini beberapa kali kita main, yah itu yang aku rasakan," tutur Intan.



"Bagus deh, gak sia-sia aku bayar kamu mahal Tan," ucap Raya, "kita istirahat sekarang, makasih ya Tan, kamu udah mau temani aku malam ini dan jujur aku memang sedang butuh banget hiburan," ucapnya lagi.



"Iya, kalau aku sih oke aja jika aku bisa dan ada waktu luang serta ada uangnya yang pasti," ujar Intan yang tidak akan nau ketinggalan kalau masalah yang.



"Jelaslah itu Tan, sepertinya bukan aku saja yang harus mengerti jika yang itu wajib dan nomor satu buat kamu," sindir Raya yang membuat Intan tersenyum.



Satu pasangan sudah mengeluarkan hasrat mereka, di tempat lain masih ada yang sedang terus bergulat sepenuh tenaga. Chiko terus memberikan hantaman keras pada tubuh April yang sudah merasa lemas, tidak bertenaga.



Nafas mereka kian memburu dengan darah yang terus meningkat semakin mendidih, Chiko sudah tidak kuasa menahan hasratnya yang ditahan. "Akh!" terdengar suara Chiko yang tertahan, gerakannya terus dipercepat sampai akhirnya dia bisa melepaskan semua hasratnya.



Desah panjang April terdengar, mereka menikmati malam dengan sempurna. Kerinduan juga keinginan yang tertahan akhirnya bisa terlampiaskan, rasa lega hinggap di hati keduanya. Chiko dan April seperti biasa melepas lelahnya dengan diam, setelah merasa tubuh mereka lebih baik, keduanya saling berpelukan dan beristirahat.



Satu minggu berlalu, setelah pertengkarannya dengan Sinta, Raya melampiaskan rasa kesalnya pada Intan. Setelah rasa kesalnya hilang dia mencoba untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan, begitu juga dengan Sinta. Dia menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, apapun itu yang pasti untuk menghilangkan rasa kesalnya juga pada Raya.



Sinta bertemu dengan April di sebuah Bank, melihat wajah April yang sumringah membuat Sinta sedikit iri. Sinta merasa iri karena dimata dia April mempunyai kehidupan yang sangat sempurna, memiliki pekerjaan yang bagus, pria yang amat mencintainya itu membuat dia menjadi wanita yang paling beruntung. ‘Coba kehidupanku seperti April, mungkin aku juga akan terlihat sangat bahagia sepertinya,’ batin Sinta yang terus melihat April dari kejauhan.


__ADS_1


Tidak baik jika dia melihatnya namun tidak menghampiri, Sinta lalu pergi untuk menghampiri April untuk sekedar menyapa. Sambutan hangat serta senyum senang diberikan April pada Sinta, saat wanita itu menyapanya.



“Kamu sendiri Sin?” tanya April sambil clingak clinguk mencari seseorang di belakang Sinta.



“Aku sendiri Pril, aku gak bawa Arya,” ucapnya sambil tertawa tipis, karena dia tahu jika yang dicarinya adalah anak kecil yang menggemaskan itu.



April tersenyum malu, “Hehe, kamu tau yah kalau aku cari Arya, habis aku kangen sama dia sudah lama gak ketemu langsung,” kata April.



“Iya, terakhir kalian hanya video call dan itu sudah hampir satu minggu yang lalu,” ujar SInta, “sepertinya kamu sedang sibuk yah,” timpalnya.



“Iya, aku memang sedang banyak pekerjaan, Chiko memberikan aku banyak tugas karena dia harus banyak keluar kota sampai beberapa minggu kedepan,” ungkap April. Mereka terus berbincang sampai April di panggil teller, Sinta berkata dia juga tidak bisa lama jadi saat April dipanggil dia pamit pulang. Mereka akan atur waktu untuk bisa bertemu kembali nanti.



Raya sama seperti Chiko, dia sibuk dengan pekerjaan setelah dapat bantuan dari perusahaan Chiko. Imbasnya sangat besar bagi perusahaan Raya yang saat itu sudah bisa dibilang mengalami kehancuran. Baru perusahaan itu kembali naik, Sinta sudah minta Chiko untuk melepaskan dari bantuannya. Tetapi perusahaan itu sudah dapat beberapa investor dari Chiko, jadi sudah dipastikan oleh Chiko jika Raya bisa kembali membuat perusahaan itu naik.




Belum lagi masalah perusahaan yang notabene sudah banyak diketahui oleh Raya, bahkan sampai data terpenting semua sudah dikuasai Raya. Karena Papanya hanya sesekali melihat dan pengontrol perusahaan keluarganya itu, yang terpenting Raya bisa memberikan juga membayar apa yang sudah dilakukan Papa selama ini.



“Hah, sepertinya aku harus melipir sebentar, kepalaku pusing memikirkan hal ini,” ucap Sinta. Dia melaju ke arah yang berbeda dengan arah tujuannya tadi, Sinta melipir ke sebuah cafe, dilihatnya jam yang ada di pergelangan tangan kiri sudah menunjukkan pukul dua lewat dua puluh menit.



Sinta masuk dan memesan Americano yang sepertinya akan membuat rasa pusingnya sedikit hilang, untuk menemani kopi hangatnya dia pesan satu roti bakar dengan rasa milo yang sangat disukainya. Sinta menyeruput kopi itu sambil menikmati harumnya yang di suka, matanya dipejamkan untuk bisa dia menikmati harum kopi tersebut.



Saat matanya terbuka Sinta terkejut dengan apa yang dilihatnya, dia melihat sosok yang sangat dikenalnya bersama dengan seorang wanita yang baru kali ini dilihat. Pria itu duduk tepat dua meja di depan meja Sinta, wanita itu cepat ambil menu yang ada di meja untuk menutupi dirinya agar tidak terlihat oleh mereka.

__ADS_1



“Sama siapa Mas Raya, wanita itu baru kali ini aku lihat, dia teman atau koleganya?” ucap Sinta sambil terus melihat ke arah Erlang dengan seorang wanita, dan wanita itu adalah Intan.



Raya menggeser kursi untuk Intan, dia memang mengundang intan untuk menemaninya. Raya minta ditemani karena dia saat ini sedang merasa penat dengan pekerjaannya yang sedang menumpuk, Raya merasa butuh hiburan sejenak untuk merefresh otak serta merenggangkan uratnya.



“Makasih udah mau terima undanganku,” ucap Raya sambil membuka menu untuk memesan makanan.



“Gak masalah, selama kamu tau kan apa yang jadi imbalan atas waktuku,” jawab Intan santai.



“Iya, tidak usah kamu bilang kalau masalah itu, santai saja,” ucapnya, “kamu mau pesan apa?”



“Samain aja sama kamu Ray.”



“Ok.”



Raya memilih,. Intan melihat ke arah Sinta yang terlihat aneh, dia melihat Sinta yang sedang mengintip di balik buku menu, Intan mempertakam penglihatannya namun Sinta sudah mengetahui jika dirinya terlihat Intan, jadi dia kembali sembunyi tanpa muncul mengintip.



“Ah, sepertinya wanita itu melihatku!” ucap pelan Sinta, ‘apa aku harus pindah tempat?’ batinnya.



Raya melihat Intan yang sepertinya melihat sesuatu, “Kamu lihat apa?”



“Itu,” jawabnya yang masih terus melihat ke arah meja Sinta, “di meja itu aku seperti melihat ada yang sedang mengintip,” timpalnya membuat mata Raya membulat sempurna.

__ADS_1



“Ada yang mengintip?”


__ADS_2