
Raya tidak menyadari kehadiran mereka karena matanya terus melihat ke arah Intan yang sudah membuatnya gila, “Halo Mas,” tegur Sinta dengan tatapan tajam.
Raut wajah terkejutnya Raya tidak bisa ia sembunyikan, Raya langsung melepaskan rangkulannya dari tubuh Intan. Melihat reaksi Raya yang sangat terkejut melihat kedatangan wanita yang ada di antara mereka, Intan menerka jika wanita itu adalah Sinta istri dari Raya dan Intan benar dengan fillingnya.
Intan bergerak selangkah mundur, tidak ada rasa takut dalam dirinya saat ini. Dia hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan Raya, Intan melirik ke arah April juga Chiko. Mata April bertemu dan tatapan nanar diberikan April pada Intan, dan Intan sudah biasa mendapatkan tatapan seperti itu.
Berbeda dengan wanitanya, Chiko menatap Intan biasa saja bahkan dia memberikan senyuman tipis yang dibalas oleh Intan. April melihat itu dan dia langsung memberikan hukuman atas kegenitannya Chiko tersebut, Chiko kena sikutan April yang sedikit keras. Pukulan itu sempat membuat Chiko sedikit meringis sambil memegangi perutnya.
“Aku hanya ingin bersikap ramah Pril,” tutur Chiko.
“Ramah pada tempat yang salah, apa yang kamu lakukan itu bukan ramah tapi genit,” ketus April.
Sementara mereka sedikit ribut, Raya dan Santi masih saling tatap. Raya menelan salivanya saat melihat Santi bisa berada di tempat seperti itu, otak kang bajajnya pun langsung bekerja. Raya mencoba membalikkan keadaan yang tidak baik terlihat pada diri Santi, Raya menanyakan kenapa dia bisa berada di tempat itu.
“Sepertinya pertanyaan itu yang harus aku tanyakan padamu Mas,” jawab santai Santi.
“Kenapa kamu malah tanya aku balik, kamu sudah berkeluarga dan kamu tidak pantas berada di tempat seperti ini San, apa kamu tidak khawatir dengan keadaan Arya di rumah, bagaimana dia tidur nanti dan lain sebagainya,” ujar Raya yang mencoba untuk membuat Santi merasa bersalah.
“Hal yang sama aku pertanyakan pada kamu Mas, apa kamu memikirkan aku sebagai Istri kamu yang selalu menunggu kamu pulang sampai ketiduran, sedangkan kamu malah enak-enakan bersenang-senang bersama wanita yang nggak jelas seperti ini,” jawab Santi lalu melirik ke arah Intan dengan tatapan sinis.
Intan hanya tertawa tipis karena dia sudah sangat terbiasa dengan tatapan serta kata-kata yang menghina dirinya. Dia gak akan ambil hati apa yang baru saja dilakukan Santi padanya, dia hanya merespon santai. Hal itu membuat April yang melihatnya merasa geram, ‘Batu nih cewek!’ batin April sambil melihatnya tajam.
__ADS_1
“Kita pulang dari sini!” kata Raya sambil menarik tangan Santi hendak membawanya pergi, tetapi sayang Santi langsung menepis tangan Raya seraya menjawab, “kalau kamu mau pulang silahkan, tapi aku tidak akan pulang denganmu. Dan sejak saat ini aku tidak mengijinkan kamu pulang kerumah besar.”
April dan Chiko tersenyum senang, karena ternyata Santi bisa berkata seperti itu juga pada Raya. ‘Good girl.’
“Maksud kamu aku di usir?”
“Kata-kata aku sepertinya sangat jelas Mas, semua barang kamu akan aku kirim nanti, atau kalau kamu sempat silakan hubungi aku kapan kamu bisa ambil dan surat perceraian kita akan segera menyusul,” tukas Santi lalu balik badan dan pergi.
Raya terlihat shock, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia diam mematung sambil melihat kepergian Santi, April hendak menghentikan Intan namun Chiko menahannya. Tetapi April mengatakan dia tidak akan melakukan apa-apa, April terus berjalan dengan tatapan tajam ke arah Intan. Intan yang masih berdiri diam santai tidak terlihat takut sama sekali, saat April berjalan mendekatinya.
