SUAMIMU SIMPANANKU

SUAMIMU SIMPANANKU
HARI SIBUK


__ADS_3

Raya terus mengeluarkan emosinya dalam perjalanan pulang itu, menurutnya mungkin hal itu akan membuat dirinya lebih baik. Sampai dirumah ternyata perasaannya itu hanya sedikit lebih baik, sampai kamar Raya langsung masuk kamar mandi tanpa menyapa Santi yang ada di sana.



Santi melihat sedikit heran, namun kemudian dia bersikap seperti biasa, Santi berpikir mungkin itu karena masalah di kantor atau dia sedang merasa sangat lelah, jadi dia bersikap seperti itu.



Wanita itu duduk santai dengan menyilangkan kakinya, sambil melihat layar ponsel Santi terlihat serius. Saat Raya keluar dia melihat Santi sangat fokus dengan ponselnya, Raya membiarkan, dia pergi untuk berpakaian.



Santi baru sadar jika Raya sudah keluar dari kamar mandi saat mendengar suara pintu lemari tertutup, dia meletakkan ponselnya dan berdiri mendekati Raya.



"Kamu gak ke kantor Mas,"



"Ini aku mau kesana, tolong tasku," pinta Raya, Santi mengambil tas yang dimaksud, lalu meletakkannya diatas meja, sementara itu Raya masih merapikan diri, "Tadinya aku mau langsung ke kantor, tapi tas ini malah ketinggalan disini," ujarnya, lalu dia meraih tas itu dan berpamitan.



"Gak mau sarapan dulu?"



"Nanti saja disana, satu jam lagi aku ada meeting dengan Pak Jaya rekannya Papa," jawab Raya, lalu kembali mengatakan pamit.



Santi mengikuti dari belakang, dia mengatakan jika dia perlu bicara dengan Raya mengenai pesta ulang tahun Arya nanti dan Santi minta waktu untuk bicarakan hal itu.



Namun Raya mengatakan jika hal seperti itu diserahkan semua pada Santi, karena yang tahu mengenai hal itu adalah wanita, "Aku tunggu bagaimana nanti saat acara saja, aku harus mengenakan apa dan harus bagaimana, masalah apapun itu aku harap kamu bisa urus," ujar Raya.



"Tapi aku butuh pendapat kamu Mas,"



"Oke, tapi saat ini aku tidak bisa, malam ini aku pulang malam mungkin, soalnya malam nanti aku akan pergi dengan sahabatnya Papa kamu, dan gak tau juga nih pulang atau tidak, nanti aku kabari lagi,"


__ADS_1


"Baiklah,"



"Emm Papa ikut gak yah malam nanti, kalau ikut nanti kamu telepon aku yah,"



"Baik Mas, kamu hati-hati,"



"Emm, salam sama Arya, saat break makan siang nanti aku akan video call, kamu standby sama Arya yah."



Raya kembali keluar dari rumah itu, dia masuk ke dalam mobil dan melaju kencang menuju kantornya. Raya bisa bernafas lega, karena saat tadi di rumah dia berusaha sekuat mungkin menahan emosinya, apalagi saat di depan Santi.



Hari ini banyak tugas yang harus dikerjakan, banyak pekerjaan yang harus dilakukan bahkan sampai malam hari sudah ada jadwal. Raya berharap jika semua pekerjaan yang menumpuk itu bisa menghilangkan rasa kesal, dan kecewa dirinya pada ada Chiko, April dan dirinya sendiri.



April juga hari ini banyak pekerjaan, namun Dito selalu membantu dirinya mengerjakan semua tugas yang didapat dari Chiko. Bukan hanya karena Dito juga diperintahkan berduet dengannya, tapi Dito memang suka membantu pekerjaan April.




"Iya, kalau soal itu gua tahu, tapi dia belum kabarin gua lagi sih," jawab April setelah dia berpikir sejenak, jika Dito menanyakan hal itu berarti kepulangan Chiko belum ada yang mengetahuinya. April juga berpikir, jika mungkin Chiko melakukan hal itu karena dia ingin melepas lelah satu hari dengan beristirahat.



