
"Rasa bibir kamu yang manis ini salah satunya yang membuatku slalu rindu." Ucap sosok tersebut.
Dia kembali melakukan hal yang sama pada bibir April, dia melakukannya sampai akhirnya membuat April bergerak dan terkejut bangun. April langsung mendorong tubuh sosok itu sambil berteriak, sosok itu pun tersungkur beberapa langkah karena April mendorongnya dengan sangat kencang.
Wanita itu segera meraih benda apapun yang ada di dekatnya untuk dihantam pada sosok tersebut, saat tangan April sudah menggenggam sapu lidi yang biasa digunakan untuk membersihkan kasur dan hendak di pukulkan ke arahnya, sosok itu berteriak.
April menghentikan gerakannya saat sosok itu menyebutkan namanya, dia menatap tajam dan waspada saat sosok itu melangkah pelan menuju sekring listrik untuk menghidupkan lampu kamar April.
Lampu menyala, sosok itu balik badan dan berhasil membuat April tercengang, "Raya!"'serunya, lalu dia melempar sapu itu ke tempat asalnya. April duduk malas di atas tempat tidur, dia menghela nafas sambil melirik Raya yang jalan mendekat.
"Ngapain kamu seperti tadi, untung saja aku tidak teriaki maling," salak April dengan wajah kesalnya
"Maaf, maksud aku tadi hanya memberikan kejutan sama kamu, tahunya malah seperti ini," jawabnya lalu duduk disamping April.
"Iya berhasil memang, kamu benar-benar sudah membuat aku sangat terkejut," sindirnya lalu menghembuskan nafas kasar, "Kamu belum jawab pertanyaanku, maksud kamu apa melakukan hal seperti tadi?"
"Aku hanya ingin bermalam disini,"
"Kenapa kamu gak kabarin aku dulu, kenapa langsung datang dan seperti ini pula lagi,"
"Aku memang sengaja gak kabarin dulu, biar kamu merasa terkejut seperti kataku tadi,"
"Gak lucu tahu, Kamu sudah buat aku kesal dengan tindakan kamu seperti ini, kamu juga udah ganggu waktu istirahat aku," gerutunya, karena rasa kesalnya belum pergi.
Raya menghela nafas, dia tahu jika dia salah dan langsung minta maaf, namun April masih saja jengkel. Raya memeluknya, walau April meronta minta dilepaskan, namun Raya tetap memeluknya sampai wanita itu menjadi sedikit tenang.
__ADS_1
Merasa deru nafas April sudah membaik, Raya melepaskan pelukannya, dia melihat wajah April yang mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun Raya membuat wajah itu menatapnya dan langsung memberikan \*\*\*\*\*\*\* di bibir April.
April melakukan perlawanan namun \*\*\*\*\*\*\* Raya membuat dinding perlawanannya itu runtuh perlahan, lama kelamaan wanita itu menikmati kecupan yang dulu pernah membuatnya sangat terbuai.
Raya terus melakukannya sampai dia membaringkan tubuh April pelan tanpa melepaskan \*\*\*\*\*\*\* tersebut, mereka sama-sama menikmati apa yang mereka lakukan saat ini.
Gumam dan desah pendek mereka mulai terdengar, semakin malam mereka semakin terlena dalam permainan tersebut. Tangan Raya yang sudah mulai sedikit nakal dibiarkan April, dia juga sedikit merindukan sentuhan yang dulu pernah dirasakan dan sampai saat ini terus teringat dalam kepalanya.
Hanya sebatas itu April mengizinkan Raya menyentuh tubuhnya, hanya sebatas wajar yang sewajarnya. Walau Raya meminta dia tetap dalam pendiriannya, April menahan gerakan tangan Raya yang ingin memasuki daerah intinya.
"Kenapa?" Rengek Raya yang saat ini masih diatas April.
"Kamu sudah tahukan jawabannya," jawab April tegas dan berhasil membuat Raya melepaskan tangannya juga beranjak dari rebahannya lalu duduk.
