
Ditanya seperti itu mata Santi malah berkaca-kaca, “Sepertinya tidak Chik, aku merasa jika aku butuh pelukan,” jawab Santi sedikit terdengar lirih.
Chiko tersenyum, lalu dia merentangkan tangannya dan Santi langsung masuk dalam lingkar tangan Chiko. April sedikit terkejut melihat dua orang yang ada di depannya itu, hanya sekejap dia merasa terkejut dan setelahnya dia tahu serta mengerti jika Santi memang butuh pelukan seseorang.
Karena saat ini hanya ada Chiko di dekatnya, jadi wajar jika pria itu yang diminta memberikan sedikit rasa tenang untuknya. Namun bagaimanapun dia merasa agak sedikit rasa tidak suka melihat hal itu, dia sekilas membayangkan jika hal ini juga pernah ada dalam posisi dia serta Santi namun di posisi yang berbeda.
Chiko memberikan pelukan hangat pada Santi, beberapa saat mereka melakukan itu sampai Santi merasa jika dirinya sudah sedikit tenang. Air mata yang menetes di pipinya di seka setelah pelukan itu dilepas, Santi tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Makasih Chik, gua udah lebih baik," ucap Santi.
Chiko meletakkan tangannya di atas pundak Santi dan menatap mata indahnya, "Hei, apapun yang lo butuhkan bilang, gua bakal temani lo melewati semuanya dan gua tau kalau lo bisa, kuat!" Ucap Chiko.
Seulas senyum tipis terlihat diwajah Santi, "Makasih yah, tolong jelaskan nanti sama April sial pelukan tadi, aku gak mau ada salah paham," ujar Santi membuat Chiko tertawa.
"Apa sih San, gua yakin gak usah dikasih tahu juga dia paham kok," jawab Chiko lalu menoleh ke arah April lalu tersenyum, senyum balasan diberikan April dan itu membuat Santi merasa lega.
Dia masuk setelah melambaikan tangannya ke arah April, Chiko tetap berdiri di tempatnya sampai Santi menutup pintu lalu dia kembali ke dalam kendaraan. Pasangan serasi itu langsung meluncur kembali menuju arah pulang, Chiko melihat sesuatu yang janggal saat dia melirik ke kaca spion.
Chiko melihat raut wajah April sedikit berbeda dengan yang tadi, dia berpikir apa mungkin kekasihnya itu cemburu dengan kejadian yang tadi. Pikiran jahilnya pun muncul, dia berniat mengejek pacar kesayangannya itu.
"Kenapa wajah kamu begitu Pril, jangan bilang kalau kamu cemburu tadi lihat aku sama Santi!"
April menghela nafas dan itu terdengar jelas oleh Chiko, namun dia tidak memberikan jawaban. April berpikir jika dia mengatakan perasaan dia yang sebenarnya Chiko akan meledeknya, jadi dia memilih diam.
"Emm, kalau diam berarti iya kamu jealous dengan kejadian tadi, dan kamu tahu gak kalau aku senang," ejek Chiko.
__ADS_1
'Benarkan dia malah meledek, dasar! Tau aja lagi kalau aku cemburu, tapi kan dikit wajar dong,' batin April.
"Kalau kamu diam aja aku gak akan bawa kamu pulang!" Seru Chiko yang berhasil membuat April menoleh dan menatapnya tajam.
Chiko tertawa melihat reaksi April yang spontan itu, "Kamu itu, memangnya mau bawa aku kemana kalau gak bawa aku pulang?"
"Kemana lagi, kerumah aku lah dan akan aku buat kamu puas sampai lemas," gurau Chiko yang membuat April semakin kesal namun hal itu kembali buat Chiko tertawa, "jawab pertanyaanku yang tadi sayang?"
"Iya, aku cemburu tapi sedikit, aku tidak suka melihat kamu memberikan kenyamanan pada wanita lain selain aku, yah walau dalam kasus Santi aku tahu dan sangat paham tetapi hatiku tidak bisa dibohongi," jawab April dengan raut wajah yang ditekuk.