Jadi April tidak mengatakan yang sebenarnya pada Dito, kalau Chiko sebenarnya sudah pulang sejak pagi tadi. Waktu break siang datang, Dito menghentikan pekerjaannya, dia pamit pada April untuk makan siang bersama temannya yang lain.



Setelah Dito pergi April meraih ponselnya, lalu duduk santai dan menghubungi Chiko, dia ingin tahu kabar pria itu, apa sudah banguan atau masih terlelap. Satu kali dihubungi masih belum di jawab, yang kedua kali dijawab dengan nada nafas yang terengah.



"Kamu kenapa Chik?" Tanya April yang merasa heran dengan bicara Chiko yang terengah-engah.



"Iya sorry, aku tadi habis kejar tukang sayur," jawabnya yang membuat April terkejut, "Apa! Tukang sayur, kamu ngapain kejar dia, memangnya ada apa sampai kamu ngejar dia seperti itu?" Jawab April dengan nada yang khawatir.

__ADS_1



Chiko tertawa dan bilang kalau April tidak usah khawatir, bukan masalah apa-apa, hanya ada yang mau dibeli oleh Chiko dan saat Chiko melihat tukang sayur itu sudah melintas, jadi dia berlari kejar biar gak ketinggalan.



"Memangnya kamu mau beli apa di tukang sayur?"



"Aku mau masak," sahut Chiko membuat April kembali sedikit terkejut. Obrolan mereka berlanjut seputar masakan, Chiko menanyakan makanan apa yang disukai oleh April, karena hari ini dia akan memasak makan malam untuk April.



Wanita itu meragukan keterampilan masak Chiko, karena selama ini dia tidak tahu jika Chiko bisa masak. Jadi dia tidak mengatakan makanan apa yang ingin dimakannya saat ini atau yang disukainya, mendengar jawaban April akhirnya Chiko mengatakan jika dia akan tetap memasak, tapi April harus memakannya saat dia pulang kerja nanti.



Mendapat ancaman seperti itu akhirnya April mengancam Chiko balik, jika ternyata masakannya itu tidak enak maka Chiko harus membawa April ke rumah makan mewah malam itu juga. Persyaratan yang dilemparkan April disetujui langsung oleh Chiko, dia merasa sangat percaya diri dengan hasil masakannya nanti.



Perbincangan yang menggemaskan itu akhirnya diakhiri April, karena saat ini dia harus mencari makan siang, lalu dia harus kembali bekerja. Chiko yang berada di rumah langsung memilih makanan yang akan dia buat, dia melihat dari ponsel, kira-kira makanan apa yang cocok untuknya malam ini.



Sore menjelang, semua sudah mulai mempersiapkan diri untuk pulang, meja kerja dirapikan juga sekitarnya. April hari ini pulang pukul lima, dia mengabari Chiko jika dirinya akan lembur satu jam.



"Emm, oke. Kenapa cuma lembur satu jam sih, kalau lembur itu sampai jam delapan atau sembilan itu baru dikatakan lembur," ujar Chiko membuat April sedikit kesal dibuatnya, seolah dia ingin April tidak pulang cepat.



"Yah sudah, kalau begitu aku pulang jam dua belas aja," gerutu nya yang membuat Chiko akan merasa gemas jika melihat ekspresi nya April, Chiko tertawa mendengar jawaban April, dia langsung minta maaf padanya, karena Chiko tidak ingin membuat wanita itu marah.



Pukul enam sore April sudah sampai di halaman rumah, kedatangannya disambut Chiko yang terlihat keluar saat dia membuka pintu mobilnya. Senyum manis terlihat di wajah Chiko, sambutan hangat itu memberikan rasa yang berbeda lagi dalam hubungan mereka.



"Welcome home Beb," tutur Chiko sambil merentangkan tangannya agar April masuk dalam pelukannya.



"Wah aku disambut," seru April, lalu dia masuk dalam dekapan Chiko, "So sweet, makasih yah," timpalnya setelah berada dalam dekapan hangat Chiko.

__ADS_1


__ADS_2