
Penuh sudah memenuhi seluruh tubuh mereka, desah nafas yang kian memburu membuat Chiko terus melakukan gerakannya semakin cepat dan cepat. April terus berteriak, desah panjang dan pendeknya terdengar memenuhi ruangan kamar itu, Chiko membuat tubuhnya bergerak tak berirama.
Chiko semakin memanas, darah dalam tubuhnya semakin bergejolak membuat suhu tubuhnya semakin panas dan panas. Hasratnya terus meronta untuk segera bisa terbebas dari dalam tubuh Chiko, berbagai gaya dan gerakan dilakukan gara hasrat itu bisa keluar dan membuat dia dan April merasa sangat terpuaskan.
Panggilan ibadah tidak membuatnya menghentikan gerakan, jika dihentikan maka akan lama lagi Chiko dan April kembali mencapai puncak, kalau kata Chiko nanggung lah. April terus berteriak menyebutkan nama Pria yang terus membuat tubuhnya terguncang hebat, Chiko dengan semua tenaganya terus menggempur kedalaman lembah bash April. Deru nafas semakin memburu, nafas April terengah-engah keringat Chiko sudah jatuh bercucuran.
Saat semua gerakan sudah semakin cepat dan cepat, hasrat yang membuat mereka menggila akhirnya keluar juga. Desah nafas lega keduanya terdengar membuat satu sama lain saling memberikan kecupannya. Tubuh lemas Chiko langsung melemparnya ke sisi tubuh April, lalu dia memeluk serta memberikannya kembali kecupan singkat seraya berucap, “Love you beb.”
Pagi dingin di buat sangat panas oleh Chiko, tubuh mereka yang masih bercucuran keringat dibiarkan mengering dengan sendirinya sambil mereka berusaha mengatur nafas mereka. “Aku malas bangun Chik,” ujar April dengan nafas yang masih sedikit terengah, “Ga usah bangun, mau ngapain kamu bangun, sudah tidur lagi,” jawab Chiko, “Kalau tidur lagi nanti kita kesiangan bagaimana,” “Aku akan hubungi Dito dan bilang kalau kita ada tugas luar, tolong ponselku,” ujar Chiko.
April mengambil ponsel Chiko yang berada di dalam tas tepat di samping tempat tidur, lalu memberikannya pada Chiko. Chiko langsung menghubungi Dito, Pria yang dihubunginya menggerutu karena pagi buta sudah dihubungi oleh bos besar. “Halo Chik, lo gila yah jam segini udah telepon gua aja, belum juga jam kantor Chik ampun deh gua,” cerocos Dito yang merasa sangat terganggu dengan Chiko.
“Hei, belum juga gua ngomong lo udah nyerocos aja,” “Yah elo bikin gua emosi, pagi-pagi buta udah ganggu tidur gua aja, ada apa sih,” ”Kok lo nyerocos terus sih Dit, gua bos lo kan,” “Kalau udah jam kantor lo emang bos gua, tapi ini belum mas bro, jadi tetap disini gua sepupu gede loh, paham!” tukas Dito yang di iyakan oleh Chiko.
Chiko lalu mengatakan apa yang membuat dia menghubungi Dito pagi seperti itu, lalu setelah mendengar ucapan Chiko sepupunya itu malah memberikan ejekan. “Tugas lukar dari mana lo, bukan tugas luar kali Chik, tapi habis keluarin di luar,” ejek Dito yang langsung membuat Chiko melirik April yang sedang menguping.
__ADS_1
Mendengar hal itu sontak wajah April langsung memerah, itu ejekan Dito di telepon, bagaimana kalau langsung di hadapannya, sudah bisa dipastikan wajah April akan seperti udang rebus. “Yah pokoknya lo bilang aja sama yang lain seperti itu\] gua mau istirahat dulu,” “Wah lo habis serangan fajar yah sama si April, gak ajak-ajak gua sih, gua juga mau sama ayang beb,” “Aish apaan sih lo, sendiri aja udah sono.”