Chiko tersenyum tipis, satu tangannya bergerak membelai lembut pucuk kepala April seraya berkata, "Iya maaf dan itu hal yang wajar kok, dan seperti yang kamu tahu kalau aku melakukan itu karena Santi bilang kalau dia butuh pelukan," ujar Chiko.
"Iya pasti, dia sudah melewati hari yang berat," balas April.
"Lalu kamu jawab apa?"
"Yah aku jawab kalau kamu tidak usah diberitahu juga sudah paham dan tau," jawab Chiko.
\*\*\*
Raya langsung membawa Intan ke kediamannya, wanita itu hanya bisa duduk pasrah melihat keras hatinya Raya. Terlihat jelas di wajah Raya rasa kesal yang masih menyelimuti dirinya, dan Intan tidak suka akan hal itu.
"Ray, bisa gak kamu jalannya jangan seperti ini, bahaya dan aku gak suka!"
__ADS_1
"Aku kesal sama kamu Tan, kamu menyemangati aku di awal tapi kamu malah menolak aku saat mereka tidak ada, maksud kamu apa?" seru Raya.
"Kamu pikir deh Ray, kalau aku menolak kamu didepan mereka apa mereka tidak akan semakin besar kepala melihat kamu ditinggal, aku hanya sekedar membantu kamu Ray," jawab Intan.
Raya berpikir sejenak jika apa yang diucapkan Intan itu ada benarnya juga, "Itu berarti kalau penolakan kamu ini tidak bohong, kamu benar menolak aku Tan? Dan apa itu semua karena kamu dengar tadi jika Santi akan mengeluarkan aku dari perusahaan!"
"Aku malas menjelaskan Ray, tapi kamu tahu kan kalau aku melakukan apapun itu karena uang dan dengan keadaan kamu nanti aku memang sedikit sangsi jika kamu bisa memberikan aku seperti biasa yang kamu beri," sindir Intan mengena di hati Raya.
"Kamu parah Tan, aku sudah banyak memberi kamu dan bahkan aku sudah merasa nyaman sama kamu, tapi ternyata aku salah, kamu melakukan semua itu benar-benar hanya karena uang!" Seru Raya dengan nada sedikit tinggi.
Intan menghela sedikit nafasnya, dalam benaknya dia juga mengakui perasaan yang sama pada Raya. Tetapi dia juga tidak ingin ikut miskin seperti Raya nanti, dia berpikir logikanya saja, selama ini yang dicari memang uang dan itu penting untuk menunjang semua kebutuhan hidupnya.
Di kendaraan lain Chiko dan April masih saling ejek, Chiko benar tidak membawa April pulang ke rumah kecilnya. Dia membawa wanita itu ke apartemen mewahnya, Chiko berkata jika dia ingin menebus rasa kesal April dia ingin membuat rasa itu hilang darinya dengan memberikan cinta.
Santi sudah melihat seisi rumah dalam keadaan gelap saat dia masuk, dia berpikir mungkin hari-hari sepi serta sunyi seperti ini yang akan dilewati nanti. Tetapi dia tetap membuat dirinya berpikir jika keputusan itu yang terbaik untuk dirinya juga Raya, dengan langkah sedikit gontai dia masuk ke kamar dan mencoba untuk beristirahat.
Karena masalah tadi obrolan Raya dan Intan semakin memanas, Raya yang tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Intan menekan Intan. Raya ingin Intan terus bersamanya karena jujur dia tidak bisa hidup tanpa seorang wanita berada disisinya.
Perdebatan panas itu terus berlanjut sampai membuat mereka sangat emosi, Raya yang sudah tidak bisa mengendalikan diri membuat kendaraannya melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak terarah. Hal itu membuat Intan ketakutan dan terus berteriak.
"Mas hentikan!"
Teriakan itu terus terdengar, sampai akhirnya menghilang saat kendaraan tersebut menabrak sebuah pembatas jalan yang membuat badan kendaraan tersebut remuk di beberapa bagian.
__ADS_1
"AKH!"