SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
KARENA PENDAPAT


__ADS_3

"Enjoy Ray."



Raya hanya tersenyum mendengar ucapan temannya itu, setelah temannya masuk ke kamar sebelah, Raya ragu untuk membuka pintu kamarnya. “Apa gua harus lakukan ini yah.” Pria itu menghela nafas mencoba untuk membuat dirinya sendiri tenang, serta mencoba untuk memastikan apa yang dilakukannya ini tidak akan merusak apapun.



Saat dia masih berkutat dengan pikirannya sambil menundukkan kepala di depan pintu kamar, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Terlihat wajah cantik seorang wanita dengan rambut hitam sebahu tersenyum kepadanya ramah seraya berkata, ”Malam, apa anda yang bernama Raya?”



“Emm, iya itu saya,” jawab Raya yang terlihat sedikit gugup.



Mengetahui jika tamunya itu adalah yang akan memakai jasa dirinya, wanita tersebut semakin membuka lebar pintu tersebut dan mempersilahkan Raya untuk masuk. Melihat keraguan Raya wanita itu meraih pergelangan tangannya dan menarik sedikit agar Raya masuk walau terpaksa.



“Tidak usah ragu, kalau sudah didalam lebih enak, kita mau hanya sekedar bicara atau pun melakukan hal itu lebih nyaman,” ujar wanita cantik tersebut. Lalu mempersilahkan Raya untuk duduk, “Silahkan,” ucapnya diringi senyum manis. “Apa kamu baru ini bermain dengan wanita penghibur seperti aku?” Tanya wanita itu lantang tanpa ragu, namun Raya tidak ingin menjawab hal itu.



“Baiklah jika kamu tidak ingin menjawabnya, kamu takut ketahuan istri kamu yah!”



”Kok kamu tahu aku sudah punya istri?” Tanya Raya balik membuat wanita itu tertawa. Wanita tersebut memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sebelum akhirnya menjelaskan dari mana dia bisa mengetahui hal itu. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Tania, setelah itu dia baru mengatakan bagaimana dia bisa tahu.



Jawaban Tania berhasil membuat Raya tertawa, Tania sangat ramah dan bisa membangun suasana menjadi lebih nyaman dirasa Raya. Dia mengajukan beberapa pertanyaan yang membuat Raya terus tersenyum mendengarnya, pertanyaan yang membuat pikirannya berkelana.



Tania terus mengajak Raya bicara sampai akhirnya dia bosan sendiri dan sedikit merajuk, “Ah kamu itu pria yang gak asik banget sih Ray, monoton tau,” ujar Tania yang membuat Raya diam sebentar.


__ADS_1


“Monoton! Maksud kamu?”



“Iya, ngobrol aja kamu gak asik sama sekali menurut aku, kamu hanya tertawa dan mendengarkan serta sedikit memberikan respon, aku gak tahu dengan wanita lain tapi jujur aku bosan berdua dengan kamu,” ujar Tania tanpa sungkan sedikitpun.



Mendengar pendapat Tania, Raya jadi ingin lebih tahu banyak lagi pendapat wanita itu tentang dirinya, apalagi dalam permainan, karena hal itu akhirnya Raya memutuskan untuk melakukannya bersama Tania namun dengan syarat.



“Gilak yah, baru kali ini loh aku dapat pengunjung seperti ini, apa syaratnya,” keluh Tania, namun dia tidak dapat berbuat banyak, dia juga ingin merasakan bagaimana rasanya pria membosankan yang ada di depannya itu, dia sempat berpikir jika mungkin gaya permainannya juga pasti akan sama.



“Aku hanya ingin tanggapan kamu setelah bermain dengan ku, aku yang akan mengendalikan permainan ini, kamu hanya membalasnya tanpa mengendalikan, bagaimana!” tukas Raya yang mencoba bernegosiasi dengan Tania.



“Yah aku mah oke saja deh Ray, yang penting aku dapat uang dan gak penasaran juga sama gaya permainan lo,” jawab Tanis santai.




