SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
BIKIN DEG-DEGAN


__ADS_3

"What the …." Seru April saat melihat adegan itu di depan matanya.



April melihat adegan itu dengan mata yang membulat sempurna juga mulut yang sedikit menganga, namun ditutupi oleh telapak tangannya. Dalam benaknya dia memuji keberanian wanita itu, 'Berani banget dia.'



Chiko mendorong tubuh gadis itu lalu menghapus bekas bibir yang menempel di bibirnya, "Jaga sikap kamu Dwi, keluar dari sini sekarang!" Seru Chiko dengan nada tinggi dan wajah sedikit marah.



"Aku gak mau Chik, aku akan keluar sekarang, tapi aku akan tunggu kamu di ruangan," rengek wanita itu lalu pergi, sementara itu Chiko ngoceh memaki wanita itu.



"Kamu kasar banget sih Chik, jangan seperti itu sama cewek," ujar April membuat Chiko berjalan mendekat dengan tatapan tajam.



"Kasar kamu bilang! Lalu apa yang dia lakukan padaku itu tidak kasar?"



"Bukannya kamu senang dapat perlakuan seperti itu dari wanita!" Sindir April dengan mata yang dilempar ke arah lain.



"Menurut kamu aku tadi suka dengan dia dan sikapnya, apa kamu bisa bedakan mana yang suka dan tidak," ujar Chiko yang semakin marah dan semakin mendekati April sampai dia harus melangkah mundur agar tidak tertabrak.



"Aku gak selalu seperti itu Pril, apa yang ada di otak kamu itu aku selalu berbuat bejat dan melakukan hal itu, pikiranmu seperti nya harus digeser olehku Pril," tukas Chiko yang membuat akhirnya April terhimpit di sudut dinding.



April menelan salivanya perlahan, semakin Chiko terus mendekat semakin detak jantungnya bergerak cepat. Nafasnya sedikit berlari saat dia terus melihat mata tajam Chiko, dia tidak bisa membalas semua ucapan Chiko, dirinya seperti terhipnotis dengan tatapan itu.



"Aku tidak suka bibirku dikecup seenaknya dengan wanita yang aku sendiri tidak menginginkannya, yang aku mau kamu," ucapnya membuat jantung April semakin bergerak cepat.



Satu tangan kekar Chiko meraih pinggang rampingnya dan sedikit menarik tubuh itu hingga menempel padanya, lalu dengan cepat di memberikan \*\*\*\*\*\*\* beberapa kali di bibir lembut April yang membuat wanita itu tidak bisa menolak yang dilakukan Chiko padanya.



"Kita lanjutkan tar malam yah," bisik Chiko lalu nyelegos pergi ke tempatnya semula, dan membiarkan April sedikit tertegun akibat perbuatannya.



Saat Chiko sudah sampai di kursinya satu persatu peserta meeting memasuki ruangan, karena waktunya tinggal lima menit lagi. April menggelengkan sedikit kepalanya agar dia cepat tersadar, sambil melangkah mendekati Chiko dia terus berpikir kenapa dia bisa tidak berdaya jika berada dekat pria itu.


__ADS_1


Chiko melirik April saat wanita itu memberinya file yang dibutuhkan, "Sudah atur nafas?" Ejeknya yang hanya dijawab dengan bibir yang dibuat meruncing sedikit.



Meeting dimulai semua fokus dengan apa yang ada di hadapan mereka saat ini, sama halnya dengan Chiko dan April, mereka bersikap seperti layaknya Bos dan Asisten biasa, mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.



Dirumah keadaan Raya sudah mulai membaik setelah dia beristirahat, Raya bangun saat mendengar suara panggilan sholat siang. "Kamu sudah bangun Mas, baru saja mau aku bangunkan untuk makan siang," ujar Santi sambil membawa pakaian setelah disetrika Bibi.



"Emm, baru. Bagaimana Arya, apa dia sudah lebih baik?" Tanya Raya sambil dia beranjak dari tidurnya dan duduk di kursi yang ada di pinggir jendela.