Chiko langsung menutup ponselnya dan ajak April untuk kembali melanjutkan istirahat mereka. Setelah beberapa hari berlalu, Chiko terus memberikan tekanan pada Raya di kantor. Chiko juga bersama Santi sudah menjalankan sedikit demi sedikit rencana mereka, tapi di pertengahan jalan Santi minta agar rencananya dengan Chiko dihentikan lebih dulu.
Santi merasa kasihan melihat Raya yang selalu dalam keadaan yang kusut pulang kerumah, dia terus bekerja semalaman di rumah setelah pulang kerja agar perusahaan yang dipimpinnya tidak mengalami kebangkrutan. Santi malah minta Chiko untuk memberikannya satu jalan agar Raya tidak terlalu terlihat mumet.
“Kalau kamu lembek sepereti itu gimana Raya mau sadar San, biarkan dia seperti itu, kita serang dari segala arah agar dia mikir apa saja yang sudah membuat dia jatuh seperti sekarang ini,” ujar Chiko yang merasa geram dengan Santi yang merasa kasihan dengan Raya.
“Iya, tapi jujur aku gak tega liatnya Chik,
“Sudah lah Chik, aku mohon untuk rencana kita kita tangguhkan dulu, jika dia dalam pekerjaannya saja sudah sangat tertekan, lalu kita tekan lagi dalam kehidupan sehari hari aku takut jika nanti Raya akan benar-benar drop bukan hanya fisik tapi juga psikisnya,”
“Kamu hanya terlalu khawatir sama Raya Sa, dia tidak selemah yang kamu pikirkan loh, yah mungkin karena itu timbul dari rasa sayang kamu sebagai Istri ke Suami,”
“Apapun itu Chik, aku mau kita tangguhkan dulu rencana kita,”
__ADS_1
“Ya sudah terserah kamu saja, karena disini rencana ini tidak akan berjalan lancar kalau gak ada campur tangan kamu, kita akan hentikan ini sementara,”
“Iya, setelah kamu selesaikan rencana kamu di kantor baru kita mulai lagi rencana kita.” tukas Santi.
Chiko mengikuti keinginan Santi, rencana mereka yang ingin menjebak dan membuat Raya tersadar salah dengan apa yang sudah diperbuatnya dihentikan sesaat sampai nanti seleksi dengan rencana Chiko. Santi juga minta agar Chiko tidak berlama-lama membuat Raya tertekan dengan pekerjaannya, biar bagaimanapun Raya seorang yang pekerja keras.
Santi membela Raya yang sudah berusaha menghidupkan kembali perusahaan keluarganya juga membiayai semua kebutuhan dia dan keluarga besar. Karena biar bagaimanapun Raya sudah sangat berjasa untuk keluarga kecil juga besarnya, diluar masalah pribadi raya saat ini.
Chiko akhirnya mau tidak mau mengikuti kemauan Santi juga dalam rencananya, memang selama Raya dibuat sibuk dengan urusan Kantor dia sama sekali tidak menghubungi atau menemui April. Dia benar-benar ingin membuat perusahaannya kembali normal, karena banyak tulang punggung keluarga yang berada dalam naungan perusahaannya itu.
Perlahan Chiko membuka jalan agar Raya dan dia seolah menemukan jalan agar perusahaan itu perlahan membaik, Raya terlihat sangat senang dengan keadaan itu. Dia bekerja siang malam agar kesempatan yang ternyata sengaja diberikan oleh Chiko itu tidak hilang begitu saja, dia berjanji akan menggunakan kesempatan besar tersebut.
Chiko sebenarnya memang mengakui kerja keras Raya, Raya pekerja keras yang juga tidak kenal waktu seperti dirinya, atau mungkin itu hanya sekedar memenuhi kewajibannya saja pada perusahaan, entahlah. Merasa keadaan perusahaannya sudah mulai stabil, Raya kembali lagi pada sifatnya yang mulai bermain mata dengan wanita lain saat dia dan Santi sedang berbelanja di sebuah mall bersama Arya anaknya.
Santi melihat Raya yang bermain mata dengan Wanita yang duduk bersebrangan dengan dirinya di salah satu toko sepatu yang mereka datangi. “Mas, tolong jaga mata kamu.” tegur Santi yang membuat Raya langsung menoleh ke arahnya.
__ADS_1