“Ambil dia sepenuhnya dan layani dia selalu dengan baik, agar dia tidak melakukan hal yang sama saat dia bersama kamu nanti,” ucap April pada Intan dan wanita itu hanya merespon dengan senyuman tipis.
“Tidak ada, hanya sedikit memberinya saran saja, agar dia melayani kamu dengan sangat baik,” jawab April sambil tersenyum, lalu dia pergi menyusul Santi.
Chiko yang kini berada di hadapannya, “Ini terakhir kali lo nyakitin Santi, kalau lain kali lo coba deketin dia lagi, habis lo sama gua!” ancam Chiko dengan tatapan yang seperti pisau yang langsung menghujam ke arah jantung Raya, sama seperti April, dia langsung pergi menyusul dua bidadarinya.
“Akh sial!” teriak Raya sambil memukul angin.
Senyum dengan berbagai arti terlihat di wajah Intan, dia mendekati Raya lalu memeluknya. Intan mencoba menenangkan Raya dan dia berharap pelukannya itu bisa membuat Raya merasa sedikit tenang. Setelah pelukan itu terlepas Intan mengapit wajah Raya dengan kedua tangannya seraya berkata pelan, “Tenanglah, aku tau kalau kamu bisa melewati semuanya dengan sangat baik dan tegar.”
Raya tersenyum, dia senang melihat serta mendengar ucapan Intan padanya. Entah kenapa tapi Raya merasa apa yang dilakukannya pada Raya adalah hal yang bisa membuat Raya merasa baik-baik saja, Raya mengucapkan banyak kata terima kasih untuk Intan. Raya merasa tidak mungkin dia akan setenang ini jika tidak ada Intan, jika bukan Intan wanita yang bersamanya saat ini.
__ADS_1
“Aku butuh kamu Tan, kamu ikut pulang bersamaku ke rumahku yah,” ucap Raya.
“Aku akan temani, tapi kalau untuk bermalam sepertinya aku tidak akan bisa,” jawab Intan yang menolak ajakan Raya.
Mendengar penolakan Intan dia tidak bisa terima hal itu, Raya terus memaksa Intan agar mau menemani dirinya malam ini. Bahkan dia menawarkan uang yang lebih besar tetapi Intan tetap menolaknya, dia berkata bukan masalah uangnya, tapi dia tidak mau berada dalam kericuhan rumah tangga Raya saat ini.
“Aku tidak ingin dicap pelakor Ray,”
“Tidak akan ada hal seperti itu Tan, aku bisa pastikan hal tersebut,” jawabnya dan berharap kalau Intan bisa mempercayainya.
“Maaf banget Ray, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu, aku sudah ada janji,” balas Intan yang langsung hendak pergi namun berhasil di tahan oleh Raya.
Raya membuat tubuh mereka saling berhadapan, Raya mencengkram tubuh Intan seraya berkata, “Kamu mau meninggalkan aku seperti Santi! Tidak semudah itu sayang,” tukas Raya.
Raya membawa paksa Intan, dia membawa wanita cantik itu apartemennya. Walau Intan terus meronta dan berteriak tapi Raya tetap memaksa, sampai tubuhnya masuk ke dalam mobil dan dibawa pergi dari tempat itu. Santi diantar sampai rumah oleh Chiko dan April, dan selama dalam perjalanan Santi diam dengan memandang lurus keluar jendela.
April ingin ajak bicara dan membuat dia sedikit terhibur, namun Chiko berkata agar April jangan melakukan itu karena Chiko merasa jika saat ini Santi akan lebih baik jika dia diam. April mengikuti saran Chiko, dia hanya sesekali melirik ke arah wanita yang saat ini menjadi dekat dengannya itu.
Sampai di depan pintu rumah depan, Sinta keluar dari kendaraan Chiko. Chiko keluar namun minta April untuk menunggu saja di dalam. “San, apa kamu yakin kalau kamu baik-baik saja?”
Ditanya seperti itu mata Santi malah berkaca-kaca, “Sepertinya tidak Chik, aku merasa jika aku butuh pelukan,” jawab Santi sedikit terdengar lirih.
__ADS_1