"Sudah Mas, ini diminum dulu," Santi memberikan segelas air putih, Raya meraihnya dan meminumnya beberapa tegukan.



"Terima kasih," ucap Raya sambil memberikan gelasnya kembali pada Santi, "Kamu sudah beri kabar ke kantor?"



"Sudah tadi, beberapa pekerjaan serta meeting hari ini di cancel dulu sampai kamu sembuh nanti,"



"Emm baiklah, kalau begitu aku mandi dulu,"




Santi lalu mempersiapkan pakaian yang akan dipakai oleh Raya, setelah itu dia keluar dari kamar menuju dapur untuk mempersiapkan makan siang yang buat suaminya. Santi sudah memberi makan Arya anaknya dan saat ini Arya sedang bermain bersama Neneknya, jadi dia bisa melayani Raya dan makan bersamanya siang ini.



"Sudah keluar semua yah Bi?"



"Sudah Nyonya, tinggal minumnya saja,"



"Itu biar nanti saya saja, sekarang Bibi kerjakan yang lain atau temani Arya sama Mamah,"



"Baik Nyonya, saya pamit."



Santi mengambil air dingin dari lemari pendingin, Saat dia balik badan Raya sudah berjalan menghampiri dirinya , kemudian duduk di kursi meja makan. Wanita itu dengan sangat telaten melayani suaminya, piring serta makanan apa yang ingin dimakan diambilkan oleh sang istri setelah itu barulah diberikan kepada Raya di atas meja tepat di depannya.

__ADS_1



Mereka memang makan berdua, tapi Santi tidak merasakan kebersamaan yang hangat dengan Raya saat ini, padahal waktu seperti ini sangat langka untuk dirinya sebab Raya selalu saja sibuk dengan pekerjaannya walaupun itu terkadang hari libur.



Demi menepis kesenian yang ada pada, akhirnya Santi memulai angkat bicara cara agar suasananya menjadi lebih hidup di meja makan itu. "Setelah makan apa kamu ada rencana Mas?"



Raya menelan makanannya lebih dahulu sebelum akhirnya dia menjawab dengan gelengan kepala lalu berkata, "Belum tau, kenapa memangnya?"



"Emm, tidsk ada Mas, aku hanya tanya saja," jawab Santi dengan seutas senyum manis, tapi sayang suaminya sekarang sudah tidak mau menikmati semua senyum dan pelayanan yang Santi berikan.



"Apa kedua orang tua kamu ada? Apa kalian ada rencana mau pergi?"



"Tidak ada Mas, kenapa?"



"Apa Arya sudah benar-benar sehat?"



"Iya, alhamdulillah dari pagi dia sudah lincah dan main lagi, sekarang main sama Mamah,"



Baru saja Santi menuntaskan kata-katanya, terdengar teriakan dari Arya yang datang sambil berlari kecil menuju Ayahnya, "Ayah …." Teriaknya senang.



Arya memeluk Raya yang masih duduk menikmati makanannya, "Emm, anak Ayah sudah baikan kah?" Tanya Raya sambil mengangkat tubuh kecil itu dan mendudukan di atas pangkuannya, lalu memberikan kecupan singkat di pucuk kepala Arya.



"Sudah dong Yah, aku rasa itu karena makanan yang Ayah bawa semalam untuk aku, jadi pas pagi aku bangun aku semnuh deh," ujar Arya yang membuat Raya dan Santi tertawa.



"Oke, kalau begitu sekarang kamu tidur siang dan akan Ayah bangunkan nanti pukul empat, Ayah mau ajak anak Ayah ini jalan-jalan ke mall, mau belikan anak Ayah mainan yang banyak," kata Raya dan berhasil membuat Arya berteriak karena senang.



Anak itu turun dari pangkuan Raya lalu menghampiri Mamanya seraya berkata, "Mah ayo kita tidur, kalau nggak nanti Ayah gak jadi ajak aku," ajak anak itu antusias.



"Wah ada yang mau jalan-jalan nih, boleh ikut gak!" Ucap seseorang yang baru saja datang.

__ADS_1


__ADS_2