"Iya, tapi kamu tahukan apa isi dari kesepakatan yang sudah kita buat," jawab April yang membuat Raya langsung menoleh dan menatapnya dengan sedikit tajam.
"Kamu sengaja kan melakukan hal itu, kamu tahu jika waktu itu aku tidak bisa meninggalkan keluargaku, karena itu kamu membuat aku tidak bisa memenuhi keinginanku itu," ungkapnya dengan nada yang sedikit sudah meninggi.
April duduk dan bergerak mendekati Raya, "Kamu kenapa seperti ini sih, Santi dan sangat baik dengan kamu, kenapa kamu malah mengkhianatinya, apa kamu tahu apa konsekuensinya!"
"Iya, kalau masalah itu sepertinya semua juga sudah tahu apa konsekuensi dari apa yang aku lakukan ini, tapi aku akan berusaha agar apa yang aku lakukan ini tidak ketahuan oleh Santi dan keluarganya," ungkap Raya, lalu dia menoleh serta menatap April dengan wajah yang merasa tertekan, seperti ada yang disembunyikan oleh Raya, "Dan sepertinya apa alasan aku melakukan semua ini tidak perlu diketahui orang, cukup aku saja," jelasnya.
"Ray, semua yang kamu lakukan ini salah,"
"Aku tahu, tapi apa kamu pernah lihat dari sudut pandang aku, pasti ada alasannya dong kenapa aku melakukan ini, bahkan aku sampai sangat serius untuk menikahi kamu dulu, sampai sekarang malah," jawabnya, lalu kini terlihat raut wajah sedih dan penuh harap.
__ADS_1
"Iya, tapi mau bagaimana masalahnya yang ada dalam rumah tangga kamu, kamu gak seharusnya berbuat ini, kamu bisa membicarakannya bahkan menyelesaikan bersama Santi."
Terlihat senyum tipis, yang seolah menjawab bahwa apa yang diucapkan April itu tidak akan mungkin, Raya sudah merasa tidak akan ada harapan ke arah sana.
"Maaf Pril, tapi aku tidak ingin orang siapapun bahkan kamu mengetahui alasan dibalik semua yang sudah aku lakukan,"
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Silakan,"
"Selain denganku, apa kamu bermain juga dengan wanita lain?" Tanya April yang membuat Raya menoleh dan menatap dalam mata April, "Menurut kamu bagaimana?" Tanya balik Raya.
April beranjak dari duduknya dan berjalan ke pinggir jendela, "Yah aku tidak akan pernah tahu masalah itu, karena itu aku bertanya, karena jujur aku sangat ingin mengetahuinya," jawab April sambil memandang jauh keluar jendela.
Raya beranjak juga dari tempat tidur itu, lalu dia melangkah dan mendekati April kemudian memeluknya seolah ingin melepaskan kegalauan hatinya, dengan mendekap April erat dan membuat wajahnya berada di atas bahu wanita itu.
Raya menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia menjawab, "Terserah kamu mau percaya ucapanku atau tidak, selama ini aku hanya menjalin hubungan diluar dari Santi itu hanya sama kamu, hubungan yang membuat aku merasa nyaman dan tidak membuat aku merasa tertekan."
Mendengar jawaban Raya, April sedikit mengerutkan dahinya, saat pria itu mengatakan kalimat terakhir. "Maksud kamu, selama menikah dengan Santi kamu merasa tertekan gitu! Tapi kok yang aku lihat tidak seperti itu Ray," ucapnya.
Raya tersenyum dan berkata, "Kami memang saling suka, aku juga sangat mencintai keluarga kecilku apalagi Arya anakku, aku bahagia hidup bersama mereka, tapi dibalik itu semua ada beberapa hal yang kami sembunyikan dari orang luar lingkungan kami," ungkap Raya.
April tahu jika dia tidak berhak bertanya lebih lanjut, dia juga harus menghargai privasi Raya, jadi dia tidak ingin juga terlalu memaksa. Raya melepaskan pelukannya, lalu dia membuat dirinya dan April saling berhadapan.
"Aku hanya ingin kamu yang menjadi melepas penatku," ungkap Raya.
__ADS_1