Tania mengungkapkan hal itu langsung pada Raya, namun Raya berkata apa mungkin karena tidak ada rasa diantara mereka. Tania mengatakan apa yang harus dilakukan Raya agar dirinya sedikit bergairah dan pria itu pun melakukan apa yang diucapkan Tania, terlihat wajah Raya menikmati hal itu, namun Tania tidak merasakan apapun disana, hanya sedikit saja rasa geli. Raya mengatakan jika Tania coba untuk menikmati semua sentuhannya, diam dan rasakan saja sampai akhirnya Raya menyatukan tubuh mereka.



Tania kali ini hanya pasrah, apapun yang dilakukan Raya pada tubuhnya di biarkan, sambil sedikit mengamati semua gerakannya untuk dijadikan bahan. Setengah jam mereka melakukan hal itu, Raya mandi peluh dengan nafas yang terengah, sedangkan Tania hanya merasa panas di tubuh tanpa mengeluarkan keringat. Raya beristirahat dengan mencoba mengatur nafasnya, setelah dia mencoba gerakan yang memang sering dia lakukan jika bermain bersama Santi atau April.



Tania beranjak dari tempat tidur itu, dia membersihkan diri dan kembali setelahnya duduk di atas kasur empuk itu, “Gimana! Menurut kamu?” Tanya Raya masih dalam keadaan terbaring.



“Yah kamu bisa lihat sendiri ekpresi aku Ray, gerakan kamu itu-itu saja, apa ini gerakan yang selalu kamu mainkan dengan istri kau atau selingkuhan kamu?” Tanya Tania tanpa ragu.

__ADS_1



“Iya,”



“Kalau untuk istri kamu mungkin masih oke, karena dia akan menerima kamu bagaimanapun keadaan kamu, tapi jika untuk selingkuhan kamu sepertinya dia tidak akan puas hanya dengan itu,” ungkap Tania.



“Apa kamu yakin?”



“Banget, kamu coba aja tanya sama dia nanti.”



Setelah mendengar tanggapan dari Tania, Raya memikirkan semua ucapannya. Apa mungkin April rasa jika dirinya tidak bisa memuaskan April, sehingga dia lebih memilih Chiko kekasihnya itu daripada dia saat ini. Raya benar-benar mencoba untuk meresapi semua ucapan Tania dan akan dijadikan bahan pertimbangan untuknya jika bermain dengan Santi ataupun April, dan ia menyarankan agar Raya banyak belajar lagi berbagai macam gaya baik dari buku ataupun media online, karena menurutnya gayanya tidak akan membuat wanita merasa puas.



Raya mengucapkan rasa terima kasihnya atas tanggapan juga masukkan Tania untuk dirinya, setelah itu ia membersihkan diri, lalu dia pergi setelah memberikan uang tips untuk Tania juga ucapan rasa terima kasihnya kembali, karena sudah membantu Raya untuk introspeksi diri. Pria itu keluar dari kamar dan tempat tersebut, tanpa memberitahu temannya yang lain karena Raya berpikir jika saat ini mereka pasti masih sibuk dengan wanitanya.



Raya meluncur untuk pulang, dan kali ini dia benar-benar memutuskan untuk pulang kerumah tanpa mampir kemanapun. Pikirannya yang terus terganggu oleh April dan Chiko tadi kini menghilang, hanya ada keinginan untuk pulang saat ini, dia ingin cepat berada di tempat tidur dan merebahkan diri untuk beristirahat. Chiko selesai dengan makannya, suapan terakhir sudah mendarat dengan mulus dalam mulutnya.



Ada sedikit yang tertinggal di bibir bawah Chiko, perlahan April mendekat dan mengambil dengan bibir lembutnya. Pria itu diam membiarkan April sedikit menyentuh bibirnya itu, namun hal itu membuat sedikit desiran di tubuh Chiko.



“Kalau begini aku suka malas lagi untuk bekerja,” ujar Chiko.



“Maunya apa?” Pancing April.

__ADS_1



“Maunya kamu,” jawab Chiko manja yang membuat April tertawa tipis.


__ADS_2